Harmoni antara manusia dan alam dalam keseimbangan ekologi (foto by : Adil Akbar)

Dionisius Sandhi Tri Putra, Mahasiswa FMIPA Universitas Hasanuddin, Angkatan 2016.

Makassar, Karebaindonesia.id–Menelik kata pemuda, sejatinya telah dikenal jauh sebelum adanya perkembangan zaman dengan segala kompleksitasnya—yang mendegradasi sisi kemanusiaan seseorang seperti sekarang ini. Pemuda sudah jauh dikenal sejak era perjuangan, dimana saat itu manusia masih berjerih payah untuk bergelut dengan kata “kerja untuk makan dan hidup untuk kerja”.

Lebih lanjut, di dalam beberapa buku pergerakan mahasiswa seperti: Risalah Pergerakan karya Indra Kusuma; maupun buku-buku tua yang ditulis pada zaman era pergerakan dulu, sejatinya kata pemuda menjadi momok menakutkan yang menggerak sebuah kereta kuda pergerakan, lambat tapi pasti begitulah perangai dari kata pemuda dari buku-buku tersebut.

Dewasa ini, sejatinya buku-buku yang masuk pada kategori yang sama dengan pendahulunya kemudian secara besar-besaran melakukan sintaksis kata ‘pemuda’ ke dalam kata ‘kaum intelektual’ yang menjelma menjadi satu kata singkat yang sering digaungkan para pemuda zaman sekarang, tidak lain adalah kata ‘mahasiswa’.

Tidak lepas dari itu, referensi yang menjurus kepada kata tersebut kemudian memberikan gelar kebesaran di antaranya adalah Agen Of Change, Social Control, Iron Stock, Moral of Force,dan masih banyak lagi julukan-julukan garang kepada pemuda zaman sekarang. Sewaktu tulisan ini saya buat, jujur penulis masih tidak tahu kapan pertama kali kata tersebut lahir dan atas lokomotif siapa kemudian hal tersebut terbentuk.

Membahas tentang agen perubahan sendiri, penulis kurang yakin dengan pembendaharaan kata seperti ini. Lebih tepatnya, saya ingin membahas mengenai konsep yang dibawakan oleh Antonio Gramscie tentang intelektual organik.

Berkaca pada konsep tersebut yang menyatakan bahwa “di dalam kaum pemuda ada beberapa sosok kaum intelektual (Kaum Tercerahkan) yang membahas tentang konsep ideal”. Konsep tersebut lahir dari kesadaran kaum intelektual akan dirinya sebagai makhluk organik (baca: Hidup) dimana sejatinya kaum yang dimaksud sadar akan dirinya sebagai manusia yang tidak lupa pada konsep makhluk hidup : manusia dalam menciptakan konflik maupun dalam menyelesaikan konflik yang ada.

Konflik menurut KBBI diartikan sebagai perselisihan atau pertentangan, sedangkan kata ekologi berasal dari kata yunani “Oikos” yang berarti rumah tangga dan “Logos” yang berarti ilmu, sehingga ekologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang rumah tangga (makhluk hidup).

Di dalam ilmu sains, istilah ekologi pertama kali dikemukakan pada tahun 1869 oleh seorang ahli biologi berkebangsaan jerman bernama Ernest Haeckel yang berpendapat bahwa ekologi sejatinya adalah hubungan timbal-balik antar semua komponen kehidupan dalam satu sistem.

Pembahasan mengenai konflik ekologi manusia merupakan suatu kompleksitas permasalahan yang tidak terlepas dari hubungan antara sesama manusia dan manusia dengan alam semesta. Berikut model ekologi manusia (Soerjani, 1997):

Model ekologi manusia tersebut sejatinya menganut falsafah : manusia harus mampu mempertahankan kelangsungan hidup dirinya, keturunannya maupun sesama manusia yang lain dan segala yang baik untuk manusia harus baik untuk alam dan baik untuk makhluk hidup lain.

Konflik ekologi manusia bertambah seiring meningkatnya kompkleksitas perkembangan ilmu pengetahuan yang bermula dari proses manusia membangun konsep berpikir dengan sistematika filsafat. Menurut aristoteles, filsafat dapat dibagi menjadi logika, filsafat teoretis (fisika, matematika dan metafisika) , filsafat praktis (etika, ekonomi, politik), dan filsafat poetika.

Hal tersebut terbukti dengan berkembangnya beberapa paham berbeda yang berpotensi memicu konflik dalam sejarah ekologi antar sesama manusia maupun manusia dengan alam. Penulis sendiri berpendapat, filsafat praktis dalam hal ini permasalahan etika, ekonomi, dan politik adalah kebutuhan paling mendasar manusia yang memiliki potensi terbesar untuk menciptakan konflik yang terus-menerus menghiasi di sepanjang jalannya peradaban manusia.  

Definisi tentang konflik yang menyangkut tentang perselisihan atau pertentangan tentu disebabkan tidak lain karena kesamaan manusia untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri untuk dapat bertahan hidup. Hierarki Maslow menggambarkan lima tingkat kebutuhan manusia yaitu: (1) Kebutuhan fisiologi; (2) Kebutuhan keamanan dan keselamatan; (3) Kebutuhan mencintai dan memiliki; (4) Kebutuhan harga diri; dan (5) Kebutuhan aktualisasi diri.

Menurut Maslow, manusia akan melakukan berbagai macam cara untuk memenuhi lima kebutuhan dasar diatas yang tentu hal ini akan menjadi pemicu konflik ekologi manusia.

Ditinjau dari perkembangan peradaban manusia itu sendiri, Politik dan ekonomi yang menyangkut kebutuhan akan pemenuhan harta, takhta dan kekuasaan merupakan dasar terciptanya konflik ekologi antar sesama manusia dan berujung pada eksploitasi alam.

Perebutan kekuasaan dengan berbagai cara untuk mencapai pemenuhan ekonomi dapat memicu berbagai macam konflik. Salah satunya adalah korupsi, kolusi dan nepotisme yang dibeberapa negara merupakan hal umum terjadi baik dalam sistem pemerintahan maupun dalam pelaksanaan kebijakan sistem itu sendiri.  

Di zaman sekarang ini, Konflik tidak hanya menyangkut sistem ekologi politik, bahkan lebih menyeluruh tentang ekologi manusia yang menyinggung banyak aspek termasuk kebutuhan dasar fundamental manusia menyangkut hak untuk berkehidupan yang layak dan hak untuk berpendapat—yang merupakan tanggung-jawab negara untuk mewadahi hal tersebut.

Penyelesaian dan pembuatan masalah yang didasari oleh manusia atas pemenuhan kebutuhan fundamental tersebut seakan berputar tiada habis-nya. Berkaca pada zaman pemuda dahulu, mungkin kita dapat mengatakan bahwa lokomotif sejarah saat ini membawa Indonesia pada ambang degradasi mental dan hak-hak kemanusiaan.

Hal tersebut dapat kita lihat dengan munculnya “kill messenger” seperti yang terjadi di diskusi pemberhentian presiden oleh mahasiswa Constitusional Law Society (CLS) Fakultas Hukum UGM di-mana setelah diskusi tersebut berlangsung, mahasiswa menjadi ancaman pembunuhan. Tidak hanya itu sederet permasalahan kemanusiaan yang kini seakan hilang tanpa diketahui titik temu dalang pemain peran “Hantu” di negeri kita sendiri.

Kompleksitas tidak berakhir dengan kasus krisisnya jajak pendapat yang merdeka, namun sederet permasalahan perekonomian rakyat sebagai penguasa tertinggi yang diambil alih paksa oleh lingkaran oligarki memaksa pemuda untuk kemudian tergelitik untuk membahas permasalahan ini. Terlepas dari semua hal tersebut, tentu hubungan manusia dengan manusia akan berimbas pada eksploitasi alam yang kini manusia tanpa tahu etika lingkungan demi memenuhi piramida kebutuhan dasarnya.

Eksploitasi alam merupakan salah satu bentuk konflik ekologi manusia. Menurut Tempo.co, hasil penelitian beberapa lembaga pemerhati lingkungan menunjukkan obral izin pada tahun politik meningkat baik di sektor pertambangan dan perkebunan. Aturan tentang izin wilayah pertambangan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara seakan tidak memiliki kekuatan hukum di tahun politik.

Pengawasan kebijakan dinilai tidak transparan sehingga didalam pelaksanannya menimbulkan pertentangan oleh kaum proletariat dan kaum borjuis yang memiliki kesamaan pemenuhan kebutuhan pokok secara manusiawi. Konflik yang terjadi menimbulkan hubungan untung-rugi dengan alam sebagai sumber eksploitasi dalam sistem ekologi manusia.

Dari uraian tersebut, konflik ekologi manusia seharusnya dipandang sebagai bentuk kompleksitas dari permasalahan yang timbul di tengah pesatnya peradaban manusia. konflik tersebut tidak hanya berbicara tentang segala hal yang dipolitisasi namun juga berimbas pada pemenuhan kebutuhan sekelompok manusia tetapi juga akan berpotensi tinggi dalam eksploitasi alam yang tidak didukung dengan pemeliharaan alam itu sendiri.

Kata kaum pemuda tersebut yang menjelma menjadi kaum-kaum khusus terutama kaum intelektual yang ramai diperbincangkan harusnya memainkan peran sebagai agen perubahan tersebut. Di-mana dalam hal ini, pemuda harus memahami bagaimanapun bentuk konflik ekologi manusia tentu perlu memperhatikan hubungan antara manusia dan alam semesta di sekitarnya. Hal ini dianggap penting selain pengawasan kebijakan-kebijakan pemerataan kebutuhan manusia yang didasari oleh pemenuhan kebutuhan pokok menyangkut politik dan ekonomi, dan alam sebagai sumber utama untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Alam sebagai sumber kehidupan yang utama juga memiliki potensi untuk menimbulkan konflik ekologi manusia—dalam bentuk bencana alam yang kerap terjadi sebagai hasil hubungan manusia itu sendiri dengan alam.

Konsep agen perubahan pemuda tersebut-lah yang memiliki tanggung-jawab akan semua itu, idealisme tanpa terpengaruh kepentingan apapun harusnya mampu dan dituntut untuk menjadi agen “Pembaca” yang menjelma menjadi lokomotor penggerak di masyarakat.

Sikap skeptis akan segala sesuatu dengan memegang prinsip filsafat yang benar dan menumbuhkan bibit membaca ke khalayak ramai dengan advokasi yang konstan pelan namun pasti, penulis beranggapan bahwa inilah lokomotif penggerak kereta kencana seperti yang dulu kala, pelan namun pasti menunggu moment untuk menuju Indonesia maju yang ideal. Meski ke-idealan itu tidak mutlak tapi pergerakan kecil dari pemuda seperti inilah yang fundamental dapat membelokkan hirarki kebutuhkan oligarki agar sifat kemanusiaan tetap berada pada sisi yang benar.

Oleh karena itu, manusia melalui pemuda harus mampu memposisikan kebutuhan manusiawi dan melihat secara filosofi kodrat manusia di hadapan alam sebagai jawaban dari konflik ekologi manusia yang berlangsung secara terus-menerus seperti pemodelan siklus ekologi manusia.

Referensi Pustaka:

Antonio Gramscie, 1935. Prison Notebook.

Beale, J.G, 1980. The Manager and The Environment, Oxford: Pergamont Press.

Fahnia Haerawaty, 2009. “Konflik Ekologi Politik antara pemerintah versus masyarakat Ogoni Pada Tahun 1993-1998”. Skripsi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.

Soerjani Mohamad, 1997.  Modul: Ekologi Manusia dan Alam Semesta.

Suaedi, 2016. Pengantar Filsafat Ilmu, IPB Press, Bogor Indonesia.

Sunkar Gautama, 2013. Konsep Berpikir dari Sistematika Filsafat hingga Logika Matematika, Paradoks Softbook Publisher.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *