Karebaindonesia.id, Bandung – Sekolah Kader Kopri (SKK) dan Pelatihan Fasilitator se-Jawa Barat sukses digelar Korps Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Bandung.

Kegiatan yang diikuti para Kader PMII dari berbagai daerah di Jawa Barat dan dilaksanakan di Balai Lembang pada tanggal 21 – 25 Maret 2022.

“Para peserta SKK ada yang berasal dari cabang Kota Bogor, Tasik, Garut, Subang, Bekasi, Karawang, dan internal Bandung sendiri,” terang Riska Widiyanti selaku Ketua OC di SKK PMII Kota Bandung, Rabu (3/30/2022).

SKK adalah fase penanaman nilai-nilai dan misi pergerakan serta pembentukan militansi anggota untuk menjadi kader KOPRI dan memaknai arah gerak.

“Sekolah Kader KOPRI (SKK) sendiri merupakan pendidikan lanjutan bagi kader KOPRI yang telah mengikuti Pendidikan Kader Dasar (PKD) dan telah mengikuti Sekolah Islam dan Gender,” sambung Riska.

Sementara Ketua PMII Kota Bandung, Agung Adrian mengutarakan bahwa SKK dan Pelatihan Fasilitator se-Jawa Barat ini untuk membangun gerakan gender yang positif.

“Seperti pada konsepnya di mana hari ini gerakan perempuan adalah bagian dari gerakan untuk kemanusiaan maka konstruk dan nilai-nilai mengenai keadilan gender harus terus ditransformasikan serta disinergiskan dengan gerakan membangun relasi gender yang positif,” ucap Agung.

Pendidikan Sekolah Kader Kopri ini dimaksudkan agar pemahaman kader dan penguatan intelektual secara utuh dan tersistematisasikan. Tidak terpotong-potong dan menjadi satu kesatuan pemahaman yang real ke masyarakat umumnya dan kader-kader PMII secara keseluruhan

Terpisah, Imelda Islamiyati Ketua Kopri Kota Bandung berharap output dari kegiatan ini agar terciptanya gerakan kader yang ulul albab, berdaulat atas diri sendiri, berpikir kritis, sensitif gender, dan mampu membangun gerakan kolektif dalam memperjuangkan kesertaraan, keadilan dan kemanusiaan.

“Sekolah Kader Kopri ini kemudian menjadikan gerakan perempuan sebagai ranah yang komprehensif dalam memberikan edukasi dan peluang bagi perempuan dalam membangun kemitraan gerakan. dan Output dari SKK tersebut diharapankan terciptanya kader yang ulul albab berdaulat atas diri sendiri, berpikir kritis, sensitif gender, dan mampu membangun gerakan kolektif dalam memperjuangkan kesertaraan, keadilan juga kemanusiaan,” harapnya.

Terakhir, Imelda Islamiyati dengan tegas mengatakan para kader wajib memiliki loyalitas terhadap organisasi dan militan terhadap gerakan-gerakan perempuan.
“Dengan ghiroh gerakan perempuan dalam beroragnisasi yang lebih massif perihal sikap masa bodoh, sikap rendah hati, sikap penakut adalah suatu bentuk yang tidak seharusnya ada di dalam tubuh KOPRI,”pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Redaksi