Sumber gambar: WhatsApp

Makassar, karebaindonesia.id – Badan Pengurus Harian Himpunan Mahasiswa Bidikmisi Dan KIP-Kuliah (HIMABIP) UIN Alauddin Makassar mengadakan dialog publik di Warkop Mau.co, Romangpolong yang bertemakan “Radikalisme Musuh Bersama”, pada Minggu, (04/4/2021)

Terkait dengan tema yang diambil membahas tentang bagaimana radikalisme tidak hanya terstigma pada suatu agama tertentu. Tapi juga bisa lahir dari beberapa faktor seperti lingkungan, budaya, dan sebagainya.

Diangkat dari peristiwa pengeboman bunuh diri yang terjadi baru-baru ini, di Gereja Katedral pada Minggu, 28 Maret 2021. Dialog ini diadakan oleh pengurus HIMABIP agar publik maupun masyarakat HIMABIP itu sendiri lebih waspada dalam hal menanggapi peristiwa tersebut. Terlebih untuk anak muda atau kaum milenial yang termasuk dalam pengguna media sosial terbanyak. Dikhawatirkan akan terjadi perekrutan teroris melalui internet. Maka dari itu, perlu diadakan literasi dan edukasi digital bagi generasi milenial agar tidak terlibat dalam gerakan radikalisme yang akan memecah persatuan NKRI.

Dosen Komunikasi Lintas Agama dan Budaya, Jalaluddin B. M.A berpendapat bahwa penggunaan kata Radikalisme itu kurang tepat karena Radikal itu mengandung arti kata yang positif. Di mana Radikal diambil dari kata radix. Artinya pemikiran itu harus mengakar pada persoalan yang sesungguhnya sehingga melihat sesuatu tidak hanya hitam atau putih.

“Radikalisme sebenarnya mengandung arti yang positif karena mengacu kepada dasar pemikiran filsafat yaitu radikal. Di mana Radikal diambil dari kata radix. Artinya pemikiran itu harus mengakar pada persoalan yang sesungguhnya sehingga melihat sesuatu tidak hanya hitam ataukah putih saja,” demikian ujarnya.

Dalam hal ini, pemateri berusaha memaknai bahwasanya kita bebas dalam menyampaikan pendapat, bebas melakukan segala hal selama itu tidak merugikan orang lain. Sedangkan yang terjadi dalam pengeboman bunuh diri tersebut, sangatlah merugikan berbagai pihak, mulai dari keamanan uang menimbulkan rasa was-was di kalangan masyarakat.

“Tidak ada yg ingin melakukan tindakan terorisme, misal, bom bunuh diri, tetapi dengan kapasitas komunikasi (doktrin) yang tepat maka segalanya dapat memungkinkan. Karena itu, membangun hubungan dan terutama komunikasi yang humanis antarumat adalah cara mencegah perilaku terorisme tersebut,” tambahnya.

Pengurus Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM) PWNU Sulsel, M. Fadlan L. Nasurung, S.Hum menjelaskan bahwa para ekstremis memiliki pemahaman keagamaan yang literal, sehingga memahami teks-teks keagamaan secara dangkal. Ia menyebutkan terorisme yang membawa panji agama berakar pada ektremisme kekerasan, sebuah ideologi yang menjadikan kekerasan, teror hingga bom bunuh diri sebagai jalan pintas mencapai surga.

“Para teroris-jihadis, cita-cita tertingginya memang adalah mati syahid,” tuturnya.

Namun, jihad dan mati syahid yang mereka pahami keliru dan salah kaprah. Karena agama hadir untuk kemaslahatan hidup manusia, bukan justru untuk membinasakannya.

“Agama seharusnya menjadi sumber spirit untuk hidup, bukan malah menjadi motivasi untuk cepat mati,” pungkasnya.

Yuliana F.S, S.Pd selaku Ketua bidang IPMawati PW IPM Sulsel yang bergerak dalam pemberdayaan perempuan memberikan pandangannya bahwa terorisme itu merupakan tindakan yang tidak memanusiakan manusia. Dia juga mengajak agar kita senantiasa membentengi diri dengan agama dan juga ilmu utamanya bagi kaum milenial.

“Mari kita membentengi diri dengan agama dan ilmu utamanya bagi kaum milenial agar tidak terjerumus dalam ekstrim radikal!,” ujarnya.

Dalam acara tersebut, tamu undanganpun terlihat begitu antusias dalam menanggapi peristiwa pengeboman bunuh diri yang telah terjadi beberapa waktu lalu bahwa hal tersebut memang tidak seharusnya terjadi dalam Kesatuan Bhinneka Tunggal Ika, di mana keberagaman ras, suku, budaya dan agama terdapat di dalamnya. Dengan perbedaan tersebut diharapkan adanya sikap toleransi maupun solidaritas agar terciptanya ketentraman dalam suatu Negara.

Ketua umum HIMABIP, Muhammad Fuad Fikri memberikan pandangannya bahwa dialog seperti ini perlu dilangsungkan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat umumnya bahwa tindakan radikal yang berujung teroris seperti ini perlu diwaspadai. Namun bukan hanya itu kita juga harus lebih toleran terhadap perbedaan.

“Semoga dengan diadakannya dialog publik tadi, kita bisa mengerti akan pentingnya mempelajari radikalisme dari berbagai perspektif sehingga kita bisa menjadi lebih toleran terhadap suku, agama, ras, dan budaya. Dan juga semoga tidak terjadi lagi peristiwa bom bunuh diri yang akan merugikan berbagai pihak,” ujar Fuad Fikri.

Ketua bidang Advokasi dan Pengabdian Masyarakat, Harman selaku penyelenggara pun memberikan pandangannya setelah dialog itu dilangsungkan. Bahwa dialog-dialog seperti ini perlu dihadirkan untuk menjawab pertanyaan masyarakat terkait isu-isu yang terjadi belakangan ini.

“Dialog seperti inilah yang sangat dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan radikalisme atau isu-isu yang saat ini terjadi. Semoga dengan adanya dialog ini mampu menambah wawasan kita mengenai radikalisme sehingga mampu menolak segala bentuk tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran agama,” tutup Harman.

Dengan demikian, agar tidak terjerumus dalam aliran ekstrim maka kita harus memperkuat benteng keimanan dan juga pengetahuan agama. Karena secara ideologi, terorisme hanya mengacu kepada literatur tanpa menafsirkannya secara mendalam. Dalam artian kita dituntut untuk memahami ilmu dengan baik dan benar agar tidak mudah goyah dan terpengaruh terhadap pemahaman radikalisme sekaligus tindakan terorisme serta tidak menjadi penyebab lunturnya Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan NKRI.

(Yuliana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *