Oleh: Nabila (Pegiat Literasi)

karebaindonesia.id

karebaindonesia.id – Belajar adalah kunci seseorang untuk sukses dan menelangi ilmu yang sungguh-sungguh, saya senang belajar karena di dalamnya saya bisa tahu apa-apa saja yang selama tak saya ketahui seperti teori-teori atau praktik pun. Mengapa di ciptakan belajar karena ada faedah-faedah yang ditentukan di dalamnya seperti faedah mencernah iilmu, contoh ilmu sosial,ilmu politik,ilmu hokum, dan ilmu lainnya.

Oh iya saya adalah seorang difabel netra yang sudah lulus SMK, saya bersekolah mulai dari TK,SD,SMP,SMK, dan saat ini saya akan masuk di perguruan tinggi negri yang ada di Makassar. 12 tahun saya bersekolah tapi sekolah saya itu berbeda seperti orang pada umumnya lah, sewaktu TK saya bersekolah reguler di dekat rumah nama sekolah itu adalah Taman Kanak-kanak Ujung Pandang Baru selama 1 tahun.

Waktu SD, saya masuk di sekolah regular juga tapi hanya bertahan 1 tahun saja karena hambatan penglihatan, maklum waktu itu saya belum pandai untuk memasyarakatkan difabel di luaran sana, jadi orang tua memindahkan saya di sekolah luar biasa nama sekolah itu SLB-A/Yapti Makassar, Saat masuk kepala sekolah nya sangatlah ramah dan santun kepada saya yang seaktu itu masih lugu dan tak paham dengan keadaan, saya di jelaskan bahwa di sekolah ini memiliki fasilitas yang memadai untuk difabel Netra seperti saya ini dan saat mendengar penjelasan kepala sekolah saya tergeleng-geleng pada saat kepala sekolah itu bilang kalau disini memiliki computer berbicara, ya hanya heran saja kenapa bisa ya ada computer yang bicara emang punya mulut gitu, ya maklum usia saya waktu itu masih 7 Tahunan jadi masih pikiran kekanak-kanakan lah, tak lama kemudian ada siswa yang masuk ke ruangan itu dan berkenalan pada saya.

Saya masuk di sekolah itu pertama kali harus di ajar tulisan khusus disabilitas Netra dan nama tulisan itu adalah Braille saat di perlihatkan contoh nya saya hanya terheran-heran saja karena dalam pikiran kok bisa ya tulisan titik-titik ini yang harus di ketahui seseorang yang seperti saya keadaanny, tetapi saya tak peduli itu dan saya pun melanjutkan belajar menulis tulisan itu sambil merenungi bagaimana cara memahaminya. Tapi Alhamdulillah saya bisa memahami tulisan itu selama 1 minggu dan bisa juga membaca tulisan itu selama 1 minggu juga sangat tak saralah rasanya karena secepat itu saya memahami tulisan selit itu padahal dalam hati dan pikiran saya tidak akan bisa-bisa nih untuk memahami tulisan yang sangat tidak jelas ini.

Tak lama juga saya pun di ajari untuk mengakses computer khusus disabilitas Netra itu, saat saya masuk di rungan tempat belajar computer itu saya pun mencari sestuatu yang membuat computer itu bicara ya mungkin saya cari mulutnya karena dalam pikiran bagaimana caranya bisa bicara kalau tidak menggunakan mulut, saat itu guru pun menjelaskan pada saya bahwasannya computer ini bukan pakai mulut tapi menggunakan pembaca layar yang namanya joss yang membantu penyandang disabilitas Netra untuk mengakses tulisan atau fitur-fitur yang ada di dalam computer ini.

Dari penjelasan itu saya pun akhirnya paham arti dari computer berbicara itu, saya pun mulai mengakses nya dan di ajarkan bagaimana cara mengetik di kybort computer dengan menggunakan 10 jari, awalnya memang sulit tapi lama kelamaan dan usaha saya untuk belajar sangat baik makanya secepat itu saya mampu mengakses computer dan mengakses pengetikkan 10 jari itu.

Seiring waktu berlalu saya pun lulus dari SD (Sekolah Dasar) dan sebenarnya saya ingin sekali kembali bersekolah regular tapi setelah saya piker-pikir potensi saya belum mampu untuk mengintegrasikan diri untuk beradaptasi dengan masyarakat umum, jadi saya pun kembali melanjutkan pendidikan SMP (Sekolah Menengah Pertama) di Yapti lagi, banyak sekali teman-teman yang mengusulkan saya untuk bersekolah regular tapi mau gimana lagi kalau kemampuan belum pas untuk ke sana. Salah satu orang yang sangat mendororng saya untuk berinklusi itu ialah pengurus-pengurus Pertuni SulSel yang katanya melihat ada potensi pada diri saya untuk inklusi, tapi saya bilang nantilah ketika SMA baru saya inklusi dan akhirnya mereka pun setuju dengan keputusan saya itu.

3 tahun berlalu saya pun lulus SMP (Sekolah Menengah Pertama), saya di Tanya kembali oleh pengurus Pertuni apakah saya sudah mantap untuk berinklusi, saya pun menajwab saya sudah mantap dan ingin mendaftar di sekolah regular yang ada di Makassar ini. Saya awalnya ingin sekali masuk di SMA (Sekolah Menengah Atas), tetapi orangtua mengusulkan agar saya masuk SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) dan keinginan orangtua pun saya kebulkan, smk memang pitensi untuk kerjanya sangatlah gampang dan ketika selesai sekolah pun jika sudah ingi bekerja pun bisa tapi saya belum mau untuk langsung kerja karena sama seperti sewaktu smp lalu, saya berpikir belum bisa untuk ke sana Karena potensi untuk kerja pun saya belum bisa selain karena ada hambatan penglihatan saya juga belum berkeinginan untuk kerja.
Saya memasuki smk dan mendaftar jurusan Administrasi Perkantoran. Berbicara perkantoran saya memang senang ketika ke kantor dan melihat pegawai-pegawai kantor itu bekerja dengan seriusnya dan memakai seragam rapih di badannya, ketika mengantar mama ke kantor saya suka berpikir bahwa saya juga ingin seperti mereka yang cantik-cantik dan pintar-pintar dalam mengerjakan administratif karena menurut saya itu keren dan sangatlah gampang. Nah, saya kelas 2 SMk saya harus PKl (Praktek Kerja Lapangan), saya memilih instansi Bea Cukai Sulawesi Bagian Selatan. Saat masuk mereka sangat sungkan kepada saya karena kedifabelan saya ini, mereka pun bertanya bagaimana nantinya saya bekerja di kantor ini dengan keadaan saya seperti ini, saya pun menjelaskan secara detail pada mereka bahwa dengan kekurangan saya ini ada hikma terbesar di dalamnya dan siapa bilang saya tak bisa seperti mereka-mereka yang bekerja dengan sangat biasa karena tak memiliki kekurangan seperti saya. Sudah banyak yang sudah sukses di luaran sana meski tunanetra tapi jiwa untuk berjuang itu sangatlah tinggi di karenakan ekspektasi untuk maju lebih tinggi. Dari situlah mereka sadar dan mau menerima saya sebagai sisea PKL di sana.
Saat sudah berlangsung pembelajarannya, saya pun di suruh mengarsip beberapa arsipan yang ada di salah satu ruangan yang ada di kantor itu, nama ruangannya ialah ruangan kepabeanan, mereka kembali bertanya apakah saya bisa mengarsip? Saya pun bilang kenapa tidak, saya pun bisa mengarsip karena di sekolah kami pun di ajarkan bagaimana cara mengarsip dengan baik dan benar, saat itu mereka sadar bahwa tunanetra tidak punya lagi hambatan-hambatan untuk bekerja dimana saja selagi mereka ingin dan mampu untuk belajar dan bekerja.

4 thoughts on “Belajar Bagi Seorang Difabel Netra”
  1. Howdy! I realize this is somewhat off-topic however I needed to ask.
    Does building a well-established website like
    yours take a massive amount work? I’m completely
    new to operating a blog but I do write in my diary every day.
    I’d like to start a blog so I can share my own experience and views online.
    Please let me know if you have any ideas or tips for new aspiring blog owners.

    Thankyou! http://herreramedical.org/azithromycin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *