Cerpen karebaindonesia.id edisi 25 Oktober 2020

Risa Sihan

Ia mendapati ruangan itu lengang tatkala kelopak matanya membuka dan melongok ke kiri dan kanan tanpa menemukan makhluk lain selain dirinya. ia bahkan tak yakin tempat itu ialah sebuah ruangan, sebab sejauh mata memandang, ia hanya menyaksikan warna putih yang menyelubungi dirinya, membikin tempat itu begitu terang walau tak hingga menyilaukan sepasang mata yang ia rasa baru saja digunakan melihat untuk pertama kali.

Langit-langit di atas kepalanya berwarna putih, namun ketika ia mengulurkan tangan, langit-langit itu tak dapat tersentuh, bahkan terasa begitu jauh di atas sana. Pun dengan kiri-kanannya; sekelilingnya. Sesuatu yang mulanya ia pikir sebagai dinding sekat, rupanya bukan sama sekali. Warnanya seputih langit-langit, jaraknya pun—ia yakini—sama jauhnya, sebab sebanyak apa pun ia melangkah dan ke sisi mana pun, tetap saja dinding itu tak terasa mendekat.

Hanya lantai yang ia jejaki yang dapat ia sentuh dengan telapak kaki telanjangnya. Menyadari itu satu-satunya hal yang dapat ia jamah, ia mendudukkan diri. Sekonyong-konyong sebuah suara yang menggelegar menyentaknya, membuat ia menoleh ke sekeliling lantas berseru, “Siapa itu?”

Masih dalam nada menyentak yang membuat sensasi takut terbersit, namun—anehnya—juga membikin ia penasaran, suara itu menjawab, “Aku adalah Penciptamu.”

Lantas untuk pertama kali selama beberapa saat tadi ia menyadari bahwa selain keberadaannya, ia bahkan tak mengenali siapa dirinya sendiri. Segera saja sosok itu kebingungan, sepasang matanya yang beriris cokelat madu kembali melongok ke sekeliling; mencari-cari sesuatu tanpa paham betul apa yang tengah ia cari. Akan tetapi tetap saja yang dapat ia temukan hanya selubung putih tersebut. Ia kemudian kembali melontarkan tanya, “Siapakah Engkau?”

Lagi suara itu menjawab, “Penciptamu… Tuhanmu….” Seperti magis, suara tersebut membuatnya tenang serta entah bagaimana caranya, mereda kebingungan yang tadi ia rasakan. Padahal suara itu masih sama menggelegarnya seperti beberapa saat tadi. Sosok itu bergeming beberapa waktu lamanya, menekuri pengetahuan barunya tentang siapa gerangan pemilik suara yang menggetarkan hati tersebut. Lantas tiba-tiba saja ia teringat perihal dirinya, jadi kembalilah ia bertanya, “Siapakah aku ya Tuhanku? Di manakah ini dan apa yang sebenarnya terjadi?”

“Kau adalah hamba-Ku,” ujar suara tersebut. “Dan Aku hendak meniupkan ruhmu ke sebentuk tubuh manusia, untuk hidup di muka bumi dan beribadah kepadaku,” jelas Sang Suara. Maka sekali lagi ia tercenung di tempatnya, berusaha mencerna dengan baik jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya barusan. Namun semakin lama ia merenung, semakin banyak pula pertanyaan lain yang berembuk dalam benaknya. Betapa tatkala itu ia menyadari bahwa dirinya tak mengetahui apa-apa selain yang telah diberitahukan, dan juga bahwa sejumlah pertanyaan tersebut berlomba-lomba untuk terlontar dari bibirnya.

“Sulitkah hidup itu, ya Tuhanku?” tanyanya untuk yang kesekian kali. Lantas saja salah satu sisi ruangan yang tadi ia pikir sebagai dinding, bergerak mendekat lalu berubah menjadi semacam layar; menampilkan gambaran-gambaran bergerak manusia. Hal yang pertama ditampilkan layar itu ialah gambaran sebentuk sosok kecil yang terlihat aneh, kepada suara tadi ia bertanya. Sang Suara menjawab itu adalah dirinya ketika menjadi janin. “Apakah janin itu, ya Tuhanku?” Ia bertanya lagi.

“Itu adalah bentuk bakal manusiamu, tinggal di dalam perut seorang wanita.”

Gambaran kemudian berganti menampilkan seorang bayi perempuan mungil yang muncul dari faraj seorang wanita, menangis di antara orang-orang berbaju hijau yang mengelilinginya, baru saja terdiam tatkala ia berada dalam dekap seorang wanita yang di bibir pucatnya tersungging senyuman lemah. Ia tampak menyedot puncak dada wanita itu, menyesap sari-sari makanan dari benda bulat yang menempel di dada wanita tersebut. Suara tadi mengatakan bahwa itu adalah awal kehidupan yang akan ia jalani dan wanita tersebut akan ia panggil ibu nantinya.

Layar terus berganti menampilkan gambaran-gambaran alur kehidupannya. Ia menyaksikan dengan khidmat, dengan perasaan bercampur aduk sembari sesekali bertanya mana kala beberapa kejadian yang ia saksikan terlalu menyesakkan dada. “Sanggupkah saya melalui itu, ya Tuhanku?” tanyanya perihal sebuah adegan di mana ia kehilangan wanita yang akan ia panggil ibu di usianya yang masih belia.

Kemudian masih dengan lantang Sang Suara menjawab, “Tak akan kubebani hamba-Ku suatu ujian melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Sekonyong-konyong perasaan tenang melingkupinya. Ia tak dapat menjelaskan bagaimana suara tersebut bisa terdengar menggelegar sekaligus juga menentramkan hati, ia sendiri keheranan akan hal tersebut, yang ia ketahui, acap kali dadanya kembali sesak menyaksikan gambaran masa depannya di dunia, ia akan kembali bertanya kepada Sang Suara, dan kendati ia tak dapat melihat siapakah gerangan yang berbicara kepadanya, ia tetap saja lekas merasa tenang dan tak merasa sendirian. Seakan dapat membaca isi hati, Sang Suara berujar akan seperti itulah kehidupannya nanti, bahwa Sang Suara tak akan pernah meninggalkannya dalam keadaan apa pun, bahwa ia dapat berbicara kepada-Nya tatkala merasa butuh jawaban atas sesuatu.

Lantas sampailah mereka ke bagian akhir dari gambaran-gambaran tersebut. Kepada sosok itu Sang Suara memperlihatkan bagaimana ruhnya kembali ditarik keluar dari tubuh manusianya. Wajahnya basah berlinang air mata tatkala menyaksikan gambaran tersebut, seperti dapat merasakan kesedihan yang menyelubungi peristiwa akhir hidupnya, pun merasakan betapa hebatnya sakit yang dirasakan sang mayit.

“Apakah yang akan terjadi selepas kematian saya, ya Tuhanku? Akankah orang-orang melupakan saya? Akankah saya berakhir begitu saja?” tanyanya untuk kesekian kali dengan hati gelisah, berharap jawaban Sang Suara bisa sekali lagi meredakan kegundahannya.

Lantas suara itu menjawab dengan nada paling menenangkan sepanjang kejadian tadi, bahwa sesungguhnya dunia manusia seperti halnya dunia ruh, sebuah persinggahan sebelum sampai ke dunia akhir yang kekal. Ia menengadah pada langit-langit putih, berandai-andai dari sanalah sumber sang suara yang sungguh menenangkan tersebut kemudian berujar, “Kematian sesungguhnya hanyalah kelahiran dari keabadian.”

Lantas tatkala Sang Suara menanyakan kesiapan dan kesanggupannya untuk menjalani gambaran-gambaran yang ia saksikan barusan, ia tersenyum, senyum paling damai yang ia ulas sejak pertama kali membuka mata di tempat itu. Ia berucap pelan, “Dengan menyebut nama-Mu, saya siap.” Sementara di tempat lain di dunia, seorang wanita paruh baya berjas putih tersenyum kepada seorang wanita muda dan lelaki yang mendampingi wanita tersebut. “Bayi-nya sehat,” ujar wanita itu disambut senyuman oleh keduanya.


Risa Sihan, gemar membaca sejak kecil, namun hobi menulisnya baru muncul ketika ia duduk di bangku sekolah menengah atas. Saat ini ia tengah bergiat di komunitas menulis Prosatujuh dan kerap membagikan karyanya di grup-grup kepenulisan facebook juga pada blog pribadinya fromthezenith.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *