Oleh; Khaeriyah Nasruddin

Ilustrasi pasukan Hamas (karebaindonesia.id)

“Ketika kiblat pertama mereka gesek dan keroaki bagai kelakuan reptilian bawah tanah dan sepatu-sepatu serdadu menginjaki kening kita semua, serasa runtuh lantai papan surau tempat aku waktu kecil belajar tajwid l-Qur’an 40 tahun silam, di bawahnya ada kolam ikan yang air gunungnya bening kebiru-biruan, kini ditetesi air mataku …”

Potongan puisi dari Taufik Ismail mengingatkan kita pada luka Palestina, tak terpungkiri dari dulu hingga kini kondisi Palestina makin memprihatinkan. Mengingat serangan 10 terakhir ramadhan atas Palestina sangat terkutuk, saat kaum muslim tengah khusyuk dalam peribadatan Israel dengan jumawa mempertontonkan aksinya. Memang, kedaulatan dan hidup sebagai negara merdeka bagi Palestina belumlah terlihat bayangannya meskipun telah mendeklarasikan kemerdekaan pada 1988.

Bagaimana mungkin Palestina merdeka kalau setiap tahun perang terus berkecamuk, lagian Palestina selalu sendiri menghadapi kekuatan Israel. Padahal dilihat banyak negara yang mengutuk tindakan biadab ini termasuk 120 negara yang tergabung dalam PBB. Namun sayangnya, lagi-lagi hanya berakhir dengan kutukan, kecaman atau gertakan pemutusan hubungan diplomasi. Sedang negara Israel seperti tak peduli gertakan itu hanya angin selintas, lihat saja aksi kejahatan berulang-ulang dilakukan.

Tak ketinggalan, Uni Emirat Arab (UEA) turut serta memfasilitasi perdamaian keduanya (baca: Israel-Palestina) usai keduanya menyepakati gencatan senjata. Sudan pun menyambut baik deklarasi ini, adapaun dari Indonesia melalui Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, menegaskan Palestina-Israel harus kembali ke meja perundingan untuk mewujudkan perdamaian yang langgeng.

Hal ini disampaikan oleh Menlu dalam pertemuan tertutup dengan sejumlah menteri luar negeri dan presiden siding Majelis Umum ke-75 Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) Volkan Bozkir di New York, yang dilakukan setelah sesi debat. Di dalam pertemuan itu, Menlu Retno pun menyampaikan tiga seruan di hadapan majelis umum PBB, yaitu, penghentian kekerasan dan dilakukan gencatan senjata, memastikan akses kemanusiaan dan perlindungan rakyat sipil, serta mendorong dimulainya kembali proses negosiasi multilateral yang kredibel. (Viva.co.id/21/05/21).

Di sisi lain gejolak politik yang terjadi di Israel dengan akan digulingkannya Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang telah memerintah selama 12 tahun bisa menjadi kabar melegakan. Namun sayangnya, kendati posisi perdana menteri baru diduduki orang berbeda nasib Palestina tidak akan berubah. Perdana Menteri baru bisa jadi lebih haus darah dibanding Benjamin Netanyahu.

Menurut laporan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal pada Sabtu, 05 Juni 2021, yang dilansir dari Pikiran Rakyat.com, dikatakan sekitar 17.000 perempuan dan anak perempuan dan 50.000 anak-anak termasuk di antara mereka yang ditahan. Komisi Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan menyebutkan semua yang ditahan mengalami beberapa bentuk penyiksaan fisik atau psikologis, pelecehan moral, dan kelakuan kejam.
Sampai di sini nasib Palestina tetap berada di jurang penderitaan dan penyiksaan, meskipun banyak pemimpin Islam yang terus mendorong perundingan damai antara Israel-Palestina, pun mengharapkan PBB menyelesaikan konflik ini tidak mungkin. Sikap ini bukankah sama saja dengan memberikan kesempatan kepada Israel untuk terus menggempur Palestina?

Sudah seharusnya para pemimpin dunia Islam mencoba menggerakkan tentara-tentaranya untuk mengusir penjajah Israel. Dipahami bersama bahwa Isreal tidak mengenal bahasa diplomasi, mereka juga seringkali melanggar perjanjian yang disepakati bersama. Israel hanya memahami bahasa perang. Kalau hanya sebatas menyerukan perjanjian damai, juga menggalakkan donasi dan mengencangkan doa apa bedanya kita dengan rakyat sipil, sementara para pemimpin dunia Islam mereka punya kekuatan untuk menggerakkan militernya.

Israel adalah pendatang sekaligus perampok hak yang menjadi milik kaum muslimin, negara itu juga makin jumawa karena di-backing dengan kekuatan negara besar di belakangnya. Oleh karena itu untuk merebut bumi Palestina tentunya juga harus di-backing kekuatan besar, kekuatan dengan mengikuti jalan wahyu, jihad.

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (Yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam Keadaan tunduk.” (QS. AL-Baqarah:29)

Rudal dengan rudal, senjata dengan senjata, perang dengan perang. Sebagaimana Salahuddin Al Ayubi yang berhasil mengusir pasukan Salib bersama tentaranya atau Harun Ar Rasyid yang menjawab surat Nakfur bersama bala tentaranya karena menyalahi kesepakatan. Oleh karena itu, dua sosok pemimpin seperti ini sangatlah dibutuhkan saat ini dan satu-satunya yang mampu menghadirkan pemimpin dengan sigap menggerakkan militer tanpa takut terintervensi dengan negara super power adalah negara dengan sistem pemerintahan Islam. Negara inilah yang akan menjadikan akidah Islam sebagai pengikat sekaligus menyatukan cita-cita kaum muslimin untuk segera membebaskan bumi Syam dari penjajahan Israel.. Wallahu a’lam.

22 thoughts on “Gencatan Senjata Atau Perundingan Damai, Kenapa Tidak Coba Jihad?”
  1. Hiya, I am really glad I have found this info. Nowadays bloggers publish just about gossips and net and this is actually irritating. A good site with interesting content, this is what I need. Thanks for keeping this website, I’ll be visiting it. Do you do newsletters? Can not find it.

  2. I’ve been browsing online more than 3 hours nowadays, yet I never discovered any interesting article like yours. It?¦s pretty value enough for me. In my opinion, if all site owners and bloggers made excellent content as you probably did, the web will probably be much more useful than ever before.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *