karebaindonesia.id–Opini

Buku konflik dan Integrasi Muslim Tradisionalis dan Modernis Di Indonesia

Judul Buku                   : Konflik dan Integrasi Muslim Tradisionalis dan Modernis di Indonesia

Penulis Buku                 : Dr. Dzuriyatun Toyibah, M.Si, M.A dan Ade Rina Farida, M.Si

Cetakan                       : I

Penerbit                        : Bibliosmia Karya Indonesia

Tahun Terbit                 : 2020

Jumlah Halaman            : 151 halaman

Konflik dan integrasi selalu tak terlepas dari perkembangan sosial dan kemajuan pola pemikiran masyarakat. Buku ini patut berada dalam daftar bacaan untuk para pengamat masyarakat social politik, terlebih para cendekiawan muslim karena topik yang menyangkut upaya untuk mengatasi masalah di kalangan masyarakat secara rasional. Terdapat lima bab materi yang disuguhkan didalamnya. Terlihat jelas dari judul buku ini yang menjadi pembahasan utama adalah politik. Dari bab pertama penulis langsung ke titik topic yang akan dibahas oleh bab-bab selanjutnya. Sistem politik umat Islam yang dijelaskan cukup rinci dan sangat singkat dari zaman Rasulullah hingga zaman Dinasti Utsmania. Dan juga teori politik dari Barat juga djelaskan bagaimana politik Barat mempengaruhi politik Islam di Indonesia. Politik Barat yang mempengaruhi kaum muslimin adalah teori theocratie yang berarti kekuasaan berasal dari Allah secara natural.

Penulis buku ini, Dr. Dzuriyatun Toyibah, M.Si dan Ade Farida, M.Si menjelaskan lingkup sejarah sistem politik kaum Muslimin memberikan data-data yang lengkap seperti proses terbentuknya organisasi-organisasi Islam di Indonesia. Menyinggung organisasi masyarakat (ORMAS) di Indonesia, penulis buku ini memfokuskan pada dua Ormas yang besar dan terkenal di Indonesia yakni Nahdlatul ‘Ulama (NU) sebagai muslim tradisionalis dan Muhammadiyah sebagai Muslim yang modernis. Sebelum terbentuknya kedua ormas ini, penulis menjelaskan kondisi politik Indonesia masih dikuasai oleh para penjajah Belanda dengan menjalankan beberapa bentuk politik kolonial. Sehingga memasuki abad ke 20, sistem politik yang dijalankan para imperialis semakin diluar kendali karena praktik korupsi yang dilakukan para petinggi pemerintah imperialis. Penulis menjelaskan dalam bukunya, perkembangan sosial dan politik di Indonesia menjelang abad ke 20 semakin meningkat. Posisi Islam pada saat menjelang memasuki abad ke 20 menjadi perhatian pemerintah dengan menggunakan sistem politik ethis yang bertujuan untuk mengendalikan fanatisme Islam. Dan perubahan di abad 20 sangat berpengaruh bagi Islam dan politik adalah munculmnya kalangan terdidik yang dapat menjadi lokomotif untuk perkembangan periode mendatang. Sehingga mendorong kaum muslimin untuk maju melawan kolonial Belanda dengan pendidikan.

Dalam buku ini, penulis membagi aliran keagamaan yang terdapat di Indonesia, yakni aliran tradisionalis dan aliran modernis. Munculnya aliran tradisonalis disebabkan karena adanya suatu kelompok atau organisasi yang menyerupai tarekat akan tetapi menyimpang dari ajaran Islam. Hal ini, mendorong para muslimin terdidik untuk memperbaiki hal penyimpangan tersebut. Dan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai pembaharu di Indonesia memiliki misi utama untuk mengembangkan dan mempertahankan ajaran Islam yang biasa dikenal dengan aliran tradisionalis. Dan gerakan pembaharuan seiring berjalan waktu terus terjadi, setelah aliran tradisionalis muncul aliran modernis. Aliran modernis kebalikan dari aliran tradisionalis. Aliran modernis melakukan pembaharuan di Indonesia. Aliran modernis melihat timbulnya tarekat di Indonesia dianggap penyebab kemunduran umat Islam. Sehingga umat Islam tidak mampu menyikapi permasalahan terhadap realitas yang dihadapinya, dimana secara politik Islam berada dalam hegemoni Barat. Untuk mengakhiri hegemoni Barat terhadap Islam kaum modernis mengembangkan perlunya membuka pintu ijtihad, meninggalkan taklid dan menjauhi kegiatan agama yang bersifat bid’ah.

Aliran tradisionalis dan aliran modernis ditandai dengan perdebatan panjang mengenai permasalahan-permasalahan keagamaan dimana masing-masing aliran ini mempunyai pandangan yang saling bertolak belakang. Penulis juga memberikan contoh atas perdebatan yang terjadi antar kedua aliran ini. Aliran modernis ialah Muhammadiyah yang merupakan representasi pembaharu Islam didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan. Proses pembaharuan yang dilakukan Muhammadiyah ialah dalam sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang melahirkan cedikiawan Muslim melalui sekolah berbentuk Barat yang bebasis Islam. Aliran tradisionalis, Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan oleh K.H. Hasyim Asy’ary sebagai organisasi masyarakat tradisional juga melakukan pembaharuan dibidang pendidikan tetapi berbentuk pesantren. Kedua organisasi ini melihat kondisi politik Indonesia yang dikuasai oleh politik Belanda menjadikan aliran tradisionalis dan modernis bersatu untuk melawan kolonial Belanda. Kedua aliran ini kemudian membentuk MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) sebuah organisasi politik.  MIAI bertujuan untuk keperluan dan kesejahteraan umat Islam selama pemerintahan Hindia Belanda. Pada saat  kemunduran Belanda dan digantikan oleh politik Jepang, MIAI dibubarkan dan digantikan oleh partai Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia). Partai Masyumi bertujuan untk melaksanakan kepentigan Islam dalam kenegaraan.

Dalam buku ini, penulis juga memaparkan problem yang terjadi dalam partai Masyumi. Permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam partai Masyumi adalah perbedaan pendapat. Partai masyumi yang terdiri dari beberapa organisasi Islam yang salah satunya adalah Nahdlatul ulama (NU) yang menjadi anggota masyumi menarik diri dari partai Masyumi. Dan Nahdlatul Ulama (NU) menjadi parpol sendiri dan membentuk partainya sendiri. NU dan Masyumi menjadi wajah politik Islam Indonesia. Inti pemikiran politik NU berpedoman pada ketenetuan fiqh. Partai Masyumi yang sering kali disebut sebagai aliran modernis memiliki pemikiran yang modernis yakni penggalakan terhadap ijtihad, pandangan tentang konsep ijtihad sebagai konsesus mayoritas umat Islam dan pandangannya tentang pluralisme. Pemikiran modernisnya mengenai konsep negara merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan agama. Pada akhir bab dalam buku ini, penulis menjelaskan pada era orde baru, reformasi dan pasca reformasi yang banyak terjadi praktik korupsi, NU dan Muhammadiyah bersatu bersama menjadi elemen utama gerakan masyarakat sipil menggagas gerakan anti korupsi. Aliran tradisonalis dan aliran modernis yang sadar akan masalah yang dihadapi Indonesia mengesampingkan masalah internal dan bersama-sama membangun Indonesia untuk yang lebih baik.

Buku konflik dan integrasi Muslim Tradisionalis dan Modernis di Indonesia ditulis dalam bahasa yang sangat sederhana dan mudah untuk dipahami. Pemilihan jenis kertas yang baik sehingga tidak menyilaukan mata pada saat membaca. Ukuran font yang digunakan juga tidak kecil sehingga kata nampak jelas. Data-data yang dikumpulkan oleh penulis juga cukup lengkap. Pemilihan sampul yang berwarna hitam cukup menjadikan misteri yang terdapat dalam buku ini. Konsep sampul yang sangat sederhana tidak menarik dan ukuran buku yang agak panjang menjadikan para pembaca seperti saya cepat bosan. Walaupun terdapat beberapa buku yang juga menjelaskan hal yang sama tetapi dalam buku ini disajikan dengan singkat dan jelas sistem politik Islam dari zaman kerajaan Arab hingga memasuki sistem politik Islam di Indonesia.

Muhammad Edwin Ilyas
(Wakil Ketua bidang SDM Formasita)

Penulis:

Muhammad Edwin Ilyas
(Wakil Ketua bidang SDM Formasita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *