Karebaindonesia.id, – Selama 3 bulan kita hidup penuh dengan berita tentang Covid-19, di TV, radio, media sosial atau media digital, obrolan di rumah, di kantor, dan di telepon juga bicara tentang Covid-19. Berbagai respon dan reaksi ditunjukkan oleh masyarakat, ada yang sedih, cemas, takut, gemas, khawatir, marah-marah, tetapi ada juga yang tenang atau tetap percaya diri.

Jubir penanganan virus corona, Achmad Yurianto, mengakui masyarakat sempat kebingungan dengan istilah ‘new normal’. Karena itu, pemerintah saat ini menggunakan istilah adaptasi kebiasaan baru.

“Tidak pernah berhenti gaung new normal di mana-mana dan kemudian dikedepankan bukan new-nya tapi normal-nya. Padahal ini sudah kita perbaiki dengan adaptasi kebiasaan baru yang menjadi masalah risk komunikasi,” ungkap Yurianto.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto memberi keterangan mengenai perkembangan Covid-19 di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

Menurut Yurianto, penggunaan istilah new normal dianggap masyarakat kembali berkegiatan seperti biasa tanpa memperhatikan protokol kesehatan. Oleh karena itu Pemerintah mengubah diksi New Normal menjadi Adaptasi Kebiasaan Baru

“Diksi new normal itu sebenarnya di awal diksi itu segera kita ubah, waktu social distancing itu diksi yang salah, dikritik langsung kita ubah, new normal itu diksi yang salah, kemudian kita ubah adaptasi kebiasaan baru tapi echo-nya nggak pernah berhenti, bahkan di-amplify ke mana-mana,” ujar Yuri di launching buku ‘Menghadang Corona’ Jumat (10/7/2020).

Kebiasaan baru untuk hidup lebih sehat harus terus menerus dilakukan di masyarakat dan setiap individu, sehingga menjadi norma sosial dan norma individu baru dalam kehidupan sehari hari.

Bila kebiasaan baru tidak dilakukan secara disiplin atau hanya dilakukan oleh sekelompok orang saja, maka hal ini bisa menjadi ancaman wabah gelombang kedua. Kebiasaan lama yang sering dilakukan, seperti bersalaman, cipika-cipiki, cium tangan, berkerumun/ bergerombol, malas cuci tangan harus mulai ditinggalkan karena mendukung penularan Covid-19.

13 thoughts on “Jubir Pemerintah: Diksi New Normal Keliru, Kami Ubah Jadi Adaptasi Kebiasaan Baru”
  1. 700757 420897Chaga mushroom tea leaf is thought-about any adverse health elixir at Spain, Siberia and lots of n . Countries in europe sadly contains before you go ahead significantly avoidable the main limelight under western culture. Mushroom 302898

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Redaksi