Cerpen karebaindonesia.id edisi 27 September 2020

Risen Dawuh Abdullah

Kepala Anung timbul tenggelam oleh gulungan air sungai. Remaja empat belas tahun itu merasakan pedas luar biasa pada hidungnya, setelah berkali-kali kemasukan air. Tenaganya tidak cukup kuat untuk menepikan dirinya sendiri ke pinggir sungai; meraih akar gantung atau pohon yang tumbang atau pohon bambu atau apa saja yang bisa diraih. Arus sungai terlalu kuat baginya. Ia terus dibawa arus, hingga tak berdaya, hingga tubuhnya tak lebih dari sehelai daun kering.

Tentu tidak ada satu pun orang yang turun ke sungai untuk mengisi kegiatan pramuka di sore hari itu—hari rabu, menyangka peristiwa naas itu akan menimpa. Ketika tiga orang pembina pramuka memberangkatkan siswa-siswi-nya yang berjumlah sekitar 200an orang, langit sudah agak gelap, dan di arah utara gumpalan awan hitam begitu pekat. Sebuah gunung yang biasanya tampak jelas ketika keluar dari sekolahan di mana siswa-siswi itu menimba ilmu, sore itu tidak terlihat sama sekali.

Beberapa meter sebelum tiba di sungai, langit lebih hitam daripada saat siswa-siswi itu diberangkatkan. Perjalanan dari sekolahan hingga sungai memakan waktu sekitar dua puluh menit. Tiba di pinggir sungai, air mengalir begitu tenang, alirannya seakan terbuat dari kedamaian. Air itu berwarna kecoklatan. Terkadang terlihat satu dua sampah yang hanyut. Seorang warga—tinggal tidak jauh dari sungai itu—menghampiri salah seorang pembina—orang itu tahu, jika siswa-siswi itu akan mengadakan kegiatan susur sungai, karena ia langganan melihat remaja berseragam pramuka ke sungai.

Ia menasehati pembina pramuka yang dihampirinya, agar sebaiknya menunda dulu kegiatan yang akan dilakukan.

“Dilihat dari warna awannya, di daerah utara sebentar lagi akan hujan atau bahkan sudah hujan, ini tentu sangat berbahaya sekali bila turun ke sungai. Air yang tenang bisa mendadak menderas alirannya karena kiriman dari atas atau utara,” ucapnya dengan mimik serius.

“Ini tidak apa-apa, Pak. Saya pernah juga membawa anak-anak ke sungai saat suasana mau  hujan,” kata pembina pramuka itu dengan enteng.

“Masalahnya, di utara awannya seperti itu, Pak,” tegasnya, sembari menunjuk arah utara.

Pembina itu tidak mempercayai perkataan orang itu. Ia malah berkata jika kiriman air yang datang, akan semakin melambat kecepatannya seiring bertambahnya jarak yang ditempuh. Orang itu masih berupaya mencegah dengan berujar, ia hampir saja celaka dihantam kiriman air sungai. Ia bercerita layaknya orang yang berhadapan dengan kegentingan. Suatu saat ia pernah ke sungai untuk memandikan sapinya. Tinggi air hanya sebatas siku kaki saat ia dan sapinya turun ke sungai. Langit tidak mendung, tapi awan hitam menguasai arah utara. Setelah memandikan sapinya, beberapa detik baru saja di darat, ia menangkap suara gemuruh. Ia tergeragap. Kiriman air terlihat jelas di matanya. Kiriman air itu seperti tsunami di video-video amatir.

Pembina pramuka itu tetap berpendirian sekeras batu. Sementara dengan perlahan, siswa-siswi mulai turun ke sungai. Orang itu tidak bisa berbuat apa-apa, selain berdoa, semoga apa yang ia ceritakan kepada pembina pramuka itu tidak terjadi, setidaknya untuk hari ini.

Ada cerita tersendiri soal Anung, sebelum ia berangkat ekstrakulikuler pramuka. Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Usianya telah genap empat belas tahun. Anung, remaja berkulit sawo matang yang pernah mempunyai cita-cita menjadi pemain sepakbola, tapi kenyataannya tidak pandai bermain sepakbola itu merupakan anak tunggal. Sebenarnya dua tahun sebelum ibunya—Tirah, mengandung Anung, Tirah sudah mengandung. Tirah terpeleset di kamar mandi, dan mengalami keguguran.

Anung bukan anak manja yang selalu meminta hadiah setiap hari lahir tiba. Selama ini, yang Tirah ingat, Anung baru dua kali meminta, itu pun tidak tepat di hari ulang tahunnya. Permintaan pertama ialah kala usianya sepuluh tahun. Ia merajuk ke ayahnya untuk dibuatkan layang-layang sendaren, Anung mengaku suka dengan bunyi yang dihasilkan dari daun pohon kelapa kering yang dipasang dengan sedemikian rupa di layang-layang—saat Anung meminta, Tirah asyik menjahit baju yang sobek kecantol paku ditemani suaminya. Permintaan kedua pada usia dua belas tahun. Ia hanya menginginkan nasi kuning dengan ayam goreng. Sifat tidak sering meminta Anung, mungkin dilatarbelakangi ekonomi keluarganya. Pekerjaan yang melekat pada ayahnya, buruh tani. Tirah hanya di rumah saja, mengerjakan pekerjaan rumah layaknya seorang perempuan.

Orang tua Anung bukan berarti tidak pernah menanyakan; mau dibelikan apa di hari lahirnya. Mereka selalu menanyai, Anung, meskipun di akhir kalimat tanya yang diucapkan tersambung kalimat yang mengindikasikan tidak mampu memenuhi permintaan bila sesuatu yang diminta di luar batas kemampuan. Namun Anung malah bertanya balik, “Meminta apa, Pak—Bu?”. Orang tua Anung terkadang heran juga dengan sikap anaknya. Mereka selalu dihantui tanya di hari lahir Anung, apa Anung tidak pernah menyaksikan temannya diberi sesuatu oleh orang tuanya di hari lahirnya? Rasa-rasanya mustahil.

“Coba sekali-kali itu kamu minta apa gitu. Jangan sungkan. Jangan merasa tidak enak, dengan kondisi orang tuamu yang seperti ini,” ucap Tirah. Anung sibuk mengancingkan baju pramukanya. Wajah dan rambutnya masih basah oleh air kamar mandi. Sebentar lagi ia akan pergi untuk berangkat pramuka. “Ibu semata-mata hanya ingin melihatmu bahagia di hari lahirmu.”

“Minta apa?” tanya Anung. “Anung belum kepikiran, Bu. Sudahlah, seharusnya ibu tidak perlu repot-repot memikirkan itu. Justru seharusnya Anung yang memberi ibu sesuatu. Semacam di teve-teve. Orang yang ulang tahun, pasti akan membelikan teman-temannya, ya walau kebanyakan cuma makan. Nah, dikarenakan Anung tidak mampu menraktir seluruh teman-teman Anung, maka ibu saja yang Anung ditraktir. Anung sudah lama memikirkan hal ini, dan agaknya baru kali ini akan kesampaian.”

“Pasti orang itu banyak diberi hadiah oleh teman-temannya, sebelum ia memberi balik teman-temannya.”

“Khusus ibu tidak perlu. Ibu spesial. Nanti Anung kasih uang dari tabungan Anung sepulang dari pramuka, untuk besok beli ayam. Ibu pernah berkata, ingin makan ayam bakar buatan sendiri.”

Air mata Tirah pecah, begitu Anung berangkat pramuka. Tirah tidak pernah menduga, Anung begitu perhatian padanya. Perhatian Anung kepadanya, mendorongnya berpikir; ia harus memberikan sesuatu, sehingga Anung bahagia. Tirah sungguh ingin sekali memberi Anung. Di ruang tamu, ia terus memikirkan sesuatu yang pernah ingin dimiliki Anung, tapi hingga saat ini belum kesampaian. Apa, ya? Batinnya.

Remaja itu memang terlalu lugu. Orang tuanya sangat beruntung memiliki Anung di tengah kehidupan yang sederhana. Anak itu tidaklah terlalu pintar. Hanya saja kesadaran beribadahnya lumayan tinggi. Di sekolah Anung sering disuruh oleh guru agama untuk azan bila waktu sembahyang tiba. Selain itu, ia juga rajin dalam menjalani piket di kelas. Teman-temannya perempuan, bahkan malah sering menunjuk Anung kala ada guru yang menyuruh menghapus papan tulis. Remaja itu tidak pernah menolak. Sekali lagi, ia terlalu lugu.

Anung mengikuti teman-teman yang sudah berada di sungai. Dua pembina pramuka berjalan di pinggir sungai, mengawasi siswa-siswi. Seorang pembina, ikut menikmati dinginnya air sungai. 200an murid telah berjalan di sungai. Siswa-siswi itu berjalan ke selatan dengan perlahan, dan di sebelah kanan terlihat tebing menjulang tinggi. Bres. Hujan. 200an murid itu antusias dengan serempak. Tidak ada satu pun dari mereka, termasuk Anung yang menangkap tanda di arah utara. Tidak ada.

Jelas, tidak ada yang tahu kalau limpahan air hujan yang mengalir sedang melaju dengan sangat kencang ke arah siswa-siswi itu. Air limpahan itu menjelma malaikat izrail yang melesat cepat. Gemuruh. Permukaan air mengalami kenaikan. Di akhir perjalanan, saat hendak ke daratan, teriakan-teriakan terdengar. Melengking. Menyayat. Histeris. Teriakan-teriakan itu seperti mengguncangkan tebing. Kiriman air menyapu siswa-siswi itu—hanya sedikit yang berhasil ke daratan. Mereka yang selamat, kebanyakan ada pinggir sungai, saat limpahan air itu datang. Mereka yang masih di tengah, nyaris tidak ada yang selamat. Dua orang yang kebetulan ada di lokasi kejadian akan memancing di sekitar lokasi kejadian, langsung berusaha dengan keras menyelamatkan siswa-siswi begitu air menghempas. Sementara itu pembina yang ikut turun ke sungai, selamat.

Anung tidak ingat dengan janjinya pada ibunya. Yang ada di tempurung kepalanya, ia ingin sekali enyah dari sungai. Hidungnya terasa pedas sekali, setelah berkali-kali kemasukan air. Tenaganya tidak cukup kuat untuk menepikan dirinya sendiri ke pinggir sungai, untuk meraih akar gantung atau pohon yang tumbang atau pohon bambu atau apa saja yang bisa diraih. Arus sungai terlalu kuat baginya—ia tidak berdaya. Ia semakin tidak berdaya dan semakin jauh dari tempat di mana sebagian teman-temannya selamat. Anung tidak dapat memberikan Tirah sebuah kebahagiaan, seperti yang ia janjikan. Kebahagiaan itu telah digantikan oleh kesedihan yang tiada tara. Sebuah kehilangan yang dirasakan Tirah begitu dalam, tepat di hari ulang tahun anaknya. 

Anung terus dibawa arus, hingga tak berdaya, hingga tubuhnya tak lebih dari sehelai daun kering.

*sendaren = merupakan layang-layang yang bentuknya menyerupai burung, biasanya dipasang daun pohon kelapa kering yang telah direbus yang direntangkan dengan bambu melengkung seperti busur panah.

Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji dan Luar Ruang. Bermukim di Bantul, Yogyakarta.
20 thoughts on “Asal Mula Kesedihan”
  1. I don’t even know the way I ended up right here, however
    I thought this publish was good. I do not recognize who you might be but
    certainly you’re going to a well-known blogger should you are not
    already. Cheers!

  2. Pretty section of content. I just stumbled upon your site and in accession capital to
    assert that I acquire in fact enjoyed account your blog posts.
    Any way I’ll be subscribing to your feeds and even I achievement you access
    consistently fast.

  3. Unquestionably believe that which you said. Your favorite justification appeared to be on the internet
    the easiest thing to be aware of. I say to you, I definitely get annoyed while people consider worries that they plainly do not know
    about. You managed to hit the nail upon the top as well as defined
    out the whole thing without having side effect
    , people can take a signal. Will probably be back to get more.
    Thanks

  4. I do not even know how I ended up here, but I thought this post was good.
    I don’t know who you are but certainly you are going to a famous blogger if you aren’t
    already 😉 Cheers!

  5. Hey there! I could have sworn I’ve been to this website before but after browsing through some of the post I realized it’s new to me.
    Anyhow, I’m definitely happy I found it and I’ll be bookmarking and checking back frequently!

  6. Wow, amazing blog layout! How long have you been blogging for?
    you made blogging look easy. The overall look of your
    website is wonderful, as well as the content!

    Feel free to surf to my page; ok388 test id

  7. Hmm is anyone else having problems with the pictures on this blog loading?
    I’m trying to find out if its a problem on my end or if it’s
    the blog. Any feedback would be greatly appreciated.

    Also visit my page: kiosk 918kaya – 918kiss-m.com,

  8. It’s perfect time to make some plans for the future
    and it is time to be happy. I have read this
    post and if I could I wish to suggest you some interesting things or
    tips. Perhaps you can write next articles referring to this article.
    I wish to read even more things about it!

    Review my web site … joker123 mobile download

  9. Hello, i think that i saw you visited my blog thus i
    came to “return the favor”.I am trying to find things to enhance my site!I suppose its ok to use a few of your ideas!!

  10. Appreciating the commitment you put into your blog and in depth information you offer.
    It’s good to come across a blog every once in a while that isn’t the same outdated
    rehashed material. Fantastic read! I’ve bookmarked your site and
    I’m including your RSS feeds to my Google account.

    Feel free to visit my blog: kiosk lionking888 vip

  11. Hmm it seems like your site ate my first comment (it was super long) so I
    guess I’ll just sum it up what I wrote and say, I’m thoroughly enjoying your
    blog. I too am an aspiring blog blogger but I’m still new to the whole thing.

    Do you have any tips and hints for first-time blog writers?
    I’d really appreciate it.

    Look into my web site: Joker888 Casino

  12. If some one wants expert view regarding blogging
    and site-building afterward i advise him/her to pay a
    quick visit this webpage, Keep up the good job.

  13. Please let me know if you’re looking for a author for your blog.
    You have some really great posts and I feel I would be a
    good asset. If you ever want to take some of the load off, I’d
    love to write some content for your blog in exchange for a link back to mine.
    Please send me an e-mail if interested. Many thanks!

    My web-site – joker123 download Pc

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *