Pare-pare, karebaindonesia.id – Pelihara Bahasa Ibu, Utamakan Bahasa Indonesia, dan Kuasai Bahasa Asing. Motto tersebut tentunya memberikan gambaran kepada kita bahwa bahasa asing penting untuk dikuasi disamping pula harus memelihara bahasa ibu, dan mengutamakan Bahasa Indonesia—sebagai identitas kebangsaan.

Guna memberikan pemahaman pentingnya bahasa asing untuk masyarakat, maka hendaknya ditanamkan penguasaan bahasa tersebut sejak dini. Salah satu langkah nyata yang ditempuh adalah dengan diadakan program Pengabdian Kepada Masyarakat atau PKM yang dilaksanakan oleh civitas academica Kampus V UNM Pare-Pare.

PKM tersebut berupa pelatihan yang dilaksanakan oleh para pengabdi yang terdiri atas: Muhammad Asrul Sultan, M.Pd., Drs. Muslimin, M.Ed., dan Dra. Nurjannah, M.Pd. Program PKM tersebut bertemakan : Pelatihan Peningkatan Kosakata Bahasa Inggris menggunakan Media Game Guessing Words bagi Santri-Santiwati Pengajian Mesjid Babul Ilmi Kampus V UNM Pare-Pare. PKM tersebut terselenggara sejak 27 Agustus hingga 31 Agustus 2020.

Tujuan dari PKM tersebut untuk membekali para santri-santriwati dalam menguasai kosa-kata Bahasa Inggris yang dapat digunakan oleh para santri tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Muhammad Asrul Sultan, dalam wawancaranya mengemukakan bahwa bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting dalam kehidupan manusia, melalui bahasa manusia dapat menyampaikan pesan, ide, pikiran, gagasan, dan perasaannya kepada orang lain.

Lebih lanjut, menurut Nurjannah dalam wawancaranya mengemukakan bahwa dengan bahasa seseorang dapat menyalurkan berbagai informasi kepada orang lain. Komunikasi yang dilakukan dapat berjalan dengan lancar jika bahasa yang digunakan dapat dipahami dan dimegerti oleh lawan bicara.

Setali tiga uang, Muslimin dalam pemaparannya menyebutkan bahwa santri-santriwati harus menguasai Bahasa Inggris di samping bahasa ibu mereka, dan Bahasa Indonesia. Musababnya  Bahasa Inggris merupakan alat komunikasi yang disepakati bersama secara global sehingga menjadikan Bahasa Inggris menjadi alat komunikasi antar negara—yang secara geografi, budaya, bahasa, adat dan istiadat berbeda satu dan lainnya. Lebih lanjut peran Bahasa Inggris sangat penting terutam dalam memudahkan menguasai ilmu komunikasi dan teknologi.

Dengan memberikan pembelajaran Bahasa Inggris , peserta didik akan lebih tahu tentang dunia global, dapat berkeliling dunia, menambah wawasan. Karena Bahasa Inggris telah digunakan sebagai lingua franca di berbagai negara meskipun sebagai bahasa kedua setelah bahasa resmi di masing-masing negara.

Pada prinsipnya tujuan pengajaran bahasa agar para siswa terampil berbahasa, yaitu terampil menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dan hal ini tidak dapat tercapai tanpa pengetahuan akan kosatakata yang memadai, khususnya Bahasa Inggris.

Dalam pelaksanaan kegiatan ini menggunakan sistem luring, di mana sebelum kegiatan pengabdian, para pengabdi meminta izin terlebih dahulu dengan orang tua santri-santriwati dan dalam pelaksanaanya menerapkan protokol kesehatan covid-19 berupa pembagian masker sebelum memasuki kelas, mencuci tangan dengan air mengalir, menggunakan handsanitazer yang telah disiapkan oleh pengabdi dan di dalam kelas para santri di atur jaraknya antara satu dengan lainnya.

Dalam pelaksanaan kegiatan ini, respon akan para santri-santriwati, guru mengaji, dan orang tua santri sangat baik. Ihwal ini dibuktikan dengan pernyataan orang tua santri yang mengemukakan bahwa: jika memungkinkan kegiatan ini dapat dilaksanakan sebagai kegiatan tambahan santri sebelum mereka melaksanakan pengajian. Jika perlu kegiatan tersebut di-integrasikan dalam pembelajaran di pendidikan formal. Di sisi lain para orang tua merasa terbantu dengan adanya kegiatan ini mengingat biaya kursus Bahasa Inggris terbilang cukup besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *