Ilustrasi proses vaksin.

Jakarta, karebaindonesia.id – Usai mendapatkan vaksinasi Covid-19, banyak orang mulai berpikir untuk melakukan tes antibodi. Tujuannya untuk melihat apakah antibodi Covid-19 nya terbentuk.
Biasanya tes antibodi yang dilakukan adalah tes serologi. Tujuannya untuk mengukur kadar antibodi yang terbentuk dalam tubuh setelah menerima vaksin Covid-19.

CDC mengatakan tes serologi ditujukan untuk menentukan apakah seseorang terinfeksi virus Covid-19 atau tidak, bukan untuk mengukur kadar antibodi yang melawan virus.

Terdapat pertanyaan yang kerap menghantui masyarakat, perlukah melakukan tes antibodi usai vaksinasi covid-19?.

Dokter Spesialis Paru Erlina Burhan menjelaskan, pemeriksaan serologi untuk memeriksa kadar antibodi melawan Covid-19 tidak diperlukan dan tak dianjurkan bahkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dia menambahkan, sampai saat ini tak ada alat atau teknik yang secara tepat menunjukkan kadar antibodi yang terbentuk.

Bahkan pemeriksaan laboratorium canggih sekalipun tak selalu menunjukkan hasil yang akurat. Pemeriksaan di laboratorium juga tak bisa jadi pegangan bahwa antibodinya dapat melawan virus Covid-19.

“Pemeriksaan serologi yang ada sekarang di lab medis tidak selalu bisa mendeteksi antibodi yang terbentuk,” kata Erlina dalam sebuah diskusi virtual, Jumat (21/5).

“Perlu diingat juga antibodi yang terbentuk tak selalu menggambarkan merepresentasikan proteksi yang ada dalam tubuh.”

Dibanding serologi, Erlina mengungkapkan bahwa menguji pembentukan antibodi seharusnya dilakukan dengan memakai uji netralisasi. Pemeriksaan yang dikenal dengan nama neutralizing antibody ini menjadi gold standard untuk menentukan imunogenitas seseorang.

Tes ini dilakukan dengan cara hanya memeriksa antibodi yang dapat menetralisir virus, bukan semua antibodi di tubuh.

Meski bisa jadi tes untuk mengetahui kadar antibodi yang ada dalam tubuh, tes ini tak termasuk dalam pelayanan umum di rumah sakit atau laboratorium.

Neutralizing antibodi hanya dilakukan untuk tujuan riset, mengingat tes ini membutuhkan dana tak sedikit dan alat nan canggih.

“Tapi pemeriksaan ini tidak termasuk dalam layanan umum. Pemeriksaan neutralizing antibodi hanya ditujukan untuk riset,” ucapnya.

“Lab yang ada saat ini bukan melakukan tes neutralizing antibodi,melainkan hanya memeriksa antibodi yang mengatakan reaktif atau non-reaktif.”

Meski demikian, Ia juga tidak menyarankan melakukan tes antibodi maupun netralisir antibodi setelah mendapat vaksin Covid-19.

Alasannya, pertama tes antibodi tak merepresentasikan jumlah antibodi yang tepat dalam tubuh, kedua karena tes netralisir antibodi hanya ditujukan untuk tujuan riset.

“Jadi memang menurut saya tidak diperlukan, tidak dianjurkan. Ingat bahwa tes antibodi tak menggambarkan hal yang sebenarnya, uji netralisasi antibodi bukan layanan umum,” tuturnya.

Selain Erlina, Kementerian Kesehatan juga tak menyarankan pemeriksaan antibodi setelah mendapat vaksin Covid-19. Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan, pengujian antibodi yang ada saat ini tak ditujukan untuk mengukur antibodi yang terbentuk pasca vaksinasi.

“Pemeriksaan antibodi hanya mengukur kadar antibodi dalam tubuh, bukan antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi Covid-19,” kata Nadia dalam konferensi pers di YouTube, beberapa waktu lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *