Selama ini kita lebih banyak mengenal sosok Sukarno dan Hatta dalam episentrum peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Ketenaran tersebut menjadi satu hal yang wajar karena tidak dapat dinafikan kedua tokoh ini memainkan peran dalam proses menuju dan memertahankan kemerdekaan. Walaupun demikian, terdapat sosok yang juga memberikan pengaruh langsung maupun tidak langsung atas berjalannya sejarah Republik Indonesia, terutama di kisaran tahun 1945-1949 (masa revolusi fisik). Sosok itu adalah Alex Mendur dan Frans Mendur atau lebih tenar sebagai Mendur bersaudara.

Alex Mendur dan Frans Mendur, dua nama yang jarang ditemukan dalam buku pelajaran sejarah siswa SMA, namun siapa sangka dua nama inilah yang memiliki jasa dalam mengabadikan kemerdekaan Republik Indonesia melalui negatif film. Tanpa hasil bidikan kameranya, kita tidak akan menyaksikan foto Sukarno—yang didampingi Mohammad Hatta—kala membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Foto-foto hasil jepretan Mendur bersaudara menjadi dokumentasi otentik untuk menyelami perjuangan bangsa Indonesia dalam memertahankan kemerdekaan. Jika Frans Mendur berhasil menjepret foto peristiwa proklamasi kemerdekaan, maka Alex Mendur berhasil mengabadikan momen sakral (lebih tepatnya foto ikonik) kala Bung Tomo sedang berpidato.

Bung Tomo kala Berorasi, foto ini diambil oleh Alex Mendur. Menurut Sejarawan UNAIR, Surabaya, Purnawan Basundoro foto tersebut diambil pasca peristiwa 10 November dan difoto di daerah Malang

Perjumpaan Alex Mendur dalam dunia fotografi jurnalistik dimulai pada tahun 1932 dengan menjadi pewarta foto di Java Bode surat kabar terkenal dari Batavia. Lalu ketika Jepang menduduki Hindia – Belanda (1942-1945) Alex Mendur ditugaskan sebagai Kepala Bagian Fotografi Kantor Berita “Domei”, kantor berita Domei inilah kelak menjadi Kantor Berita Indonesia Antara. Sedangkan Frans Mendur di masa Pendudukan Jepang bekerja di surat kabar Asia Raya.

Di dalam buku berjudul Alexius Impurung Mendur (Alex Mendur) karya Wiwi Kuswiah terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional : Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional terbitan Jakarta tahun 1986, disebutkan Alexius Impurung Mendur atau lebih dikenal sebutan Alex Mendur, lahir pada 7 November 1907 adapun saudaranya, Frans Soemarto Mendur atau Frans Mendur lahir pada 16 April 1913 di Kwangkoan, Sulawesi Utara. Mereka adalah putra daerah asal Sulawesi Utara. Ayah dan ibunya berasal dari Kwangkoan, sebuah kota kecil yang terletak kurang lebih 45 km dari Kota Manado.

Ketika Indonesia merdeka, Mendur bersaudara bekerja di Harian Merdeka, lalu  beberapa masa kemudian, Alex Mendur memutuskan keluar dari Harian Merdeka disusul adiknya Frans Mendur. Mendur bersaudara kemudian mengontak rekan sejawatnya, J.K. Umbas dan F.F. Umbas, mereka kemudian mendirikan satu kantor berita foto.

Kantor berita foto tersebut sering disambangi pewarta foto dan pewarta berita dari luar negeri, hanya sekadar meminta foto atau keterangan peristiwa seputaran perjuangan bangsa Indonesia dalam memertahankan kemerdekaan.

Karena intensnya para wartawan asing—seperti United Press, Frans Agency, dan duta-duta dari negara asing termasuk Amerika Serikat—dalam mencari foto dan keterangan guna peliputan perjuagan bangsa Indonesia dalam memertahankan kemerdekaan, maka kantor berita foto ini kemudian dikenal sebagai Indonesian Press Photo yang kemudian tenar disebut IPPHOS.

Tanggal 2 Oktober 1946, N.V. IPPHOS Coy Ltd., berdiri secara resmi dengan pendirinya Alex Mendur, Frans Soemarto Mendur, J.K. Umbas, F.F. Umbas, Alex Mamusung. Kemudian diperkuat oleh M. Jacob, Aniem Abdul Rachman dan lain-lain.  Melalui IPPHOS, Frans Mendur, Cs., mengabadikan perjuangan bangsa Indonesia dalam memertahankan kemerdekaan, lewat senjata bernama “Kamera Photo”.

1 thought on “Yang Mengabadikan Kemerdekaan (Seri Tulisan Indonesia Merdeka)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *