Cerpen karebaindonesia.id edisi 16 Agustus 2020

Ilham Wahyudi

Kalimance ingin kembali maju menjadi kepala daerah periode kedua. Hanya saja ia harus putar otak. Sebab sudah tak didukung lagi oleh partai pengusung periode sebelumnya.

“Segera bentuk relawan pendukung saya. Mulailah mengumpulkan KTP. Hanya itu satu-satunya cara agar saya bisa maju kembali,” kata Kalimance pada orang kepercayaannya.

Sejak perintah itu, di mal-mal dan pusat keramaian berjamur stan-stan relawan yang mencari dukungan untuk Kalimance. Tidak tanggung-tanggung kerja tim belakang layar Kalimance. Disokong dana tak terbatas, para sales promotion girl dan sales promotion boy yang terkenal cantik dan ganteng direkrut untuk menarik simpati masyarakat. Setelah mereka tertarik, satu-satu KTP mereka dilucuti sebagai bentuk dukungan kepada Kalimance. Orang-orang yang memberikan KTP itu pun disebut “Kawan Mance”.

¤ ¤ ¤

Menjadi kepala daerah sebenarnya bukan cita-cita Kalimance. Ayahnyalah yang membuat Kalimance terjun ke dunia politik. Tapi, ayah Kalimance bukan politikus. Ayahnya seorang pedagang sukses yang terkenal jujur serta dermawan pada masyarakat di daerahnya. Makanya orang-orang di kampung halaman Kalimance heran tatkala ia menjadi kepala daerah. Bukan pedagang mengikuti jejak ayahnya.

Seperti orang kebanyakan, Kalimance muda awalnya ingin menjadi dokter. Ia kagum dengan kesuksesan adik ibunya yang paling bungsu sebagai dokter kandungan di ibu kota. Bagaimana ia tak kagum. Mobil dan rumah pamannya sudah tidak terhitung lagi dengan sebelah jari tangan Kalimance. Belum apartemen dan rukonya yang berserak di mana-mana. Benar-benar membuat Kalimance tertantang ingin sukses seperti pamannya. Namun, berkat dorongan kuat dari ayahnya, cita-cita menjadi dokter kandungan akhirnya berubah menjadi kepala daerah.

“Kalau kau mau lebih banyak bermanfaat di negeri ini, jadilah kepala daerah. Tetapi kepala daerah yang jujur, ikhlas, dan bisa dipercaya. Jika tidak bisa seperti itu, jadi pedagang saja sepertiku!” kata ayah Kalimance suatu kali.

Pelan-pelan, namun pasti. Satu demi satu jabatan penting dipegang Kalimance. Mulai dari wakil bendahara, wakil ketua, dan kemudian menjadi ketua partai di daerahnya.

Meski karir politik Kalimance lancar bak jalan tol, tetapi ada yang janggal dari perilaku politik Kalimance. Kejanggalan ini tak lain karena kebiasaan Kalimance yang sering bolak-balik ganti baju partai, sebelum akhirnya memilih jalur independen dalam karir politiknya. Namun yang anehnya, ia tetap saja diterima. Bahkan karirnya pun selalu mulus belaka. Seperti ada sesuatu pada dirinya. Karisma? Atau?

Terlepas dari kejanggalan itu, Kalimance termasuk tidak lama dalam upayanya mewujudkan cita-cita. Sepuluh tahun menceburkan diri ke politk, Kalimance akhirnya berhasil terpilih menjadi walikota di Kota Edan. Nah, agar mulus karir politiknya ke tingkat yang lebih tinggi, Kalimance ingin memimpin satu periode lagi.

Akan tetapi rencana Kalimance untuk memimpin dua periode sepertinya mendapat tantangan yang tidak ringan. Soalnya, bersamaan dengan naiknya popularitas Kalimance yang dinilai berani dan tegas, muncul pula seorang tokoh yang tak kalah berani dan tegas seperti dirinya. Bahkan tokoh tersebut dinilai lebih berprestasi membangun kota ketimbang Kalimance yang bagi sebagian orang dianggap lebih banyak marah-marah dan suka copot sana copot sini. Selain itu, tokoh saingan Kalimance itu ternyata adalah menantu orang berkuasa dan disegani.

“Jadi bagaimana hasil poling saat ini, Mahli?”

“Hanya terpaut beberapa persen saja dari Bapak Nikeponce, Pak.”

“Beberapa persen? Serius dia ingin meninggalkan kotanya dan maju menjadi walikota Edan?”

“Kalau dari sumber yang saya terima katanya tidak, Pak. Tapi apa Bapak masih percaya kalau orang yang mengatakan tidak itu benar-benar tidak mau?”

“Ya, ya…”

¤ ¤ ¤

 Kalimance tampak gelisah. Tiga kali sudah ia bolak-balik ke toilet. Mencret! Kalimance memang selalu bermasalah dengan pencernaan kalau sedang menghadapi masalah besar. Lantas, masalah besar apa yang membuat Kalimance seperti setrika siang itu? Ah, entahlah. Tapi yang jelas, siang itu Nikeponce akan mendeklarasikan kesediaannya menjadi calon walikota di kota Edan. Tak tangung-tanggung, seluruh partai yang memiliki kursi mendukung Nikeponce.

 Oh, pantaslah Kalimance mencret. Ternyata saingannya maju menjadi calon walikota sudah start duluan dari dirinya.

Di tengah kegalauan Kalimance, ponselnya berdering. Kemudian terdengar suara berat dari seberang ponsel Kalimance.

“Halo, Mance.”

“Ya, Pak.”

“Bagaimana kondisi terkini relawan kita, aman?”

“Aman, Pak. Dan terkait jumlah dukungan yang menjadi syarat juga sudah melebihi target. Hanya saja ada sedikit masalah, Pak.”

“Apa itu?”

“Hari ini Nikeponce sudah mendeklarasikan dirinya, Pak. Hampir semua partai mendukungnya. Saya sebenarnya tidak begitu khawatir dengan partai-partai itu. Tapi Bapak sendirikan tahu kalau Nikeponce juga kepala daerah yang populer seperti saya. Belum lagi jabatan mertuanya. Itu yang membuat saya sedikit pusing, Pak.”

“Kamu ini seperti baru kenal saya saja. Kalau soal itu kamu tidak usah pusing. Sudah, kamu fokus saja pada pekerjaanmu. Soal yang lain sudah ada yang mengurus.”

“Baiklah. Terima kasih, Pak.”

Suara dari seberang ponsel Kalimance menghilang.

Seperti sudah mendapatkan kepastian, Kalimance pun menjadi lebih tenang. Ia tak bolak-balik lagi ke toilet. Malah semakin percaya diri.

¤ ¤ ¤

Pesta demokrasi berlangsung. Singkat cerita, Kalimance dan pasangannya keluar sebagai pemenang. Sungguh di luar dugaan para pengamat politik. Bagaimana tidak. Partai pendukung Nikeponce berbalik arah menjelang hari pencoblosan. Entah angin apa yang membuat partai-partai pendukung Nikeponce tiba-tiba berbalik mendukung Kalimance.

Meskipun dukungan itu tidak memengaruhi syarat Kalimance maju dari jalur independen, tetap saja masa pendukung dari partai-partai itu sangat menguntungkan Kalimance. Ditambah lagi Nikeponce juga tersandung masalah. Dua minggu sebelum hari pencoblosan, Nikeponce mendapatkan surat penetapan sebagai tersangka korupsi. Sontak nama Nikeponce menjadi buah bibir dan popularitasnya pun menurun drastis.

Benar ternyata kata seseorang yang berbicara dengan Kalimance melalui ponsel tempo hari. Kalimance mulus terpilih kembali. Bahkan dari jalur independen yang selama ini belum pernah seorang pun berhasil menjadi kepala daerah.

Akan tetapi, setelah pelantikan semua mulai di luar kendali Kalimance. Seseorang yang menelepon Kalimance tempo hari kini mulai banyak permintaan di periode kedua Kalimance menjabat. Padahal di periode sebelumnya, seseorang itu sama sekali tidak pernah mengusik Kalimance.

Kalimance mulai merasa terganggu. Setiap pekerjaannya seperti diawasi. Semua kebijakan harus mengikuti arahan dari seseorang itu. Padahal sebagai pemimpin seharusnya Kalimance mengikuti hati nurani dan janji politiknya saat pemilu dulu. Bukan sebaliknya. Saat itulah, pesan ayahnya kembali terbayang.

Tak tahan terus ditekan, Kalimance balik melawan. Kini Kalimance sudah berani terang-terangan menolak semua permintaan seseorang itu.

“Maaf, Pak. Saya tidak bisa memberikan izin. Itu sama saja saya menghianati rakyat yang memilih saya.”

“Apa? Menghianati rakyat? Lantas ini bukan penghianatan?”

“Tidak, Pak. Sama sekali tidak!”

“Kamu ini lucu apa pura-pura lucu, Mance?”

“Saya serius, Pak. Sebaiknya Bapak segera pergi. Maaf saya masih banyak kerjaan, Pak.”

“Baiklah. Selamat tinggal!”

Seseorang itu pun pergi meninggalkan ruangan Kalimance. Untung pegawai bawahan Kalimance sudah tidak ada. Kalimance memang sering pulang larut. Kadang malah bisa sampai menginap. Seperti hari itu, ia pun memutuskan tidur di kantornya.

Menjadi walikota memang memusingkan kepala. Tampaknya saja enak. Padahal sering tidak tidur demi tugas melayani masyarakat. Ditambah lagi peristiwa barusan. Akan tetapi Kalimance sudah tahu risikonya. Termasuk perlawanannya pada seseorang itu juga sudah ia perhitungkan matang-matang. Sejak awal, saat ia berhubungan dengan seseorang itu, Kalimance mahfum kalau persoalan balas budi bisa menjadi masalah dikemudian hari. Namun, Kalimance selalu yakin semua bisa di bawah kendalinya.

Kalimance ingin membasuh wajah. Belum selesai ia membasuh wajah, terdengar suara orang menggedor pintu. Buru-buru ia membasuh wajahnya. Lalu berjalan cepat ke arah suara. Tetapi belum sempat Kalimance membukakan pintu, segerombolan orang yang memakai masker sudah lebih dulu masuk ke dalam ruangan kerjanya.

“Selamat malam Bapak Kalimance. Ini surat perintah kami, Pak.”

Jakarta, 2020.


ILHAM WAHYUDI. Lahir di Medan, Sumatera Utara, 22 November 1983. Ia seorang fundraiser dan penggemar berat Chelsea Football Club. Beberapa cerpennya telah dimuat koran-koran, majalah dan antologi. Buku kumpulan cerpennya “Kalimance Ingin Jadi Penyair” akan segera terbit.
9 thoughts on “Perlawanan Kalimance”
  1. Way cool! Some extremely valid points! I appreciate you writing this
    article plus the rest of the website is also really good.

  2. Greetings! Very helpful advice in this particular post!
    It is the little changes that produce the greatest changes.
    Many thanks for sharing!

  3. I pay a quick visit each day some sites and information sites to read content, except this web site presents quality based
    content.

  4. Today, I went to the beach with my children. I found a
    sea shell and gave it to my 4 year old daughter and said “You can hear the ocean if you put this to your ear.” She put the shell to
    her ear and screamed. There was a hermit crab inside and it pinched her ear.
    She never wants to go back! LoL I know this is entirely off topic but I had to tell someone!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *