Ahmad Subair, S.Pd., M.Pd (Dosen Universitas Negeri Makassar)

Pare-Pare, Karebaindonesia.id — Program Kemitraan Masyarakat (PKM) literasi lontara merupakan sebuah kegiatan yang bertujuan untuk memperkenalkan budaya Bugis kepada santri TPA Babul Ilmi. Para santri TPA Babul Ilmi ini sehari-harinya merupakan anak sekolah yang terkena dampak covid 19, dan terpaksa belajar dari rumah (BDR/ Daring).

Program PKM yang terselenggara bertemakan : Pembelajaran Budaya melalui Teks Lontara pada Santri TPA Babul Ilmi Kota Pare-Pare. Beberapa item kegiatan literasi lontara terbagi atas dua bagian; Pertama pengenalan huruf lontara, kedua pembelajaran budaya luhur Bugis melalui teks-teks lontara. Pada kegiatan kedua ini teks-teks lontara yang diajarkan berupa paseng (petuah) Bugis, yang mana dalam kehidupan sehari-hari sangat jarang diaplikasikan, bahkan cenderung dilupakan.

PKM literasi Lontara hadir untuk anak-anak usia belia guna memperkenalkan kepada mereka tentang budaya Bugis yang luhur. Selain itu pengenalan budaya melalau teks-teks lontara juga berfungsi sebagai counter penyeimbangan atas budaya praktis yang sudah masuk ke masyarakat luas. Adapun materi yang diperkenalkan secara garis besarnya adalah Paseng  yang lebih menekankan pada pendidikan karakter, misal larangan mengambil hak orang lain, harus bekerja keras jika mencita-citakan sesuatu, dan masih banyak lagi.

Sasaran dan tujuan PKM literasi Lontara ini adalah memperkenalkan budaya Bugis sebagai basis pengetahuan karakter pada santri TPA Babul Ilmi Kota pare-pare. Selain itu diharapkan sasaran yang masih belia tersebut dapat menanamkan dalam diri mereka sebuah prinsip kebenaran dan tidak mengambil hak orang lain. Pada akhirnya mereka akan hidup di tengah masyarakat dengan pengetahuan kebudayaan Bugis yang bersih dan anti korupsi. Walau sebenarnya PKM ini hanya sebentar namun cukup untuk mengisi pengetahuan mereka yang terdampak pandemi.

Kegiatan semacam ini sangatlah penting mengingat bahwa budaya luhur Bugis mulai ditinggalkan dan berganti menjadi budaya yang baru, bahkan tidak jarang membuat kita miris dengan perkembangannya. Budaya Bugis yang tersimpan dalam teks-teks lontara merupakan budaya yang luhur, tidak ada salahnya kembali untuk memperkenalkan kepada generasi muda. Selain itu kegiatan ini juga turut membantu santri TPA Babul Ilmi dalam pembelajaran daring dan luring yang mereka dapatkan di sekolah formal.

Perlu juga dicatat bahwa santri TPA Babul Ilmi ini berasal dari sekitaran masjid Babul Ilmi yang sehari-harinya bertemu dan bermain, khusus selama masa pandemi mereka lebih banyak bermain. Pada sore hari mereka mengaji, otomatis sangat banyak waktu bermain mereka. Dalam melihat kondisi ini sebagai seorang pendidik, hati ini tergerak untuk melakukan kegiatan pembelajaran budaya melali teks lontara kepada mereka.

Harapannya kegiatan ini memberi manfaat  kepada mereka dan berbangga pada budayanya sendiri dan menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Terakhir pelaksanaan PKM literasi lontara ini dilakukan sebelum memasuki jam pengajian, dan tetap menerapkan protokol kesehatan, mulai dari mencuci tangan, menggunakan handsenitaizer, duduk berjarak, dan memakai masker.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *