Makassar, Karebaindonesia.id — Musim haji kali ini terasa berbeda, jika di tahun lalu (musim Haji 1440 Hijriyah) sebanyak 2,5 juta jemaah haji dari berbagai penjuru dunia mengikuti ritual haji, maka musim Haji 1441 Hijriyah hanya di-ikuti oleh 1.000 jemaah, kebanyakan dari mereka adalah warga Arab Saudi dan ekspatriat yang bermukim di Arab Saudi, untuk menjadi calon jemaah haji, mereka perlu mendaftarkan diri secara daring dan diseleksi ketat oleh Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi. Dikabarkan 13 di antara 1.000 jemaah haji tersebut adalah ekspatriat asal Indonesia.

Haji bagi masyarakat Indonesia tidak hanya dipandang sebagai satu kewajiban dalam Rukun Islam atau sebagai bentuk penyempurna keislaman seseorang, akan tetapi di dalamnya terkandung pula sebuah nilai sosial atau prestise di hadapan masyarakat. Putuhena (2017) dalam ulasannya menyebutkan ada tiga aspek pendorong mengapa menunaikan ibadah haji begitu penting bagi ummat muslim di Indonesia, yakni : (1) untuk menyatakan suatu keberanian; (2) untuk menimbulkan rasa kebanggan dengan titel (gelar) haji; (3) untuk menjadikan orang terpandang karena telah menjalankan kewajiban agama, dan untuk melihat dunia lebih luas, dengan cara yang paling mudah.

Senada yang dikemukakan Putuhena, Rifal (2013) dalam penelitian-nya berjudul Haji dan Status Sosial di Kecamatan Kajuara Kabupaten Bone (2007-2011) mengemukakan faktor pendorong masyarakat untuk berhaji tidak hanya dilandasi semangat keagamaan yang tinggi, tetapi adanya pengakuan dari masyarakat atau mendapatka prestise sosial bagi mereka yang telah menunaikan ibadah haji. Sehingga tidak mengherankan, jika dalam beberapa kasus akan ditemukan seorang bergelar haji mendapatkan perlakuan istimewa di tengah pergaulan masyarakat cum dalam setiap hajatan masyarakat atau kenduri pernikahan.

Melekatnya prestise sosial bagi masyarakat yang telah menunaikan ibadah haji tidak dapat dinafikan karena meraih kesempatan untuk berhaji begitu sulit, setidaknya hambatan-hambatan untuk menuju baitullah berupa biaya dan mental spritual serta yang paling utama adalah keterbatasan kuota. Maka tidak mengherankan daftar tunggu ibadah haji di Indonesia bisa berlangsung puluhan tahun. Bahkan di beberapa daerah seperti di Provinsi Sulawesi Selatan tercatat daftar tunggu jemaah haji mencapai 40 tahun seperti di Kabupaten Sidenreng-Rappang, Pinrang, Bantaeng, Bone, Soppeng, dan Wajo.

Keterbatasan kuota dan lamanya durasi daftar tunggu ibadah haji tidak menyurutkan semangat ummat Islam di Indonesia dan Sulawesi Selatan pada khususnya untuk menunaikan ibadah haji.  Jika ditelisik dalam arus sejarah, antusiasme masyarakat Sulawesi Selatan dalam berhaji telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka, Jacob Vrendebregt (1997) menyebutkan pada kisaran abad IX-XX terdapat 5 daerah yang memiliki intensitas tinggi dalam pengiriman jemaah haji yakni: Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Sumatera Barat, dan Sulawesi Selatan.

Pelaksanaan ibadah haji pada zaman dahulu dapat dikatakan jauh berbeda dengan pelaksanaan ibadah haji di masa sekarang. Ketika masa penjajahan hingga masa awal kemerdekaan, calon jemaah haji diangkut menggunakan kapal laut dan berlayar menuju Mekkah, perjalanan dari Pelabuhan Batavia (Tanjung Priok) ke Arab Saudi (Pelabuhan Jeddah) tentunya memangsa waktu yang teramat panjang.

Kakbah dikelilingi jemaah haji, circa 1885. FOTO/Chr. Snouck Hurgronje

Dalam catatan Putuhena menyebutkan bahwa kisaran abad ke 19 dan 20 calon jemaah haji asal Indonesia membawa bekal yang begitu banyak seperti berkarung beras, lauk pauk, pakaian, serta emas (yang akan ditukarkan ketika tiba di Arab Saudi), bahkan ada kasus ketika calon jemaah haji yang meninggal dalam perjalanan jasad mereka dilarung ke laut.

Di masa tersebut hanya Batavia dan Padang yang dijadikan pelabuhan haji, Makassar sendiri dalam beberapa catatan disebutkan menjadi Pelabuhan Haji di tahun 1922 (Syamsurijal, dkk., 2020). Pengangkutan jemaah haji menggunakan kapal laut baru berakhir di  tahun 1979, walaupun demikian aktifitas pengangkutan jemaah haji dengan menggunakan Angkutan Udara telah dimulai sejak 1952.

Itulah sekelumit hikayat ibadah haji di masa lalu dan di masa sekarang, semoga ummat muslim yang menunaikan ibadah haji di masa pandemi Covid-19 menjadi haji yang mabrur.

Daftar Sumber

Putuhena, M.S., 2007. Historiografi Haji Indonesia. Yogyakarta : LKiS.

Rifal, 2013. “Haji dan Status Sosial di Kecamatan Kajuara Kabupaten Bone (2007-2011)”. Skripsi. Universitas Negeri Makassar.

Sjamsurijal, dkk., 2020. “Aji Ugi : Pergumulan Islam dengan Tradisi Lokal dan Gaya Hidup di Masyarakat Bugis”.  Al Qalam 26 (1) : 19-38.

Vredenbregt, J., 1997. Ibadah Haji : Beberapa Ciri dan Fungsinya di Indonesia. Jakarta : INIS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *