Cerpen karebaindonesia.id edisi 11 Oktober 2020

Komala Sutha

Baru satu bulan Desi mengenal Bakti, namun ia tampak nyaman berkawan dengan lelaki itu. Kerap kali Bakti menemui ke rumah kontrakannya, tentunya setelah ia mengundangnya terlebih dahulu. Bakti tipe lelaki sopan, namun doyan berkelakar dan terlebih  banyak meluangkan waktu untuk menemani jika Desi membutuhkan.

Meskipun Desi sudah memiliki dua kekasih, namun tak segan-segan ia menerima kehadiran Bakti. Tentunya, kedekatan mereka hanya sebagai kawan.  Desi cantik dengan kulit putih bersih. Tubuhnya padat. Kalau Bakti membandingkan dengan gadis-gadis lain, Desi jauh lebih cantik. Malah di fakultasnya bisa dibilang tercantik dan terseksi.

Dua kekasih Desi; yang satu Bian, mahasiswa filsafat, anak semester tiga di kampus yang sama. Ia berasal dari Jakarta. Tinggi, tampan, putih dan setia. Yang satu lagi, Ivan Sitorus, mahasiswa Teknik dari perguruan tinggi lain, berasal dari   Medan. Raut mukanya cukup ganteng namun terkesan rada sangar, guratan Batak kentara dari wajahnya. Tinggi, tegap dan kulit sawo matang. Penyayang, perhatian tapi agak cemburuan. Semua lelaki yang dekat dengan Desi, maka akan dicemburuinya. Kecuali pada Bakti.

Sementara Bakti, wajahnya tak begitu tampan. Namun kharismatik apalagi jika sedang tersenyum. Peduli sama banyak teman, serta pintar main banyak alat musik. Ia kuliah di jurusan musik sementara Desi jurusan seni tari. Dua-duanya mahasiswa baru di fakultas seni dan bahasa.

“Kau tidak pacaran sama Bakti, kan?”  Nia, sahabat Desi berseloroh ketika bertemu di kelas. Dibanding dengan dua kekasihnya, Desi lebih sering kelihatan jalan dengan Bakti. Justru dengan Bian atau Ivan jarang terlihat bersama. Lebih pada pacaran sembunyi-sembunyi. Itu memang sengaja diatur oleh Desi. Begitu resiko yang memiliki kekasih lebih dari dua dimana dua-duanya tinggal dalam satu kota.

“Apa kami terlihat seperti sepasang kekasih?” Desi mengangkat kedua telapak tangannya.

“Kalian  sering bikin janji ketemu berduaan,” jelas Nia. Desi tertawa. Bakti sosok kawan yang membuatnya nyaman. Responsif dan pembeli solusi terbaik. Jika teman-teman lain berasosiasi negatif padanya karena memiliki dua kekasih, namun Bakti lain menanggapinya. Menurut Bakti, jangan memberi kesetiaan penuh pada seorang lelaki dan cinta itu patut dibagi. Begitu filosofi Bakti. Lelaki itu dapat dipercaya dalam menyimpan rahasia. Hanya Bakti yang tahu kalau Desi anak seorang garong yang tengah diburu polisi. Tiba-tiba saja Desi membuka tabir rahasia ayahnya. Pada awalnya Bakti sedikit kaget, namun kemudian dengan tenang menyikapinya. Menurutnya, semua orang punya profesi untuk menafkahi keluarganya.  Garong mungkin profesi yang dipilih ayah Desi. Dan setiap pilihan profesi, kita wajib menghargainya.

“Jadi kau tak keberatan berteman denganku, setelah tahu ayahku garong?” tanya Desi ingin meyakinkan ketidak-beratan Bakti. Lagi-lagi Bakti menggeleng.  Bebannya yang menghimpit selama ini sedikit ringan setelah menumpahkan pada orang yang tepat. Jika ada teman yang tahu akan hal itu, sudah pasti ia akan dicibir, dikucilkan dan mungkin saja dikeluarkan dari tempatnya kuliah.

Desi pandai mengatur jadwal kunjungan dua kekasihnya agar tak datang bersamaan. Semua dijalani aman-aman saja. Lalu jika ia suntuk sendirian di rumah kos, segera ditelepon Bakti untuk menemaninya. Bakti sedang tak punya kekasih. Konon, cintanya kandas sebulan sebelum dekat dengan Desi. Gadis yang bernama Indah, gadis cantik mungil berjilbab, memutuskan sepihak hubungan asmaranya dengan Bakti. Alasan yang sangat menyakitkan hatinya sebagai seorang lelaki yang sangat menjaga kesetiaan pada kekasihnya. Indah dijodohkan dengan lelaki mapan pilihan orang tuanya. Bakti benci ingat ayah Intan yang tak pernah merestui hubungan dengan anaknya hanya karena Bakti masih kuliah dan belum memiliki penghidupan yang layak.

Pukul delapan malam Kamis. Bakti tiba di rumah kos Desi. Desi menyambutnya dan mereka berdua ngbrol di ruang tamu. Tak seperti mahasiswa pendatang lain, tempat kos Desi bukan hanya sebuah kamar yang di dalamnya hanya tempat tidur, lemari pakaian dan meja belajar dengan ukuran kamar yang tak luas. Desi menyewa sebuah rumah mungil tentunya dengan biaya sewa perbulan cukup mahal untuk ukuran mahasiswa. Selain sebuah kamar yang luas, juga memiliki ruang tamu yang luasnya dua kali lipat dari luas kamar, ditambah ruang dapur dan kamar mandi. Perabotan yang memadai membuat banyak teman yang suka berkunjung karena nyaman. Namun Desi pun bukan tipe yang terbuka menerima kunjungan teman. Tentulah datangnya harus sesuai janji.

Malam itu, Desi tak banyak membahas soal kedua kekasihnya, namun lebih menanggapi cerita Bakti. Giliran Bakti yang kembali membicarakan mantan kekasihnya yang telah berhianat. Tampak kilatan api penuh dendam di mata Bakti setiap kali menyebut nama Indah. Hingga di ujung pembicaraan, Bakti meminta Desi untuk menemaninya menghadiri undangan Intan yang tiga hari lagi akan melangsungkan pernikahan dengan lelaki pilihan orang tuanya. Desi menyepakatinya.

Hari Minggu pagi Bakti sudah tiba di kampung halamnnya. Didampingi Desi yang penampilannya sangat memesona seperti selebritis. Bakti menggamit mesra lengan Desi dan menghampiri kedua mempelai. Indah terkesiap, tak menyangka Bakti berani datang dengan membawa gadis lain di saat Indah sempat berpikir Bakti masih mencintainya. Bakti dengan bangga memperkenalkan pada Intan kalau Desi itu kekasihnya.Suaranya sedikit dikeraskan agar mempelai pria mendengarnya meskipun lelaki yang telah mengambil Indah darinya tidak kenal pada Bakti dan tak pernah tahu ada hubungan khusus antara Indah dengan Bakti.

Bakti sangat puas melihat raut muka  Indah yang kaget dan sinar cemburu yang tak dapat disembunyikan dari mata gadis itu. Apalagi gadis yang diperkenalkan sebagai kekasihnya, jauh lebih cantik dari Indah. Berkali-kali Bakti mengucapkan terima kasih pada Desi. Ia berhasil menunjukkan pada mantan kekasihnya kalau dirinya bukan lelaki lemah.

“Sudahlah, tak usah berlebihan… kita kan sahabat, sudah seharusnya  saling bantu…” Desi tersenyum. Mereka dalam perjalanan pulang bersama menuju kota dengan naik bis.

Sejak saat itu Desi dan Bakti semakin dekat. Entah mengapa, Desi mulai sering memikirkan Bakti. Lelaki itu selalu ada saat ia membutuhkan. Kedua kekasihnya mulai menjauh setelah merasa Desi tak tulus lagi mencintai mereka. Bakti bukan tak tahu dengan perasaan  Desi, ia pun dengan tak membuang kesempatan menanggapinya. Memikirkan Intan yang sudah menjadi milik lelaki lain hanya menambah kekecewaan, makanya ia memilih belajar memperlakukan Desi  sebagai kekasih. Desi makin nyaman bersama Bakti.

“Tak menyesal menjadi kekasih anak garong?” tanya Desi.

“Yang garong itu kan ayahmu, bukan kau…” Bakti lalu melingkarkan lengannya di bahu Desi.

“Ayahku diburu polisi, lho…” suara Desi  melemah. Bakti meliriknya. Tak menjawab. Dipererat pelukannya.

“Rumah kosku termewah dan termahal, perabotannya juga bertambah. Aku tak mengalami kesulitan uang.  Sepertinya, tak banyak yang seberuntung aku. Tapi… apa kau tak berpikir, semua yang kumiiki, termasuk biaya kuliahku, itu hasil dari menggarong yang dilakukan ayahku?”

“Kau pun kan tahu, aku tak akan mempermasalahkan itu semua…” Bakti membelai rambut Desi, lalu menciumnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Bakti beranjak sebentar ke luar ruangan dan bicara dengan si penelepon. Lalu dengan tergesa-gesa, ia harus pergi. Seperti biasa, setiap pukul sepuluh malam, ada yang harus dikerjakannya. Bisnis, begitu alasannya dengan percaya diri tingkat tinggi dan Desi tak banyak bertanya. Ia menatap kepergian Bakti dengan tatapan penuh cinta. Ia bahagia mengenal Bakti yang menerima dirinya sebagai anak garong. Desi pulas di tempat tidurnya. Baru terbangun ketika terasa sinar mentari pagi menerobos lewat jendela kamarnya. Ia kaget mendapati lemari pakaiannya terbuka. Perhiasan serta uang tunai belasan juta raib. Ponsel baru, laptop juga alat-alat elektronik kecil yang berharga sudah tak berada di tempatnya.

Entah siapa yang telah menggarong ke rumah kos Desi. Tak ada jejak.

“Mungkin ayahmu sendiri,” dengan enteng Bakti menyimpulkan ketika menemui Desi. Ia tak membenarkan ucapan Bakti hingga suatu malam tepat pukul sepuluh, ia memberanikan diri mencari Bakti di tempat kosnya setelah lelaki itu tak menemuinya berminggu-minggu. Lelaki itu tak ada. Namun pintu kamarnya dibiarkan terbuka. Mata Desi terbelalak menemukan barang-barang miliknya yang pernah hilang diambil garong.

Bandung, 4 April 2019


Komala Sutha yang lahir di Bandung, 12 Juli 1974, menulis dalam bahasa Sunda, Jawa dan Indonesia. Tulisannya dimuat dalam  koran dan majalah  di antaranya Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Jawa Pos, Kompas.id, Republika, Kedaulatan Rakyat,Harian Rakyat Sultra, Minggu Pagi,  Solopos, Merapi, Denpasar Post, Lampung Post, Padang Ekspres, Malang Post, Bangka Post, Analisa, Medan Post, Kabar Cirebon, Tanjungpinang Post, Radar Jombang,  Tribun Kaltim, Radar Tasik, Kabar Priangan, Galura, Target, Femina, Hadila, Potret, majalahAnak Cerdas, Mayara, SundaUrang, WartaSunda, Beat Chord Music, Manglé, SundaMidang, Djaka Lodang, Mutiara Banten, Kandaga, Metrans, Buletin Selasa, Redaksi Jabar Publisher, Utusan Borneo dan New Sabah Times. Buku tunggalnya, novel “Separuh Sukmaku Tertinggal di Halmahera” (MujahidPress, 2018) dan “Cinta yang Terbelah”(Mecca Publishing, 2018).
1 thought on “Garong”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *