Proyeksi pemerintah meredam berkembangnya pandemi corona ini nampaknya sudah banyak yang meragukan, bagaimana tidak? Alih-alih mampu terlepas dari jeratan pandemi ini, setiap hari media dan tontonan kita menyiarkan kabar dengan kurva dan angka yang melonjak terus menerus. Dengan kata lain, belum ada kabar pasti dan kabar baik yang jatuh dari langit, atau setidaknya pemerintah berani pasang badan menjelaskan bahwa kita menang melawan corona. Tagline yang pernah buming #ayo lawan corona kini terhempas dan dilupakan begitu saja, nampaknya alutsista (baca: alkes) untuk mengendalikan penyebaran virus corona ini tidak berdaya.

Kini muncul berbagai fenomena kemanusiaan, ketika para tim tenaga medis berjibaku melawan virus, kini narasi baru muncul ke permukaan dengan fakta-fakta barunya. Sebut saja, jagad media sosial digegerkan dengan hadirnya pengakuan yang menyumpal mulut sebahagian kalangan. Di Manado Sulawesi Utara, pengakuan salah satu korban bahwa merasa disogok dan seakan virus ini adalah intrik bisnis baru. Belum lagi fenomena lainnya terjadi di daerah lain, bagaimana kini perkelahian mulai kembali memanas, antara pihak tim gugus tugas dengan keluarga pasien. Semua serba rumit dengan ketidakpercayaan masing-masing akan fungsi dan perannya.

Lain hal di Makassar, salah satu keluarga korban bahkan nekat menggugat tim gugus tugas penanganan covid-19 atas ulah yang tidak berperikemanusiaan, dalih karna wabah corona, banyak menjadi korban salah sasaran dalam penanganan kasusnya. Kasus diabetes dijadikan kasus corona, serangan jantung dijadikan kasus corona, bahkan yang terbaru penyakit bekas bisul kini pun dinaikkan statusnya menjadi kasus corona. Rupanya tahun 2020 ini, hanya ada satu penyakit dalam pikiran dan prasangka kita, yah pandemi corona.

Hadirnya kejadian-kejadian ini membuat munculnya mosi tidak percaya kepada pemerintah, bagaimana bisa, langkah-langkah yang dijalankan selama ini tidak memberi efek dan keamanan bagi rakyat. Percaya atau tidak, dari puluhan bahkan ratusan warga menolak untuk dikarantina di rumah saja, karna dasar ketidakpercayaan. Memang ini menjadi pilihan mereka, antara bertahan begini saja, atau berubah dengan hidup kenormalan baru atau new normal.

Lagi-lagi kebiasaan kita adalah abai, dan sangat menyukai menyembelih kambing hitam. Telah banyak ruang-ruang diskusi hanya hadir sebagai tontonan sinetron, hilang ide awal, perdebatan masih saja berada pada ambang menang atau kalah, juga bangkit atau terkapar. Itulah yang menghiasi ruang-ruang hiburan kita di rumah. Anak-anak terlantar karna tak memiliki tontonan mencerahkan, remaja-remaja gagap, lebih menyukai mengurung diri dan tidur sepanjang hari.

Mari kita mencoba mengais ingatan kita dengan saksama, ingatkah bahwa kita menuju dua kali lebih baik dengan melabeli kita menuju indonesia hebat. Sekarang adalah masa-masa pembuktiannya, benarkah indonesia hebat? Atau paling tidak bisakah8 menuju indonesia hebat? Atau jangan-jangan corona jadi batu sandungan menuju indonesia hebat?

Kita mendaras sedikit pernyataan para elit, bagaimana ia dengan mudahnya memerintahkan jajarannya membeli obat di China dengan dalih mampu menguasai penyebaran virus covid-19, namun hasilnya nihil, alih-alih sembuh, obat yang dipesanpun kini tidak tahu kemana. Mungkin ditenggelamkan di laut Natuna, seperti para awak ABK yang dilarungkan ke laut. Sementara dengan jenaka para menteri di kabinet berguyon bahwa kita baik-baik saja, namun ternyata hari ini semua serba linglung mengambil alih kebijakan.

Kita coba membayangkan bagaimana misi kebangsaan telah kepayahan, bersukar dengan penyakit yang entah kapan berlalu, lagu kenangan dan rindu ramai menghiasi kamar-kamar, sedangkan para serabutan butuh kepastian. Bongkahan masalah makin menumpuk, sementara angin segar berlalunya penyakit belum juga datang. Andai kita percaya Tuhan, mungkin tugas kita adalah menukilkan doa-doa agar ruh yang hilang kembali kepada tubuh Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *