Cerpen Karebaindonesia.id edisi 22 Nopember 2020

Pensil Kajoe

Sriningsih masih belum beranjak dari tempat tidurnya. Di sampingnya tidur seorang anak perempuan berusia enam tahun, dia adalah buah cintanya dengan Seno. Mereka bercerai lantaran Seno tak mampu memenuhi semua keinginannya. Laki-laki malang itu terpaksa harus mengikhlaskan istrinya kembali menjadi manusia bebas tanpa ikatan perkawinan. Untunglah masih ada Wening. Jika dia kangen dengan mantan istrinya, Weninglah satu-satunya alasan untuk bertemu.

Siapa yang rela kalau harus melepaskan perempuan secantik Ningsih, postur semampai, sorot mata tajam, bibir sensual, hidung mancung persis seorang perempuan blasteran. Dengan dianugerahi kecantikan luar biasa Sriningsih harus tetap berpenampilan menarik untuk menjaga gengsinya di depan orang-orang kampung.

Sriningsih hanya perempuan desa, anak dari seorang buruh tani. Kedua orang tuanya saban hari bergumul dengan lumpur sawah dan sengatan matahari yang menjerang kulit mereka hingga kusam dan legam. Namun, karena kecantikan yang dimilikinya, Sriningsih tidak ingin tubuhnya tercemar oleh bau tanah sawah, jangankan untuk turun ke sawah, sekadar untuk mengantarkan makanan ke sawah pun dia kadang merasa keberatan. Dia beralasan, alergi dengan rumput-rumput liar di sana. Tubuhnya akan memerah dan gatal-gatal.

Gelagat seperti itu muncul sejak dia bergaul dengan seorang teman di media sosial. Ningsih bergabung dalam group emak-emak sosialita. Di sana, orang-orang saling memamerkan  gaya hidup hedonisme. Sriningsih yang notabene hanya seorang istri dari laki-laki penderes nira kelapa mau tidak mau harus ikut bergaya seperti teman-teman medsosnya, meski harus pura-pura kaya.

Suatu hari, Sriningsih mengunggah foto, tubuhnya bak toko emas berjalan. Emas-emas imitasi yang dibeli di pasar kampungnya. Semua demi menaikkan gengsi di mata komunitas sosialita. Mereka mengira kalau Sriningsih memang perempuan kaya raya.

Gaya perempuan beranak satu itu semakin menggila, kali ini tidak tanggung-tanggung, mengunggah foto dirinya di dalam mobil mewah, duduk di belakang kemudi. Dia bergaya layaknya sedang menyetir. Padahal mobil itu milik orang lain yang sedang di servis di bengkel milik tetangganya.

Para tetangga melihat perubahan drastis pada diri Sriningsih geleng-geleng kepala. Apalagi perhatian pada suaminya sudah tidak ada sama sekali. Perempuan itu sudah lupa diri, lupa dari mana dia berasal, dari rahim siapa dia dilahirkan.

Seno berusaha bertahan. Dia tahu kalau dirinya tidak mampu mengikuti gaya hidup sang istri tercinta. Dulu, teman-temannya menganggap dirinya satu-satunya pemuda yang beruntung dapat mempersunting bunga desa seanggun Sriningsih. Tapi sepertinya kebahagiaan yang dirasakannya tak berlangsung lama. Rumah tangganya mulai goyang setelah Sriningsih menjadi perempuan sosial media, terhanyut dalam gaya hidup teman-teman dalam group yang diikutinya.

Suatu siang istrinya merajuk minta dibelikan hp baru. Katanya, hp yang dia pakai selama ini sudah ketinggalan zaman, “Udah nggak apdet,” katanya menirukan bahasa temannya. Sementara Seno sendiri yang namanya sosial media dia buta, jangankan memiliki akun, sekadar memainkannya pun dia tak paham, yang dia tahu bagaimana memasang pongkor-pongkor untuk wadah air tetesan nira dari manggar kelapa. Kapan waktu terbaik untuk memasang dan mengambilnya. Pekerjaan yang terlihat sepele namun penuh resiko, nyawa juga sebagai taruhannya.

Tabung-tabung bambu yang telah terisi penuh oleh nira hendak diambilnya. Hujan deras semalaman membuat pohon kelapa licin, namun mau tidak mau dia harus tetap memanjat dan mengambil tabung-tabung yang kemarin dia pasang di pucuk pohon kelapa. Nantinya tabung-tabung berisi nira itu disetorkan ke pengrajin gula kelapa di kampungnya. Air nira diolah dan diubah menjadi gula kelapa yang manis, namun kehidupannya justru dirasakan sangat pahit.

Wening merengek seharian dia tak mendapat jatah asi ibunya. Sriningsih pergi selepas subuh, dia dijemput oleh seorang pria bermobil.

“Itu Pak Bos,” jawabnya tiap kali ditanya siapa orang yang kerap datang ke rumahnya.

Pada suaminya, Sriningsih memang mengaku mendapat pekerjaan yang gajinya lumayan untuk membantu kebutuhan keluarga bahkan lebih. Seno merasa kecil dihadapan istrinya, upahnya sebagai seorang penderes dibanding dengan uang yang didapat oleh istrinya memang jauh berbeda. Seno hanya bisa pasrah, meskipun dalam hatinya dia merasa direndahkan harga dirinya sebagai seorang laki-laki, sebagai seorang suami, sebagai kepala rumah. Seno benar-benar tak bisa berkata apa-apa melihat tingkah istrinya yang mulai aneh dari hari ke hari.

Kini, Seno ibarat seorang single parent, mengurusi semua pekerjaan dapur merawat, memandikan, hingga menggantikan popok anaknya seorang diri. Sementara Sriningsih, notabene ibu biologis Wening seolah sudah lupa kalau dirinya sudah mempunyai seorang anak perempuan, anak dari jenisnya sendiri. Dia tenggelam dalam dunia gemerlap bersama pria lain, pria yang disebut sebagai bosnya.

Berita tentang Sriningisih sampai juga ke telinga Seno, tapi dia tak begitu saja mempercayai berita yang didapatnya dari mulut orang lain sebelum dia melihat langsung dengan kedua matanya. Dia masih percaya kalau istrinya memang bekerja di restaurant terkenal di kota.

Selama ini Sriningsih mengaku kalau dirinya bekerja di sebuah restaurant ternama di kota. Setiap kali pulang dia membawakan makanan enak-enak yang selama ini belum pernah dirasakan oleh lidah Seno. Perempuan itu sering pulang larut malam, dia selalu saja punya jawaban untuk setiap pertanyaan suaminya.  Namun diam-diam Seno mulai curiga dengan jawaban monoton istrinya. Dia ingat cerita dari mulut tetangga kalau istrinya tidak benar-benar bekerja sebagai seorang pelayan restauran.

Jam lima pagi terdengar ketukan pintu di depan rumahnya. Dia tahu orang yang mengetuk pintu pasti Sriningsih. Benar, istrinya pulang dengan wajah kuyu. Kali ini  Seno tidak percaya lagi ucapan istrinya. Laki-laki itu benar-benar marah karena orang yang selama ini sangat dicintai telah tega membohonginya.

Dengan amarah tertahan, Seno tetap berusaha tenang. Dia tidak ingin menunjukan kemarahannya di hadapan Wening, Anak sekecil itu tidak boleh tahu kedua orang tuanya sedang bersitegang, keduanya berada di ambang perceraian. Sriningsih menggugat cerai Seno dengan dalih suaminya tidak pernah lagi memberi nafkah. Seno kalah di pengadilan, laki-laki sederhana itu tidak lagi punya pamor di hadapan istrinya dan di antara orang-orang yang turut hadir di persidangan.

Setelah bercerai, Sriningsih semakin bebas melampiaskan nafsunya. Namun naluri seorang ibu masih tersisa, setiap kali pulang, dia selalu membawakan oleh-oleh untuk Wening yang ditinggal di rumah bersama seorang babby sitter. Anak kecil itu berjingkrak-jingkrak melihat ibunya pulang dengan membawa mainan untuknya.

Sementara Seno harus merelakan perempuan yang sangat dicintainya. Perempuan yang pernah menaikan gengsi di hadapan teman-temannya. Dulu, laki-laki itu merasa paling beruntung karena bisa menikahi perempuan secantik artis ibu kota dan kini ternyata lebih memilih menyerahkan surganya pada orang lain.

Tumiyang- Pekuncen, 22 Januari 2019

Pensil Kajoe, lahir di Banyumas 27 Januari. Tulisan-tulisannya telah dimuat di berbagai koran di tanah air. Membukukan 18 antologi tunggal dan lebih kurang 40 antologi bersama. Buku terbarunya adalah kumcer: Jas Merah Milik Bapak. Saat ini menjadi kolumnis Basa Banyumasan di Majalah Djaka Lodang, Yogyakarta.
1 thought on “Perempuan Penjual Surga”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *