Cerpen karebaindonesia.id edisi 06September 2020

Ajaz Elmazry

Eh, apa benar kamu menjilatnya dengan suka rela. Aku lihat dia tadi bercerita pada orang tuanya saat rambutnya terurai basah. Aku tidak dengar sih dia ngomongin tentang apa. Tapi aku lihat matanya berkaca-kaca. Diantara mereka tidak ada pancaran senyum sedikitpun. Aku bertanya begini tidak bermaksud mencampuri urusan pribadimu. Aku cuma datang sebagai kawanmu yang berusaha ada disetiap kondisimu. Perihal ini menyinggung perasaanmu, aku minta maaf. Aku cuma khawatir nanti semua orang menyalahkanmu. Kalau boleh aku kasih saran, sebaiknya kamu lebih hati-hati lagi karena kita sama-sama tidak tahu orang yang ingin berniat jahat pada kita. Apalagi dengan keberadaanmu saat ini yang baru naik daun. Yang jelas tidak sedikit orang-orang sekitar yang akan menjatuhkanmu, tak terkecuali perempuan yang saat ini menjadi teman ranjangmu.

Apakah kamu tidak ingat?. Dulu, sebelum cafe ini berada di tanganmu. Keluarga pak Supardi itu sempat punya masalah dengan pamanmu. Cuma tidak pernah dibawa ke ranah hukum, tapi kalau masalah ribut, tengkar dan bahkan pakai guna-guna bisa dibilang hampir setiap hari. Bahkan kematian pamanmu itu banyak orang yang bilang dikena ilmu hitam oleh pak Supardi. Aku tidak bermaksud mengungkit-ngungkit masa lalu keluargamu, tapi aku yakin melihat pak Supardi yang krakternya begitu, pasti belum seratus persen sifat dendam dan bencinya hilang. Apalagi memang masalah pamanmu dan pak Supardi itu dimulai gara-gara cafe ini.

Kalau boleh aku tanya. Apakah keluarga pak Supardi tahu kalau anak perempuannya sering jalan denganmu. Apakah pak Supardi tahu kalau cafe ini sekarang di pegang kamu?. Jangan sampai kamu keteteran. Kamu harus lebih waspada lagi. Tidak menutup kemungkinan anak perempuannya itu hanya dijadikan alat pancing untuk menghabisimu. Aku tidak ingin kawanku pergi dengan cara yang tidak wajar. Naudzubillahi min dzalik.

Aku memang tahu kamu sudah lama kenal dengan anaknya pak Supardi, bahkan waktu pamanmu masih ada, kamu memang sering ngajak perempuan itu ke cafe ini ketika malam minggu. Kamu bilang padaku kalau kalian saling mencintai dan saling sayang. Ya, aku percaya itu. Tapi juga tidak ada yang bisa menjamin kondisi demikian bisa bertahan dan kekal sampai saat ini atau bahkan selamanya. Se-spesial-nya dirimu, bagi perempuan itu kamu hanya orang baru yang dia kenal kurang lebih 3-4 tahun yang lalu. Sedang pak Supardi adalah ayahnya. Orang kedua setelah ibunya yang perempuan itu lihat. Pak Supardilah yang telah menghidupi semua kebutuhan perempuan itu. Sedang kamu, kamu hanya membiayainya saat jalan, itupun karena kamu mau mengendarinya. Maka, yang jelas perempuan itu akan lebih manut pada ayahnya dari pada memenuhi janjinya padamu.

Aku bukan pesimis, apalagi membuatmu kecil hati terhadap janji-janji romantis yang sering kalian ucapkan saat telfonan, saat jalan, atau mungkin saat kamu membuka tali kutangnya—kamu sempatkan bisikan janji romantis agar bibirnya segera ditempelkan di lehermu. Aku juga tidak tahu. Maksudku bukan kesana. Kalau soal itu, silakan kamu urus sendiri. Tapi kalau masalah masa depan keselamatanmu aku berhak ikut menasehatimu.

Coba kamu perhatikan, sebelum pamanmu meninggal, kamu itu kalau jalan dengan perempuan itu paling banyak 2 kali dalam seminggu itupun tidak pernah sampai larut malam, paling mentok pukul 10 malam kamu sudah pulang. Nah, sekarang setelah pamanmu sudah lewat 40 harinya. Dan kamu resmi menjadi direktur cafe ini. Kamu malah sering meninggalkan cafe ini. Kamu lebih sering jalan dengan perempuan itu. Anehnya lagi, kamu tidak pernah pulang dibawah pukul 2 pagi. Aku bukan ngeluh karena selalu ngeberesin cafe ini sendirian. Tapi aku khawatir pada keselamatanmu. Memangnya kamu jalan kemana sih? Apa kamu tidak capek kalau setiap malam kerja ranjang terus? Padahal siangnya kamu harus nyetok bahan-bahan cafe ke pasar. Ingat, pendapatan cafe dalam minggu terakhir ini sedang tidak stabil sejak ada cafe baru di seberang jalan dekat bengkelnya Maryono. Kita harus lebih semangat mengolah cafe ini.

***

Peringatan 100 hari kematian pamanmu sudah tinggal satu minggu, kamu belum juga berubah. Kamu tetap sering meninggalkan cafe. Kamu selalu jalan-jalan dengan anaknya pak Supardi. Aku lihat badanmu sudah makin kurus. Rambut di kepalamu sudah mulai tak terurus. Memangnya apa yang terjadi pada dirimu. Ceritalah padaku kalau kamu sedang ada masalah. Jangan seperti belakangan ini yang kalau bukan aku yang ngajak bicara duluan kamu tidak pernah bicara denganku. Kamu sudah hampir tidak pernah menanyakan keuangan cafe. Kerjaanmu cuma jalan, pulang larut malam, datangnya langsung tidur. Sampai-sampai selama ini aku sendirian yang menggantikanmu nyetok bahan-bahan cafe ke pasar. Aku juga yang ngurus tiga karyawan di cafe. Tapi aku tidak pernah mengeluh apalagi sampai menyesal. Aku sudah anggap kamu sebagai saudaraku. Aku sudah puluhan tahun hidup bersamamu. Aku bahkan sudah akrab semua dengan keluargamu.

Aku bingung harus mulai dari mana lagi bicara denganmu, sedang mulai kemarin aku mengajukan tanya tentang peringatan 100 hari pamamu, kamu tidak pernah menanggapinya dengan serius. Kamu hanya mengangguk saja. Aku kan bingung, sedang aku hanya kawan yang numpang di tempatmu. Aku tidak ingin nantinya dibilang sok tahu, sok ngatur-ngatur atau apalah itu. Karena aku tahu, tetanggamu disini juga lumayan hobi kalau soal ngomongin orang. Jadi, aku nunggu konsep acaranya dari kamu. Aku siap kerja nanti untuk mempersiapkan segalanya. Yang terpenting, kamu kasih tahu aku acaranya mau undangan berapa orang.

Setelah H-3 acara, cafe aku tutup untuk mempersiapkan segala perlengkapan mulai dari nyebar undangan, pesan aneka kue, nasi kotak dll. Maaf, aku tidak ngasih tahu kalau mau meliburkan cafe. Habisnya kamu sulit ditemui. Kamu jarang sekali ada di rumah. Semua persiapan sudah aku pesan dan sudah aku suruh antar besok lusa sebelum duhur. Undangan sudah nyebar semoga nanti datang semua. Hanya tinggal terop yang belum aku urus, tapi gampang aku sudah hubungi temanku yang kebetulan kerja di tempat sewa terop dan dekorasi. Jadi tinggal nanti aku memastikan saja butuh berapa stel. Mungkin kalau untuk undangan 100 orang kira-kira dua stel cukup, sisanya biar duduk di teras rumah.

Setelah dilihat sudah beres semua. Aku menghampirimu yang sedang duduk di taman belakang rumah. Aku mencoba ingin mengajak bicara. Kamu sedang asyik dengan hisapan rokok dan sambil chatingan dengan kontak yang kamu kasih nama ‘My Cinta’ siapa lagi kalau bukan anaknya pak Supardi. Kamu ternyata masih saja berhubungan dengan perempuan itu. Mau sampai kapan kamu terus begini. Memanjai hari-harimu dengan perempuan itu. Coba lihat matamu sudah bengkak, itu tandanya kamu kurang istirahat dan tidak sehat. Kalau bisa malam ini sampai besok kamu jangan keluar dulu. Besok siang kan sudah acaranya. Jadi takut ada kebutuhan mendadak dan lagian besok kamu kan harus menyambut semua tamu. Jadi bilang saja dulu sama ‘My Cintamu’ itu kalau kamu nanti malam sampai besok mau ada acara.

***

Azan subuh berkumandang, aku bangun walau badanku tersa sakit semua karena seminggu ini jarang sekali istirahat. Aku langsung ke kamar mandi ambil wudu kemudian langsung sholat di mosholla dekat cafe yang biasa pengunjung cafe juga menunaikan sholatnya. Setelah pancaran sinar matahari mulai membias di jendela, aku beranjak dari sajadahku. Segera aku ambil sapu dan membersihkan seluruh halaman rumah. Sebentar lagi terop datang dan akan di pasang. Ranting-ranting pohon mangga yang mulai melambai agak ke bawah, aku potong biar tidak mengganggu terop. Begitupun teras rumah juga aku sapu dengan bersih.

Dari depan cafe terdengar suara mobil berhenti. Aku coba lihat ternyata sepupunya Ifan yang tinggal di Bali sudah datang bersama keluarga. Aku bersalaman, saling tanya kabar dan mempersilakan masuk. Ketika sampai di ruang tamu, sepupunya Ifan langsung menanyakan Ifan. Aku bilang dia sedang pergi ngurus pesanan kue. Aku terpaksa bohong padahal aku tidak tahu Ifan kemana. Sejak aku bangun subuh tadi, Ifan sudah tidak ada di kamarnya. Aku bingung bukan kepalang. Aku telfon tidak pernah aktif. Aku mau menghubungi anaknya pak Supardi, aku tidak punya kontaknya. Kerabatnya yang jauh sudah pada datang semua. Aku bingung mau jawab apa lagi nanti tentang Ifan.

Seperti perjanjianku kemarin, semua pesanan kue dan nasi datang tepat waktu duhur tiba. Semuanya sudah tersusun rapi di meja depan tepat para tamu nanti masuk. Sedang Ifan masih belum kelihatan batang hidungnya. Aku makin resah, keringat sudah membasahi pakaianku. Tiba-tiba sepupunya Ifan nanya lagi karena melihat semua kue sudah di pajang. Aku menggaruk-garuk kepala. Aku jawab dengan kalimat terbata-bata kalau Ifan mungkin sedang ada di jalan menuju pulang. Dan syukurnya sepupunya masih percaya.

Tepat pukul 13.00 pembawa acara membacakan susunan acara peringatan 100 hari meninggalnya pamannya Ifan. Semua tamu panjatkan do’a kepada almarhum. Namun, semua suara gemuruh menjadi hening seketika. Aku kaget bukan main. Semua aliran darah di badanku berhenti drastis. Begitupun para tamu juga fokus pada satu pandangan. Mobil ambulance yang berhenti di depan cafe telah mengundang tangis. Suasana rumah pecah seketika. Semua energi menjadi layu. Aku berlari dengan kencang. Dari mobil itu telah di usung badan tak berdaya, berlumur darah tertutup kain coklat bermotif kembang. Aku langsung membukanya. Tangisku tumpah, aku berteriak sekencang-kencangnya. Tak sanggup melihat Ifan terbaring berlumur darah. Aku bangunkan dia. Aku terus menjerit. Walau orang-orang disampingku sudah bilang untuk sabar dan harus mengikhlaskan kepergian Ifan. Sepupunya tetap belum sadarkan diri. Sepupunya langsung pingsan ketika melihat Ifan sudah tak bernyawa dengan cara yang mengerikan.

Aku bertanya-tanya pada orang-orang yang membawanya ke rumah. Aku masih tak percaya, kenapa Ifan jadi begini.

“Orang ini saya temukan di jalan berbatu dekat warung karaoke tadi pagi sepulang saya dari Masjid dalam keadaan tak berdaya dan berlumur darah. Di dekatnya ada kayu besar yang mungkin dijadikan alat pemukul” Laki-laki separuh baya itu memberikan keterangan.

“Kemudian, karena panik saya langsung menghubungi warga setempat dan membawanya ke rumah sakit. Tapi tadi sekitar pukul 11.00 nyawanya sudah tidak bisa tertolong. Benturan keras di kepalanya menjadikan dia kekurangan cairan darah” Lanjutnya.

“Kami mohon maaf tidak bisa menghubungi keluarga ini, karena kami belum menemukan kontak atau sanak keluarga yang bisa dihubungi. Baru tadi setelah orang ini meninggal polisi baru menemukan alamat orang ini. Sekali lagi kami minta maaf” Pungkasnya dengan nada lirih tanda ikut berbelasungkawa.

Sumedangan, 26 Juni 2020

Ajaz Elmazry adalah nama penda dari Ach Jazuli, lahir dan besar dari keluarga tani di desa Tambaksari, Rubaru, Sumenep

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *