Cerpen karebaindonesia.id edisi 02 Agustus 2020

Kasman McTutu

“Posisi kita memang sulit dipahami oleh generasimu, Nak. Generasi yang tidak lagi mendalami ajaran attoriolong.” Lelaki yang usianya sudah menjelang 90an itu masih berbicara dengan runtut dengan kosakata yang jelas.

Aku serius mendengar dan tak lagi mencatat ucapannya yang menurutku penting, tape recorder yang kubawa, semoga masih dalam posis on. Sudah sejam kami, lebih tepatnya dia, mengurai soal identitas gender dalam konstruksi falsafah Bugis yang menjadi penelitianku di Sosiologi Unhas. Lelaki itu menjadi narasumber utamaku.

*     *     *

Suasana riuh. Dusun kecil di pesisir timur Kabupaten Bone mendadak ramai. Pemasangan lamming pada sekujur tiang rumah panggung, serta sepanjang pinggiran baruga yang dilingkari walasuji berlangsung meriah. Beberapa remaja tanggung dengan cekatan memanjat tiang-tiang baruga untuk mengaitkan ujung lamming di pojok atas baruga. Kegiatan memasang lamming dikomandoi oleh seorang lelaki paruh baya berperawakan pendek dan gempal, dengan songkok hitam yang terpasang sedikit miring ke kanan. Sesekali terlihat memberi instruksi dengan jemari telunjuknya yang lentik dan berhias cincin akik merah delima.

Lelaki itu, Haji Mahkota namanya, entah itu nama sebenarnya atau bukan, tapi dia populer dengan nama Aji Kuta’. Pada tahun 80an, namanya melegenda di pesisir timur jazirah Sulawesi Selatan yang meliputi beberapa kabupaten berpenghuni suku Bugis. Menggelar pesta pernikahan atau mappogau’ dengan menggunakan lamming dari Aji Kuta’ adalah sebentuk prestise tersendiri di masyarakat kami. Di samping lamming-nya memang seperti selalu baru, juga karena aura mistik yang melekat pada namanya. Kalau menggunakan Aji Kuta’, botting dijamin akan meriah, undangan berdatangan, dan makanan terasa enak dan melimpah.

Esok, seorang sepupu lelakiku menikah. Maka di sinilah aku kini, menikmati proses pemasangan lamming. Sebagai anak lelaki kelas satu SMP, yang menarik perhatianku bukan lamming-nya yang berkilau, atau segala macam mitos yang melekat pada sosok Aji Kuta’. Lelaki yang mengaku sudah dua kali menginjakkan kaki ke tanah suci Makkah itu berpenampilan unik, menurutku. Selain jemarinya yang lentik, kedua sudut matanya yang bernaung di bawah bulu mata yang lentik, selalu berbalur celak, riasan mata yang di kampung kami hanya digunakan kaum perempuan.

Ketertarikanku pada Aji Kuta’ makin dikuatkan dengan percakapan singkatku barusan. Dengan langkah bak pragawati, dia mendekatiku, kemeja putih polos lengan pendeknya yang dipadu dengan celana panjang dari kain katun, menyeruakkan aroma parfum. Perlahan dia buka tas hitam mengkilap yang selalu dia kepit di bawah ketiak kirinya. Diambilnya tempat bedak mungil, lalu dia bedaki mukanya dan tersenyum ke arahku. Ketika dia menyimpan peralatan kosmetik, tangannya keluar dari tas dengan segenggam permen mint kesukaanku.

Aku terpana dan tak beranjak dari salah satu kursi plastik pinjaman dari kelurahan. Tak aku sadari kalau anak-anak lain berhamburan menjauh dengan tawa cekikikan. Aji Kuta’ kian dekat, dan senyumnya makin lebar. Perlahan dia duduk di sampingku, tangan kanannya menyodorkan permen, sementara tangan kirinya mengelus-elus pahaku. Dia masih tersenyum, belum pernah aku melihat senyum lelaki seperti itu. Aku masih duduk terpaku, hanya mulutku yang sibuk mengemut permen mint pemberiannya.

“Kau suka makan permen, Nak?” Aji Kuta’ menyapaku, suaranya mendayu, merdu sekali. Aku tak menjawab, kuperhatikan dengan baik mukanya, aku merasa aneh. Informasi yang kudengar, Aji Kuta’ adalah seorang lelaki dengan sembilan orang anak, meski mengenai istrinya, aku tak paham. Tapi suaranya begitu lembut, jauh dari nada bariton sebagaimana layaknya lelaki dewasa. Seandainya aku cuma mendengar suaranya, mungkin aku akan berkesimpulan bahwa dia perempuan. Namun nyatanya, dia duduk di sampingku, dan mukanya lebih berkarakter lelaki, meskipun lumayan klimis dan dia berhias bak perempuan.

“Nak, kau suka makan permen?” Aji Kuta’ kembali bertanya. Lagi-lagi aku belum menjawabnya. Dia masih mengelus-elus pahaku, dan dengan tetap tersenyum, sesekali punggung tangannya seperti sengaja dia senggolkan ke batang kemaluanku. Kaget, aku merasa geli dan berusaha menepis tangannya. Aku mengekrut di kursi, seperti kura-kura tersilap cahaya. Dia masih juga berusaha menggerayangi pahaku sambil tersenyum, aku memberengut.

“Kenapa?” Tanya Aji Kuta’ dengan tawa mengambang.

“Gele’-gele’, Aji,” ujarku gemetaran.

“Tapi kau suka toh. Hehehehe…” Dia menjawil pipiku, genit, lalu berlalu.

Sejak kejadian sore itu, sampai tudang botting sepupuku usai, aku berusaha menjauhi Aji Kuta’. Meski demikian, aku selalu berusaha mencuri pandang dari kejauhan, apa yang sedang dia kerjakan, aku penasaran. Nampaknya diapun menyadari tingkahku, beberapa kali kami bersiborok mata, dia tersenyum lebar dan mengedipkan sebelah matanya padaku. Setiap momen itu terjadi, aku merasa geli, bulu kudukku meremang, dan yang paling aneh, aku ereksi. Malam itu, aku tidur sambil membayangkan Aji Kuta’ mengelus lembut rambutku.

Besok sorenya. Saat hajatan dinyatakan usai, ketika beberapa remaja tanggung selesai membongkar lamming, Uding, koordinator mereka mendekatiku.

“Titipannya Aji Kuta’, untukmu.” Ujar Uding sambil menyerahkan amplop cokelat lusuh. Kuintip ke dalam, amplopnya berisi uang.

“Kalau mau jumlah yang lebih besar, gabung bersama kami, jadi anaknya Aji.” Uding melanjutkan sambil menepuk bokongku, lembut, lalu berlalu.

Aku mengeluarkan isi amplop lalu kujejalkan ke saku belakang celanaku, amplopnya melayang ke tumpukan sampah di pojok depan halaman.

*     *     *

Aku bertemu lagi dengan Aji Kuta’ setelah 20 tahun. Senyumnya tak banyak berubah, masih saja hangat dan terkesan manja. Songkok hitam masih menghias kepala, baju kemeja putihnya sudah berganti dengan baju koko, mungkin menyesuaikan dengan trend. Celana katunnya bersalin sarung palekat.

“Masih ingat sama saya, Aji?” Tanyaku padanya siang itu, di teras rumah panggungnya.

“Iya, saya masih mengingatmu, Nak, tak mungkin aku lupa. Takdir kita memang sudah bertaut sejak dulu, aku sudah menantimu sejak lama.” Suaranya yang bergetar, membuat bulu kudukku meremang, tak ada lagi nada kemayu, seperti di masa mudanya dulu.

“Sudah garis tanganmu untuk mewarisi pengetahuan ini, dia memilihmu sejak pertama kita berjumpa, kau berjodoh dengannya.” Aji Kuta’ kembali melanjutkan.

“Aku tak mengerti apa yang Aji maksud.” Aku bingung, khawatir jangan sampai Aji Kuta’ mulai pikun, padahal dia merupakan informan utama penelitianku.

“Harus ada yang menyangga agar Botting Langi’ dan Peretiwi tetap bisa berjarak, pun harus ada jembatan yang menghubungkan penghuni Lino pada penghuni kedua tempat itu. Bila tidak, kehidupan ini akan runtuh, semua akan hancur, Nak.”

“Tapi, apa yang Aji bicarakan?”

“Diamlah, dengarlah saja. Karena dia yang memilihmu, maka dia pula yang akan menuntut dan mengajarimu.”

Siang itu, wawancara penelitian skripsiku tak lagi berjalan normal. Alat tulis telah kuletakkan. Aku khusyu mendengar tuturan lelaki yang pernah begitu mempengaruhi fase awal remajaku, dulu.

“Harus kau pahami, Nak, dalam pandangan orang Bugis, dunia ini terbagi atas tiga bagian, alam atas atau Botting Langi’, alam bawah atau Peretiwi, dan alam tengah atau Lino. Botting Langi’ dan Peretiwi dihuni oleh para dewa, sedangkan Lino adalah tempat kita –manusia, bernaung saat ini.”

“Wah, aku baru dengar hal itu, Aji.” Keluhku, Aji Kuta’ tak peduli.

“Begitupun dengan, apalagi istilah penelitianmu itu?”

“Identitas gender, Aji.”

“Ya, identitas gender dalam pandangan Bugis, tak hanya dua, tapi ada posisi ketiga, yang diisi oleh dua macam identitas gender. Selain laki-laki dan perempuan, ada yang namanya calabai, pun calalai. Saya ini seorang calabai, takdirmu pun begitu.”

Aku masygul, apa Aji Kuta’ menginginkanku menjadi waria, seperti dirinya?

“Tapi jangan samakan calabai dengan waria. Posisi dan kehormatannya jauh berbeda!”

“Di mana bedanya? Bukannya sama saja, Aji?”

“Kau sudah paham tentang tiga lapis alam kan? Nah, yang bisa menjadi penghubung antar alam, hanyalah mereka yang berkarakter perempuan, atau feminin dalam istilahmu, dan juga suci. Kau paham artinya suci? Mereka tak tercemar oleh darah haid. Itu berarti hanya para calabai dan sebagian kecil calalai-lah yang bisa mengambil peran ini –menjadi penyangga dan penghubung antar alam secara spiritual. Ini bukan pekerjaan kecil, Nak.” Kulihat ada keharuan di raut mukanya.

Aku menghela nafas panjang, melonggarkan rongga dada dari himpitan rasa bersalah karena terasing dari pemahaman masyarakatku, masyarakat Bugis.

“Posisi spiritual itulah yang dikenal dengan nama bissu. Namun sayang, sejak era Indonesia merdeka, kami hanya berani mempraktikkan ritual bissu secara sembunyi-sembunyi. Maka perlahan, harkat para calabai perlahan menjadi sekadar waria biasa tanpa penghargaan, bahkan dipojokkan sebagai sampah masyarakat.” Suara Aji Kuta’ bergetar, kulihat bulir air mata merembes di pipinya yang klimis. Dia menangis, tanpa isak dan sedu sedan.

Catatan tambahan:

* attoriolong: keyakinan Bugis pra-Islam, mengacu ke ajaran nenek moyang.

* lamming: renda bermanik-manik, untuk menghias pelaminan dan baruga.

* baruga: aula terbuka sementara untuk resepsi pernikahan

* walasuji: pagar yang terbuat dari bilah bambu yang dijalin silang, digunakan sebagai dinding baruga

* mappogau: menggelar pesta

* botting: perkawinan

* gele’-gele’: geli

* tudang botting: resepsi perkawinan

* calabai: laki-laki yang bertingkah laku seperti perempuan

* calalai: perempuan yang bertingkah laku seperti laki-laki * bissu: pemuka agama dalam keyakinan Bugis Pra-Islam


Kasman McTutu | Founder http://makassarbuku.net | Menerbitkan Kumcer Mata Itu Aku Kenal (2012) | twitter: @KasmanMcTutu | wa/line: +6282 293 716 538 | web-blog : http://kasmanpost.blogspot.com | surel: kasmanku@gmail.com | IG: @kasman.mctutu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *