Ilustrator “Berguru Kepada Orang Gila” by Adi Syahraeni

Siapapun mungkin merasa aneh ketika melihat orang gila yang tampak begitu rapi. Aku pun tak menyangka ketika kulihat lelaki paruh baya yang memakai pakaian dinas Aparatur Sipil Negara, sepatuh hitam mengkilat, serta rambut klimis yang berdiri di depan parkiran kafe itu adalah orang gila. Aku meneguk segelas kopi sekaligus menatapnya penuh heran sembari membaca buku Tere Liye berjudul “Negeri Para Bedebah”. Sungguh, orang gila itu rapi sekali. Bahkan lebih rapi dari presiden saat sambutan di Istana.

Lama aku menatap orang gila itu, seorang pemuda seusiaku tanpa permisi tiba-tiba duduk tepat di sampingku. Sepertinya, pemuda ini tahu apa yang aku pikirkan.

“Apa kau mau tahu mengapa beliau jadi gila?” Belum aku menjawab apa yang ditanyakannya, ia pun memulai cerita.

***

Kemeja kotak-kotak berwarna biru langit dan celana kain hitam telah ia pakai. Ikat pinggang berbahan kulit yang dibelinya di pasar malam meliliti perutnya yang setengah buncit. Tak lupa sepatu pantofel dan sedikit minyak wangi disemprotkan ke tubuh. Di hadapan cermin, Cilaka menatap dirinya yang rapi dengan senyuman khas seorang pejabat. Sesekali pandangannya beralih ke jam digital di tangan kirinya. Pukul enam lewat tiga puluh menit. Itu berarti sepuluh menit lagi ia harus berangkat ke sekolah.

Lima belas tahun sebagai guru honorer, Cilaka dikenal sangat disiplin terhadap waktu. Baginya, sungguh dosa yang sangat besar jika ia datang terlambat dibanding siswanya. Itulah mengapa tiap tahun ia diberi penghargaan sebagai guru terfavorit di sekolahnya mengajar. Walaupun penghargaan itu tak berdampak pada honornya dalam sebulan yang hanya cukup untuk membeli hape senter-senter.

Hari ini akan menjadi hari yang ditunggu-tunggu bagi para guru honorer. Setelah tiga bulan terlewati, mereka akan mendapatkan upah atas kerja kerasnya selama ini dalam mendidik generasi bangsa. Cilaka pun semakin bersemangat mengisi tiga mata pelajaran sekaligus—jadwal yang sebenarnya cuma satu mata pelajaran, tetapi ia terpaksa harus mengisi dua yang kosong karena guru pengampuh berhalangan masuk kelas.

“Baiklah, anak-anak. Pelajaran hari ini telah selesai. Jangan lupa kerjakan PR di rumah,”  Cilaka menutup buku modul sekaligus mengakhiri jam pelajaran.

“Sekarang ketua kelas silakan memimpin doa, kemudian yang paling tenang, akan pulang duluan.” Seluruh siswa melipat tangan di atas meja. Kelas yang tadinya ribut karena kecerewetan khas kanak-kanak, tetiba menjadi sunyi bagai mematung seakan waktu terhenti. Anak-anak memang selalu bisa menurut jika dijanjikan imbalan.

Setelah mengajar tiga mata pelajaran dalam sehari, Cilaka hari ini diberi honor sebesar satu juta seratus lima puluh ribu. Yang biasanya cuma sejuta, sisanya didapatkan dari bonus atas kelas kosong yang telah ia isi. Cilaka begitu menikmati pekerjaannya meski hanya sebagai guru honorer. Menjadi guru adalah profesi yang membanggakan bagi dirinya, orang tuanya, dan tentu kekasihnya.

Cilaka memiliki empat saudara. Satu perempuan, tiga laki-laki. Adik perempuannya bekerja sebagai karyawan jasa penatu. Sementara tiga saudara laki-lakinya, ada yang memilih jadi penjual siomai, sisanya jadi kuli bangunan. Beberapa kali ia mendaftar Pe-En-Es tetapi selalu gagal di tes logika dan wawancara. Sebenarnya sejak kecil ia tidak pernah bercita-cita menjadi guru. Cita-cita Cilaka adalah ingin menjadi kepala desa. Tetapi karena harapan orang tua yang selalu mendoakannya menjadi guru, akhirnya Cilaka benar-benar menjadi seorang guru. Seringkali kita memang harus percaya bahwa doa orang tua selalu lebih mujarab. Ya, begitulah kondisi Cilaka saat ini.

Cilaka yang selalu tak lulus jadi Pe-En-Es berbanding terbalik dengan Parasu. Parasu adalah sahabat Cilaka sejak kecil yang kini menjadi guru Pe-En-Es dan saat ini mengajar satu sekolah dengannya. Walau berbeda nasib, Cilaka dan Parasu tetap saling membantu dan memberi motivasi. Sore ini, mereka duduk dan berdiskusi di sebuah warung kopi bernama Warkop Bukan Milik Negara. Merayakan gaji yang didapatkannya setelah mengajar.

“Jadi bagaimana perkembangan si dia?” Di tengah perbincangan mereka tentang sekolah, Parasu tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.

“Perkembangan apanya?”

“Aduh! Perkembangan kamu sama si Teyami.”

“Oh itu. Alhamdulillah.”

“Alhamdulillah apanya?”

“Uang panaik sudah cukup. Saatnya formasi bertahan beralih jadi formasi menyerang.”

Cilaka tersenyum. Wajahnya memancarkan aura keyakinan. Dalam perbincangan soal asmara, mereka memang selalu mengaitkannya pada filosofi sepakbola. Cilaka dan Parasu adalah penggemar berat olahraga sepakbola. Cilaka penggemar klub AC Milan, sedangkan Parasu penggemar Juventus. Seringkali di sela-sela diskusi, mereka berdebat dan saling ejek ketika salah satu di antara klub idola masing-masing mengalami kekalahan. Namun hal itu tidak membuat mereka bermusuhan. Segelas kopi memang selalu pandai menyatukan perbedaan.

“Jadi kapan kau akan pergi melamar?”

Parasu meneguk kopi yang asapnya mengepul ke langit-langit warkop. Dari dalam kantong celana, ia mengeluarkan sebatang rokok. Kemudian membakar ujungnya dengan korek gas berwarna hitam putih yang di tengahnya terdapat logo Juventus. Asap kopi yang tadinya berdansa di langit-langit serasa berpelukan mesra dengan asap rokok.

“Pekan depan saya akan ke rumahnya.”

“Apa kau yakin?”

“Maksud kamu?”

“Begini Cil …” Parasu menarik napas sejenak. Lalu menghisap kembali rokok.

“Kau tahu beberapa bulan lagi akan ada pemilihan kepala desa.”

“Lalu apa hubungannya dengan saya?”

“Kau sepertinya cocok jadi kepala desa.”

“Hahaha. Kau bercanda, Su.”

“Tidak. Aku serius. Aku sangat kenal kau, Cil. Kau memiliki kriteria yang mumpuni untuk jadi kepala desa. Pertama, kau adalah guru teladan di sekolah. Kedua, kau orangnya sabar, sungguh sabar malah. Ketiga, di mata warga di sini, kau dianggap dermawan dan tidak sombong. Desa ini butuh pemimpin seperti kau, Cil. Pokoknya, aku siap jadi tim suksesmu. Berdarah-darah bahkan untuk memenangkanmu.”

“Tapi modal untuk mencalonkan jadi kepala desa itu tidak sedikit, Su. Kau sendiri tahu, selama ini gaji saya sepuluh tahun kusimpan untuk melamar Teyami. Itupun ditambah dengan hasil panen padi, jual buku modul dan jual-jualan donat untuk siswa di sekolah.” Cilaka mencoba membantah.

“Cil, biar kuberi tahu. Gaji kepala desa itu besar. Belum lagi tunjangan, pajak warga, dan dana instentif dari pemerintah. Jika ditotalkan semua, gaji sebulan saja bisa menutupi sepuluh tahun gajimu jadi guru honorer. Anggap saja kau sedang menerapkan formasi All Out Attack. Strategimenyerang total untuk mendapatkan banyak gol.”

“Apa mungkin bisa seperti itu?” Cilaka masih tak yakin.

“Ya bisalah, Cil. Bayangkan saja, dalam setengah tahun, gaji sebesar itu kau bisa melamar kekasihmu, dan juga bisa membawa kakakmu, adikmu, tantemu, nenekmu, bahkan semua keluargamu ke tanah suci.”

Mendengar hal itu, kedua mata Cilaka langsung terbelalak. Pikirannya terbang jauh ke tanah suci. Membayangkan wajah bahagia kekasih dan keluarganya berkeliling Kota Makkah dan Madinah. Sepintas ia tersenyum sendiri, melupakan setengah gelas kopi yang telah dingin. Betapa khayalan begitu gampang membawa kebahagiaan.

Malam demi malam, Cilaka memikirkan hal itu. Kalau ia pikir-pikir, apa yang diucapkan Parasu ada benarnya juga. Menjadi kepala desa akan membuatnya cepat memeroleh uang. Selain itu, pamor dirinya juga akan naik, bahkan dipandang hormat semua warga. Dan yang pasti keluarga dan kekasihnya bangga.

Akan tetapi, persoalan rindu juga tak bisa ditunda-tunda. Teyami terus memberi kode kepada Cilaka agar segera mempersunting dirinya. Sudah lima tahun mereka pacaran, tapi Cilaka belum punya biaya untuk menikahinya.

“Sayang, kabarnya, adik aku yang perempuan akan segera dilamar kekasihnya. Tetapi ia menunda karena menunggu aku untuk duluan menikah.”

Cilaka bukannya tak peka, ia justru sangat memahami maksud dari perkataan kekasihnya. Saat ini, ia masih bimbang dengan pilihannya. Godaan untuk mendaftar jadi kepala desa menghantuinya berhari-hari. Pun dengan kekasihnya yang tak henti-henti memberi kode padanya bertubi-tubi. Saat ini, dia sedang diburu deadline. Sementara itu, ia mendapat kabar bahwa tiga hari lagi hari pendaftaran calon kepala desa akan berakhir. Itu berarti Cilaka harus menentukan pilihan. Kepalanya kini bertambah pusing bagai dihantam palu godam. Menentukan pilihan antara harta, tahta, dan wanita memang perkara yang rumit.

Malam harinya, Cilaka tak bisa tidur. Dilihatnya langit-langit seng kamarnya yang beberapa telah bocor, membuat cahaya rembulan menyelinap mengecup keningnya. Ia kini terus berbaring tanpa memejamkan mata. Seketika bayangan dirinya yang memakai pakaian pengantin melayang-layang memutari setitik cahaya rembulan. Beberapa saat kemudian berganti dengan bayangan dirinya yang memakai pakaian dinas kepala desa. Lalu berganti lagi dengan pakaian pengantin. Begitu seterusnya, sampai azan subuh berkumandang. Kedua matanya masih sulit terpejam. Sesekali pun ia paksa matanya tertutup tetapi tak mampu membawa dirinya sampai ke alam mimpi. Hingga akhirnya ia memilih untuk tidak tidur sampai matahari terbit. Akibatnya, tubuhnya pun demam dan untuk pertama kalinya ia harus absen mengajar.

Ia lalu dijenguk oleh Parasu sepulang mengajar. Parasu datang bukan hanya untuk menjenguk, tetapi juga memberi informasi bahwa sampai saat ini baru ada satu orang yang mendaftar jadi calon kepala desa. Orang itu tak lain adalah Haji Carutu, adik kandung kepala desa yang tentunya adalah calon kuat.

“Kita bisa mengalahkan Haji Carutu dengan mudah. Aku sangat tahu celanya.” Bujuk Parasu sangat yakin.

“Pokoknya, kalau kau sudah menentukan pilihan untuk mencalonkan diri jadi kepala desa, biar aku saja yang uruskan semua berkas-berkasmu. Kamu di rumah saja istirahat.”

Tanpa berpikir panjang dan tanpa banyak pertimbangan, saat itu juga Cilaka memutuskan untuk melawan Haji Carutu dalam memperebutkan kursi kepala desa. Berita itupun langsung tersebar luas dari bibir ke bibir di seluruh kampung. Tak terkecuali Teyami.

Rupanya mencalonkan jadi kepala desa tak membuat kekasihnya bangga. Sebaliknya, Teyami merasa kecewa. Perempuan berkulit langsat itu seolah tak percaya bahwa Cilaka lebih memilih bertarung memperebutkan kursi kepala desa ketimbang kursi pelaminan bersamanya. Semua ternyata sia-sia. Setelah bertahun-tahun ia menanti dan disakiti, kesabarannya sungguh kini telah mati.

***

Waktu telah memasuki masa-masa kampanye bagi tiap calon kepala desa. Sungguh celaka bagi Cilaka, di hari yang sangat penting itu, ketua juru kampanyenya, Parasu, menghilang tanpa kabar. Berkali-kali ia ke sekolah, tetapi tak ditemui batang hidungnya. Cilaka mencoba berkunjung ke rumahnya, namun jangankan Parasu, seorang pun tak ia temui di rumah itu. Hingga akhirnya, Cilaka menanyakan Parasu di tetangga rumah. Katanya, sudah beberapa hari yang lalu, Parasu dan keluarga pergi ke luar kota. Entah urusan apa.

Di sisi lain, waktu yang telah mendesak membuat Cilaka mau tak mau harus mengurus segalanya tanpa Parasu. Kesempatan untuk kampanye hanya diberikan satu minggu bagi tiap calon. Cilaka tak ingin membuang-buang waktu untuk mencari sahabatnya. Ia harus fokus menyosialisasikan dirinya kepada seluruh warga. Ia sekarang terlanjur berada di medan pertempuran politik. Sebagai seorang lelaki berdarah bugis, maka pantang baginya sejengkal pun mundur apalagi menyerah. Ia tetap akan maju tanpa peduli hasilnya menang ataupun kalah.

***

Tepat hari penyoblosan, hasil akhir pemilihan kepala desa menunjukkan Cilaka kalah telak oleh Haji Carutu. Cilaka hanya mendapat 100 suara, sedangkan Haji Carutu meraup 3.000 lebih suara. Cilaka yang tak menerima kekalahan itu berupaya melaporkan Haji Carutu dan Panitia Pemilihan Kades ke pihak yang berwajib. Ia menuntut agar diadakan pemilihan ulang sebab menduga Haji Carutu telah menyogok warga dan Panitia Pemilihan Kades. Meskipun tak bisa dipungkiri, ia juga diam-diam menyogok warga dan beberapa panitia untuk memenangkannya. Namun nahas, sogokan Haji Carutu lebih banyak dibanding dirinya.

Beberapa hari kemudian, pihak yang berwajib memutuskan bahwa tidak akan ada pemilihan ulang. Tidak ada bukti kuat menunjukkan adanya kecurangan yang dilakukan Haji Carutu dan Panitia Penyelenggara. Akhirnya, Haji Carutu ditetapkan sebagai kepala desa yang sah. Cilaka masih tak percaya, padahal ia dan timnya telah menunjukkan beberapa bukti dan saksi.

“Saudara Cilaka harus ikhlas menerima semua ini. Dalam politik selalu ada menang dan kalah. Ini adalah kemenangan seluruh warga. Mari sama-sama kita rayakan.”

Begitulah kalimat penyemangat Haji Carutu kepada Cilaka yang masih tak bisa menerima kekalahan. Haji Carutu tersenyum manis memandang kesedihan lawan politiknya. Meski diam-diam ia menyimpan rahasia. Rahasia yang sangat besar.

Tanpa sepengetahuan warga termasuk Cilaka. Jauh hari sebelum pihak yang berwajib menerima tuntutan perkara, rupanya tim Haji Carutu sudah melakukan ‘pergerakan bawah tanah’. Mereka menyogok pihak yang berwajib agar tidak menerima tuntutan yang dilaporkan Tim Pemenangan Cilaka. Ah, segalanya memang begitu gampang diatur dengan uang. Cilaka yang menuntut tanpa pelicin, jelas tak mampu mengubah apapun.

Cilaka akhirnya pasrah. Di teras rumahnya, ia merenungkan diri sambil memandangi langit yang gelap tanpa satupun rias bintang ataupun cahaya rembulan. Perlahan ia menyesal telah mempertaruhkan hasil tabungannya selama 10 tahun demi bertarung di panggung politik. Lama ia merenung, seketika kata ‘andai’ meluap-luap di kepalanya. Andai ia tak terjerumus godaan kekuasaan. Andai ia lebih banyak bersyukur. Andai tabungannya ia gunakan untuk melamar Teyami. Andai ia sudah menikah dengan kekasihnya. Andai ia tak menyakiti Teyami. Andai… Andai… Andai… Kata itu kini tak kuasa membuatnya rindu terhadap Teyami. Ia pun mencoba memberanikan diri menghubungi perempuan itu. Perempuan yang telah lama bersamanya menjalin asmara. Namun sebelum ia meraih ponsel, ibunya tanpa sengaja memberinya sebuah kabar. Kabar yang semakin membuatnya semakin berantakan.

“Tadi sore Parasu datang ke rumah.”

“Parasu? Kenapa ibu tidak bilang-bilang, aku ingin sekali menghajarnya.”

“Awalnya saya juga tak suka dengan kedatangannya. Tetapi ia bersama seorang perempuan. Dan perempuan itu …” Sejenak, ibu Cilaka memegang dagu. Berusaha mengingat-ingat.

“Siapa perempuan itu. Bu?” Cilaka semakin penasaran.

“Kalau tidak salah, perempuan itu adalah Teyami.”

“Teyami? Apa yang dilakukan Parasu datang bersama Teyami?”

“Seminggu lagi mereka akan menikah. Dan mereka membawa undangan ini untukmu.”

Kedua mata Cilaka mendadak merah. Ia tak kuasa dan tak percaya memegangi sepucuk undangan berwarna putih dengan motif hitam dan emas. Dibacanya perlahan sampul undangan itu dengan rasa cemas yang mendebarkan. Kedua tangannya gemetar. Dadanya terguncang. Ia tak bisa mengatur napas dengan baik tatkala dibacanya halaman utama undangan itu bertuliskan dua nama yang tak asing baginya: Parasu dan Teyami.

Beberapa malam setelah kejadian nahas itu, Cilaka mulai sering berperilaku aneh. Tak ingin makan, tak ingin mandi, tak ingin bicara, tetapi anehnya ia tak bisa mati-mati. Berhari-hari ia hanya duduk mengkhayal di depan teras rumah. Membayangkan sesuatu yang hanya ia dan Tuhan yang tahu. Orang tuanya pun mulai panik. Pernah ia ingin dibawa ke dokter psikiatri, tetapi Cilaka mengamuk. Ia hanya ingin duduk di kursi itu, entah siapa yang ditunggu.

Lalu suatu hari, betapa orang tuanya terkejut melihat Cilaka berdandan menggunakan pakaian dinas Aparatur Sipil Negara, lengkap dengan sepatu hitam dan minyak wangi dioleskan di rambutnya. Setelah berdandan rapi, Cilaka pun pergi tanpa sepengetahuan orang-orang. Info terakhir yang terdengar, kabarnya ia minggat ke kota. Namun tak seorangpun yang tahu pasti, ke kota mana ia melangkahkan kaki.

***

Pemuda itu pun menghakhiri cerita sembari meneguk kopinya yang tersisa setengah. Aku penasaran dari mana ia bisa banyak tahu kisah tentang orang gila itu. Rasa penasaran selalu memaksa kita untuk ingin bertanya. Dan aku pun memberanikan untuk menanyainya.

“Darimana anda banyak tahu kisah tentang orang gila itu?”

Pemuda itu tak menjawab. Aku mulai jengkel dengan sikapnya yang misterius. Beberapa menit kemudian, ia pergi menemui orang gila itu. Lalu meraih tangan kanannya. Menciumnya. Memeluknya. Orang gila itu seketika menangis, kemudian tertawa setelah pemuda itu meninggalkannya. Sebuah pemandangan yang kini membuatku banyak mengerti.

*Cerpen ini adalah satu di antara cerpen-cerpen Tetta Sally dalam buku “Tata Cara Bersuci dari Patah Hati”

Tetta Sally. Owner San Siro Meubel. Ketua FLP Cabang Makassar 2019-2021. Penulis Kumpulan Cerpen “Perempuan Dilarang Bahagia” (2020) dan “Tata Cara Bersuci dari Patah Hati” (2021). Bisa dihubungi melalui akun @tettasallyy.

By Kareba Indonesia

Pemimpin Redaksi Kareba Indonesia

89 thoughts on “‘Berguru Kepada Orang Gila’ Cerpen Tetta Sally”
  1. What i don’t realize is actually how you are not really much more well-liked than you may be right now. You are very intelligent. You realize therefore significantly relating to this subject, produced me personally consider it from a lot of varied angles. Its like women and men aren’t fascinated unless it’s one thing to do with Lady gaga! Your own stuffs outstanding. Always maintain it up!

  2. בחלק מן המקרים, מתרחשת השפיכה המוקדמת רק במסגרת המגע המיני הראשון של אותו הגבר, אך לעתים קרובות – מדובר בבעיה שנוטה להשנות פעמים נוספות וליצור אצל הסובלים ממנה ובני זוגם מבוכה רבה, וכן תחושות קשות של תסכול, בושה ואי נוחות בחדר המיטות – אשר עלולים בסופו של דבר גם להביא לאין אונות אמיתית וקושי להגיע לזקפה בעקבות הלחץ שהסיטואציה של השפיכה המוקדמת מייצרת. דירות דיסקרטיות ברמת גן

  3. Nice read, I just passed this onto a friend who was doing a little research on that. And he actually bought me lunch since I found it for him smile Therefore let me rephrase that: Thank you for lunch!

  4. I have been exploring for a bit for any high-quality articles or blog posts on this sort of area . Exploring in Yahoo I ultimately stumbled upon this web site. Reading this information So i am satisfied to exhibit that I have a very just right uncanny feeling I found out just what I needed. I most no doubt will make sure to do not put out of your mind this website and provides it a glance regularly.

  5. Oh my goodness! a tremendous article dude. Thank you Nonetheless I’m experiencing issue with ur rss . Don’t know why Unable to subscribe to it. Is there anyone getting identical rss problem? Anyone who knows kindly respond. Thnkx

  6. Thank you for another informative blog. Where else could I get that type of info written in such a perfect way? I have a project that I’m just now working on, and I have been on the look out for such info.

  7. Howdy! This is my first visit to your blog! We are a group of volunteers and starting a new project in a community in the same niche. Your blog provided us beneficial information to work on. You have done a wonderful job!

  8. What i don’t realize is actually how you’re not really much more well-liked than you may be now. You are very intelligent. You realize thus significantly relating to this subject, produced me personally consider it from a lot of varied angles. Its like women and men aren’t fascinated unless it is one thing to accomplish with Lady gaga! Your own stuffs great. Always maintain it up!

  9. I like what you guys are up too. Such intelligent work and reporting! Keep up the superb works guys I have incorporated you guys to my blogroll. I think it’ll improve the value of my site 🙂

  10. It?¦s really a nice and useful piece of info. I?¦m satisfied that you just shared this helpful information with us. Please keep us informed like this. Thank you for sharing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Redaksi