HATI YANG BERHATI-HATI MENYEBERANG DI PERSIMPANGAN JALAN IBUKOTA

mentari telah jatuh dan jauh

dalam pelupur mata,

memeluk malam yang suram,

menyisakan bola lampu dan

seseorang yang sesal sedari pagi.

aku hanyalah surat, syarat, dan rindu yang tuntas tersirat.[]

***

TAK ADA SENJA UNTUK ORANG MISKIN

“tak ada senja
untuk gelandangan macam kita, kekasih!”
di bibir pantai kota yang tak memesona
oleh rancang bangun dan iming-iming
masa depan
kau berseloroh dengan tatapan
lirih, sembari matamu mencari-cari
senja yang menautkan kita menjadi sepasang
kekasih, sepasang kisah yang luruh
dalam riuh-ricuh kota.

“tak ada senja
untuk pemalas macam kita, kekasih!”
di seberang sana, senja telah dibunuh
perlahan oleh kemegahan dan
kemenangan peradaban manusia
senja telah memutuskan hubungannya dengan
kerinduan dan penantian
senja sudah mati, senja sudah mati, senja sudah …
ya, kemarahanmu adalah kemarahanku juga dan
kemarahan senja.

“tak ada senja
untuk pencundang macam kita, kekasih!”
di sini, senja telah dijual
dengan harga murah dan
harga diri
senja sudah berpindah tangan
dari pasar ke pasar, dari toko ke toko, dari mata ke mata
yang tak tahu rasa hati
tak tahu sakit hati
tak tahu …
ah, marah, geram, gemetar.

“tak ada senja
untuk kaum miskin macam kita, kekasih!”
saat itulah, kau pergi, lagi
bersama senja yang telah rapuh
bersama malam yang telah melepuh.[]

By Warman D. Sally

Pemimpin Redaksi Kareba Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *