Aku membayangkan kesepian itu seperti kucing liar di pinggir jalan, di emperan toko, di dinding pagar rumah, di tempat-tempat tersembunyi, di mana pun kucing itu merayakan kenyamanannya, walau setiap waktu harus ditendang karena mencuri ikan goreng, dipukuli sapu karena suara gaduh perkelaihan sesama kucing, bahkan dilupakan setiap mata yang melihatnya menjadi satu dengan aspal karena terlindas truk pengangkut lintas kota. Kucing liar tetap merayakan hidupnya di tengah keras kota yang tak ramah padanya. Kucing liar memang tak punya pola pikir yang terarah macam manusia modern yang perfeksionis akan segala hal di kesehariannya, tetapi kucing liar memiliki insting dan perasaan yang tajam, walau kata “liar” dicamkan pada dirinya: mengeong lembut walau harus kalah oleh bising kendaraan dan berisik kemarahan manusia; berjalan anggun walau harus takluk oleh laju pembangunan dan hilir-mudik kesibukan di kota megapolitan. Aku membayangkan kesepian paling dalam pada diri kucing liar.

Mungkin diriku merasakan hal serupa. Aku merasa kesepian meski bejibun like, comment, dan share wara-wari di media sosialku. Aku merasa kesepian meski aku berhimpun bersama teman dengan keasyik-masyukan masing-masing di muka layar gawai, seakan dunia nyata itu fana dan dunia maya itu nyata. Aku merasa kesepian di tengah bahagia orang lain, walau itu jahat, tapi kebahagiaan itu hanyalah hiasan kehidupan yang sebentar akan lalu begitu saja dan hanya terabadikan oleh sebuah istilah yang bernama “kenangan”. Aku merasa kesepian di hiruk-pikuk perkotaan dengan segala kemewahan dan kemilaunya di mana manusianya berlomba menjadi terkenal dan dikenang sebagai orang berpengaruh dalam kehidupan khalayak banyak. Aku merasa kesepian di tengah kesepian-kesepian lain: anak jalanan yang kesepian menggendong adik kecilnya yang kelaparan, pengamen yang kesepian memetik gitar kecil dan bekas bungkus permen untuk menghibur orang kaya, pemulung yang kesepian mengais sampah demi rupiah dan harapan untuk dibawa ke rumah di mana istri dan anak mengharap sebungkus nasi. Aku merasa kesepian, amat sangat kesepian.

Sudah seharusnya aku kesepian. Layaknya kucing liar yang seharusnya hidup di pusaran kehidupan yang kian kejam ini. Sudah jalannya aku kesepian, seperti Rasulullah Muhammad yang kesepian meninggalkan kesedihannya di Gua Hira hingga turunlah wahyu Ilahi baginya; seperti Yesus Kristus yang kesepian di bukit Golgota setelah proses penyaliban oleh Romawi yang menyakitkan; seperti Pangeran Siddhartha Gautama meninggalkan istana Kapilawastu dengan segala kenikmatannya untuk pergi berguru dan menyepi mencari ilmu sejati. Mereka menjalani kesepiannya masing-masing, sebagai ibadah menuju kekuatan, ketenangan, kebahagiaan, dan kepercayaan diri. Kesepian bukanlah hantu yang bergentayangan di pikiran, jiwa, raga, dan hati manusia hingga menampakkan keputusasaan atas kekalahan mereka. Kesepian adalah anugerah Tuhan untuk paham siapa dan apa sebenarnya kita; untuk memperjelas pribadi beserta abdi kita perihal perjalanan hidup di dunia.

Sesungguhnya kita adalah kucing liar yang berkeliaran di alam semesta, merayakan kesepian dengan sepotong ikan goreng yang melayang di laut dan sehimpun tetes hujan yang mengambang di langit. Meong, meong, meong! Hatiku mengeong, saatnya aku merangkak di antara kaki gedung pencakar langit, bersantai di halaman media sosial, dan tidur di atap-atap alam semesta.[]

By Warman D. Sally

Pemimpin Redaksi Kareba Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *