Oleh: Muhsin El Shaarawy
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab

Muhsin El Shaarawy, Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Arab Unismuh Makassar.

karebaindonesia.id – Makassar dibuat kaget oleh ledakan bom bunuh diri yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Bom tersebut diledakkan pas di depan gereja katedral katolik pada Ahad (28/03/2021) kemarin.

Dugaan sementara yang tersebar di sejumlah media online mengambarkan bahwa sosok pelaku adalah seorang pria yang menaiki motor Beat warna kuning bersama istrinya yang konon kabarnya baru menikah enam bulan yang lalu.

Yang menjadi polemik di masyarakat, dengan adanya ledakan bom ini, penilaian mereka terhadap yang berusaha menjalankan sunah seperti celana cingkrang dan bercadar spontan menjadi negatif. Pasalnya, pelaku yang disebutkan oleh media berpakaian syar’i. Suami berpakaian layaknya ustaz, dan istrinya menggunakan cadar seperti yang terlihat pada foto yang beredar.

Penilaian seperti ini perlu diluruskan, akan ada banyak korban yang berjatuhan jika kita menilai bahwa mereka yang mengenakan celana cingkrang dan cadar adalah teroris. Orang agama memang pelakunya, memakai perspektif pemahaman yang ekstrim. Akhirnya secara tidak langsung pelaku bom bunuh diri yang lahir dari tafsir agama yang ekstrim menakibatkan citra Islam rusak karena dilakukan oleh orang Islam.

Ini merupakan catatan penting bagi pihak yang berwajib untuk mengusut tuntas identitas pelaku. Jangan berhenti hanya pada titik itu, tapi entah siapa dalang dari peristiwa ini. Sebagai masyarakat yang berintelektual, yang mempunyai pemahaman baik, tentu tidak akan mudah menerima informasi yang belum tentu kebenarannya.

Kebiasaan nyinyir warganet Indonesia membuat resah mereka yang berusaha menutup aurat. Begitu banyak bisa dijumpai di sejumlah media sosial pasca tragedy bom bunuh diri Makassar. Menyudutkan mereka yang bercadar, berjenggot, memakai jubah, celana cingkrang, sampai cap Islam radikal muncul kembali ke permukaan.
Kebiasaan nyinyir sampai menggoreng opini yang menjatuhkan mereka yang bercadar sangat mencederai kerukunan yang selama ini dirawat.

Berbicara tentang identitas, anehnya kenapa hanya pakaian yang disoroti?. Pelaku memakai pakaian syar’i, semua yang memakai pakaian demikian pun dicurigai teroris.

Jika terus berpikir demikian, kenapa tidak kita cap juga semua yang memakai motor Honda Beat adalah teroris?, karena jika kembali melihat foto yang beredar, pelaku menggunakan motor Beat dan sangat jelas di kamera cctv. Sungguh tidak adil rasanya jika cap teroris hanya dilihat pada penampilan atau pakaian.

Yang menarik selanjutnya untuk dikupas adalah cap radikal, karena cap radikal akan tertuju lagi-lagi kepada mereka yang berjenggot, bercelana cingkrang, dan memakai jubah. Jika kita kembali kepada defenisi radikal, maka pandangan negatif tentang radikal akan runtuh.

Seyogyanya berislam memang harus radikal, radikal adalah sikap berkedalaman, intensif, hingga ke akar-akarnya seolah tak menyisakan ruang lagi untuk ditelisik. Sering sekali kita mendapati pejabat yang begitu rajin salat lima waktu, bersedekah, jiwa sosialnya tinggi tapi sering bergelut di dunia malam bersama para pekerja malam sampai memakan uang rakyat. Jelas, hal tersebut akibat dari salatnya yang masih belum radikal. Akibat lainnya, dia gagal mengaktualisasikan nilai-nilai agama dalam hidupnya.

Jika melihat nasihat Syekh Abdul Qadir Al Jailani, beliau berpesan bahwa mukmin itu bukan hanya berhati-hati kepada hal yang syubhat. Bahkan kepada hal yang halal pun perlu menjaga diri agar tidak melampaui batas. Sebab, segala yang melampaui batas itu mudharat, dan segala yang mudharat jelas bertentangan dengan syariat Islam dengan istiqamah dan hakiki adalah jalan pertama tercapianya musyahadah kepada Allah SWT. Tak ada makfirat tanpa syariat, begitu kira-kira.

Terdapat begitu banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik pada tragedi bom bunuh diri Makassar. Satu di antaranya, bergaul atau tidak membatasi diri dalam bergaul sangat dianjurkan. Namun, perlu kehati-hatian agar tidak mudah larut dalam doktrin teman pergaulan. Fleksibel dalam bergaul memang perlu, namun tetap menjaga nilai-nilai yang ada.

Memang benar, dalam Al Qur’an Allah SWT menyebutkan bahwa darah orang kafir halal untuk dibunuh, “Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya, sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya,” (Q.S At Taubah:36). Nahasnya, sebagian orang memotong ayat tersebut dan hanya memahami sampai pada ayat itu saja.

Tidak sedikit ayat-ayat Al Qur’an yang dijadikan senjata untuk membenarkan pendapat-pendapat yang menyimpang dari syariat Islam. Modusnya, menafsirkan ayat-ayat tertentu secara sepihak, tanpa mengaitkannya dengan ayat lain, atau hadist-hadist yang terkait. Satu di antaranya, surah At-Taubah ayat 36. Hasil tafsirnya pun berbenturan dengan fatwa ulama fiqih yang muktamad.
Karena sudah merasa telah menjalankan perintah Allah SWT pada ayat tersebut, maka mereka mengimani akan ada jaminan surga apabila menghabisi nyawa orang non Islam. Begitulah pemahaman mereka sampai rela melakukan aksi bom bunuh diri dan semacamnya.

Jelas, pelaku bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Katholik hasil doktringan pihak yang tidak bertanggung jawab dan punya cita-cita memecahkan persatuan umat. Dengan iming-iming masuk surga, korban doktrin dengan keyakinannya melakukan aksi pada titik target yang telah dirancang sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *