Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka atau lebih tenar dengan Tan Malaka. Inilah sosok pahlawan nasional Indonesia yang belakangan ini namanya sering diperbincangkan oleh kaum milienal, terutama mereka yang masih berstatus lajang (baca : jomblo). Hal ini tidak dapat dinafikan karena Tan Malaka lebih memilih melajang dengan jalan mencintai Republik Indonesia hingga akhir hayat nya.

Masa Kecil dan Menjadi Guru

Tan Malaka lahir di Nagari Pandam Gadang, Sumatera Barat pada 2 Juni 1897. Ayahnya bernama HM. Rasad Caniago seorang mantri yang bertugas mengatur distribusi garam di Minangkabau, sedangkan Ibundanya bernama Rangkayo Sinah. Tan Malaka kecil adalah potret lelaki Minangkabau yang gemar bermain bola sepak, layang-layang, berenang di sungai, dan selepas magrib ia mengaji, lalu tidur di suaru.

Walaupun diriwayatkan Tan Malaka kecil dikenal bengal, namun ia memiliki keunggulan dalam bidang akademik, kecerdasannya sangat luar biasa hingga tahun 1907 ia diterima menjadi siswa Kweekschool di Fort de Kock (Bukittinggi). Setahun sebelum penyelesaian studi Tan Malaka di Kweekschool, ia diminta keluarga besarnya di Suliki untuk menerima penobatan gelar Datuk Tan Malaka dan pertunangan yang telah diatur sebelumnya, namun Tan Malaka lebih memilih memangku gelar dan menolak perjodohan oleh keluarganya.

Prestasinya selama menjadi siswa Kweekschool terbilang moncer hingga membawanyamenjadi siswa Rijskkweekschool (sekolah guru) di Harleem, Belanda pada usia 16 tahun.

Setelah kepergian Tan Malaka muda ke Belanda, ia putus hubungan dengan keluarga. Efantino Febriana dalam bukunya Alimin dan Tan Malaka (2009) mengemukakan bahwa Tan Malaka hanya dua kali menyambangi tempat kelahirannya yakni tahun 1919 dan 1942. Satu-satunya surat yang ia kirim dari Negeri Belanda justru ditujukan kepada seorang siswi semata wayang di Kweekschool Fort de Kock, Syarifah. Isinya ungkapan cinta, namun sayang gayung tak bersambut.

Tahun 1919 Tan Malaka kembali ke Indonesia dan menjadi seorang guru dan mengajar tulis menulis untuk para anak buruh perkebunan Deli. Di sinilah semangat anti kolonialisme Tan Malaka bersemi. Selama Tan Malaka bekerja sebagai guru, ia melihat sendiri munculnya pemogokan para buruh yang dilatarbelakangi tuntutan kenaikan gaji. Tan Malaka sering kali menjadi pembela kaum buruh.

Mengembara dari Satu Negara ke Negara

Pengembaraan Tan Malaka dari satu negara ke negara lain berawal kala ia ditangkap di Bandung pada 13 Februari 1922. Penangkapan ini erat kaitannya dengan aktivitasnya menyatukan gerakan komunisme dan Islam dalam menentang Imprealisme Belanda. Pemerintah Hindia Belanda menjatuhi hukuman pengasingkan kepada Tan Makala di Amsterdam.

Dari Amsterdam inilah kedekatan Tan Malaka dengan komunisme semakin terpupuk, bahkan ia sempat menjadi calon anggota parlemen Belanda melalui Partai Komunis Belanda, dengan menuduki posisi ketiga dalam perolehan suara. November 1922 Tan Malaka mewakili Partai Komunis Indonesia dalam konfrensi Komunis Internasional (Komintren) di Moskow, ia diangkat menjadi wakil Komintren di Asia Timur yang berkedudukan di Kanton. Selama di Kanton ia menyusun konsepsi negara Republik Indonesia yang tertuang dalam buku berjudul Naar de Republik Indonesia di tahun 1924. Karena konsep inilah maka di kalangan sejarawan ia dikenal sebagai Bapak Republik Indonesia.

Flayaer Pengembaraan Tan Malaka (Difoto oleh Adil Akbar pada Bulan Nopember 2014 di Kota Padang)

Tan Malaka tidak begitu lama di Kanton, tahun 1925 ia kemudian menyelundup ke Filipina, tapi Tan Malaka tidak begitu lama di tempat ini, ia kemudian menuju Singapura (tahun 1926) dan ke Thailand (tahun 1927). Di Bangkok, Thailand, Tan Malaka mendirikan Partai Republik Indonesia pada bulan Juli, hanya berselang sebulan ia kemudian kembali menuju Filipina.

Hampir dari setengah perjalanan hidupnya dihabiskan mengembara dari satu negara ke negara lain. Setidaknya sepanjang tahun 1922 hingga 1942 ia mengembara mulai dari Amsterdam, Jerman, Moskow Rusia, Manila Filipina, Bangkok Thailand, Hongkong, Kanton, Sanghai, hingga Singapura sebelum terakhir ke Indonesia (Hindia Belanda). Pengembaraan inilah yang sedikit banyak membentuk cara berpikir Tan Malaka atas cita-cita Indonesia merdeka dan semangat anti kolonialisme-imprealisme.

Buah Pikir Tan Malaka dan Gelar Kepahlawanan

Tidak dapat dinafikan buah pikir Tan Malaka sedikit banyak memengaruhi perjuangan bangsa Indonesia, baik di zaman pergerakan nasional maupun di masa revolusi fisik. Beberapa karyanya terkenal adalah Madilog, Gerpolek, dan tentunya Naar de Republik Indonesia. Ciri khas gagasan Tan Malaka adalah dibentuk dengan cara berpikir ilmiah, bersifat Indonesiasentris, futuristik, mandiri, konsekuen, dan konsisten.

Februrai 1949, Tan Malaka mengembuskan nafas terakhirnya di Kediri setelah ia ditembak mati oleh pasukan TNI dibawah pimpinan Letnan II Soekotjo. Hingga akhir hidupnya, Tan Malaka dikenal tidak pernah menikah, namun beberapa catatan smenyebutkan selama pengembaraannya ia pernah dekat dengan beberapa perempuan, namun sayang cinta Tan Malaka selalu bertepuk sebelah tangan.

Gelar kepahlawanan Tan Malaka baru disematkan melalui Keputusan Presiden RI No. 53 yang ditandatangani pada 28 Maret 1963. Walaupun gelar pahlawan yang disematkan telah begitu lama, namun di masa Orde Baru namanya seolah hilang dalam buku pelajaran sekolah. Hal ini dimungkinkan karena sepak terjang Tan Malaka yang sangat dekat dengan gerakan kiri. Akan tetapi namanya mulai muncul kembali dalam buku pelajaran sekolah ketika masa reformasi.

Sumber:

Febriana, Efantino. 2009. Alimin dan Tan Malaka: Pahlawan yang Terlupakan. Yogyakarta: Bio Pustaka

Poeze, Harry A. 1999. Pergulatan Menuju Republik : Tan Makala 1925-1945. Jakarta : Pustaka Utama Grafiti

Zulhasril Nasir. 2007. Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau. Yogyakarta : Penerbit Ombak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *