Oleh: Firmansyah (Mahasiswa Sastra Daerah)

karebaindonesia.id – Melihat dan mengamati Indonesia dari tempo dulu hingga hari ini, tak dapat dipungkiri salah satu elemen masyarakat yang mengambil peran penting sebagai lokomotif pergerakan dan perubahan adalah mahasiswa. Kemunculan mahasiswa di tengah peliknya kehidupan manusia, menghadirkan secercah harapan akan terbentuknya tatanan masyarakat yang ideal – adil dan makmur. Harapan akan terwujudnya masyarakat adil dan makmur terus digaungkan dan dipertaruhkan oleh mahasiswa. Walaupun sebenarnya dari masa ke masa pergerakan mahasiswa cenderung mengalami dialektika yang keras, tetapi hal itu adalah bagian dari proses perjuangan.

Sumbangsi mahasiswa terhadap peradaban bangsa sangatlah besar, dari fase pra kemerdekaan, fase kemerdekaan, orde baru hingga hari ini tertuang dalam sejarah bahwa memang mahasiswa telah menggariskan perannya sebagai orang yang berintelektual dan peduli terhadap kemaslahatan umat. Jika kita ingin memverifikasi kebenarannya, hal tersebut dapat kita buktikan dengan merefleksi apa yang telah terjadi pada masa orde baru (Di luar dari kepentingan-kepentingan individualistik).

Merujuk pada paragraf di atas, pada hakikatnya mahasiswa bukan hanya sekadar orang yang resmi terdaftar pada sebuah perguruan tinggi dan menjalani proses perkuliahan, lebih dari itu mahasiswa adalah elemen masyarakat yang dipandang harus memberikan kontribusi nyata atas beban yang dipikulnya, yakni pengabdian sepenuh jiwa dan raga terhadap bangsa dan negara. Hal tersebut memanglah bukan sesuatu yang mudah, tetapi seperti itulah kenyataan yang harus diterima oleh manusia yang menyandang status sebagai “Mahasiswa”.

Melihat eksistensi mahasiswa saat ini, semakin banyak dinamika yang dihadapinya baik itu persoalan kenegaraan, pendidikan, politik, bahkan pergerakan lembaga-lembaga mahasiswa itu sendiri. Tak menutup kemungkinan, diantara banyaknya dinamika itu, menghadirkan sekte-sekte mahasiswa yang secara tidak langsung mempertontonkan tidak adanya kesamaan arah dan tujuan pergerakan. Dalam dunia kampus, salah satu hal yang penting dan dapat menjadi penilaian terhadap kritisisme mahasiswa adalah pergerakan lembaga kemahasiswaan sebagai representatif dari mahasiswa itu sendiri.

Oleh karena itu, memang menjadi tuntutan yang paling utama bagi mahasiswa agar menjaga dan terus menggaungkan nafas pergerakan, terlebih pergerakan sejati – gerakan yang murni mengedapankan kepentingan bersama dan anti intervensi dari pihak luar. Gerakan mahasiswa merupakan aktualisasi ideologi yang menjunjung tinggi moralitas. Disebut sebagai tindakan yang mengaktualkan ideologi, sebab ada cita-cita ideal yang hendak untuk dicapai.

Namun, melihat realitas hari ini, pergerakan mahasiswa melalui lembaga internal kampus (BEM) seakan mengalami kekauan atau bahkan kehilangan arah – linglung tak tahu harus berbuat apa. Salah satu kampus yang hari ini pergerakan lembaga mahasiswanya dianggap lemah adalah Universitas Hasanuddin (Unhas). Sebuah kampus ternama di Indonesia bagian timur, tetapi sayang mengalami degradasi pergerakan mahasiswa. Selaku mahasiswa Unhas, penulis menganggap hal itu tak dapat disangkal lagi, sebab pertentangan antara lembaga mahasiswa tingkat Universitas dan tingkat Fakultas tak kunjung usai bahkan semakin parah. Sehingga kewalahan dalam mengawal isu-isu nasional atau demokrasi negara.

Seperti yang terkemuka pada laman Wikipedia, bahwa BEM adalah lembaga kemahasiswaan terpopuler yang memegang kekuasaan eksekutif, salah satu pilar kekuasaan Trias Politica yang kedudukannya sejajar dengan pilar kekuasan lainnya. Lembaga ini memiliki tingkat hirarki tertinggi di antara organisasi mahasiswa lainnya. Seperti contohnya organisasi HMJ yang berstatus dibawah BEM, begitu pula beberapa organisasi UKM.

Pada prinsipnya, BEM sangat independen dan merupakan kekuatan yang cukup diperhitungkan sejak Indonesia merdeka hingga masa orde baru berkuasa. Merujuk pada hal itu, BEM dapat dikatakan sebagai representasi pergerakan mahasiswa pada sebuah kampus, termasuk Unhas.

Berkenaan dengan Unhas, timbul pertanyaan sederhana, bagaimana kondisi objektif pergerakan lembaga mahasiswa Unhas hari ini? Apakah lembaga mahasiswa Unhas hari ini hadir menawarkan solusi yang baik terhadap problematika bangsa? Apakah ada kesadaran kolektif dan pergerakan sejati yang hadir dalam tubuh lembaga mahasiswa Unhas hari ini? Tentu pertanyaan-pertanyaan tersebut belum ada yang terjewantahkan dalam realitas eksternal.

Bungkamnya lembaga mahasiswa Unhas hari ini dikarenakan tidak adanya integrasi yang terbangun antar sesama lembaga. Hal tersebut dapat kita nilai dari adanya beberapa BEM Fakultas yang menyatakan diri keluar dari barisan Keluarga Mahasiswa Unhas (KM Unhas) karena bersebarangan dengan BEM Universitas, dan adanya lembaga perkumpulan dari beberapa BEM yang menolak BEM Universitas. Hal itu tak hadir dari ruang yang hampa, tak hadir tanpa sebab, melainkan karena adanya anggapan bahwa BEM Universitas tak lagi mampu menjadi lokomotif gerakan kolektif.

Inilah yang saya maksud di awal sebagai sekte-sekte mahasiswa, terjadinya perpecahan karena adanya kejanggalan dan kepentingan yang menggerogoti lembaga mahasiswa. BEM Unhas sebagai lembaga eksekutif tertinggi semestinya mampu menyelesaikan persoaan ini. Sebab, jika hal ini terus menerus terjadi, maka masa depan pergerakan mahasiswa Unhas akan terancam hancur. Meskipun ada ego sektoral yang masing-masing dipertahankan oleh setiap Fakultas, namun itu tidak boleh menjadi alasan bagi BEM Unhas untuk tidak menghadirkan resolusi. Tetap harus ada resolusi yang baik dari BEM Unhas!

Oleh sebab itu, dalam menyikapi konflik internal lembaga mahasiswa Unhas, penulis menawarkan sebuah solusi agar seluruh mahasiswa Unhas menghadirkan kesadaran kolektif sebagai Ikhtiar untuk mewujudkan pergerakan sejati lembaga mahasiswa Unhas. Kesadaran kolektif yang dimaksud ialah, sebuah ide yang mesti ada tentang pentingnya integrasi, rasionalitas, dan kebenaran. Adanya perpecahan dalam pergerakan lembaga mahasiswa Unhas hari ini pada intinya karena tidak ada satu rumusan ideologi yang diperjuangkan sebagai prinsip pergerakan.

Seperti yang dikatakan oleh Antoine Destutt de Tracy, seorang ideolog perancis, bahwa ideologi harus ada sebagai sesuatu yang dianggap benar, kebenarannya diakui secara universal, dan kebenaran itu diperjuangkan oleh semua orang yang bersangkutan. Secara maknawi, itulah yang dibutuhkan oleh lembaga mahasiswa Unhas hari ini; merumuskan dan memperjuangkan ideologi bersama sebelum bercita-cita menghadirkan gerakan kolektif yang belakangan ini digaungkan. Implikasi dari adanya ideologi bersama adalah terciptanya kesadaran kolektif, dan kesadaran itulah yang akan selalu menjadi penegak kebenaran oleh mahasiswa Unhas sehingga tidak mudah terpecah belah.

Titik klimaks dengan hadirnya kesadaran kolektif akan memunculkan pergerakan sejati. Setiap pergerakan dan perjuangan mesti disertai dengan prinsip-prinsip kesetiaan dan keberanian. Salah satu bentuk pergerakan sejati ialah, ketika sekelompok orang yang bergerak dan berjuang selalu memprioritaskan kepentingan bersama/cita-cita bersama dan berani untuk melawan intervensi dari luar. Semisal pergerakan mahasiswa Unhas, jika mengedepankan pergerakan sejati, maka ia akan meninggalkan segala intrik-intrik eksternal demi keutuhan bersama dan memberanikan diri melawan tendensi dari pihak lain, seperti birokrasi kampus. Itulah yang harus dibenahi hari ini.

Sekian dan Terimakasih. Salam hangat dari penulis sehangat senja yang hendak terbenam di ujung barat. Hidup Mahasiswa! Hidup Unhas!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *