KEMANU(SIA)AN

Ke mana manusia itu,
yang katanya ingin damai, tentram
tanpa bising-bising.
Sedang di seberang bumi sana,
darah berserakan begitu liar, air mata
bercucuran menjadi banjir luka.
Di mana manusia itu,
yang inginnya menegakkan keadilan.
Sedang di segala penjuru,
bersembunyi ia dari ketakutan,
berlari ia dari kekerasan,
berduka ia dari ketidakpedulian.
Mana manusia itu,
yang harusnya melindungi.
Sedang di tempatnya,
tak ada satu tangan yang mengulurkan kasih,
tak ada sedikit senyum cinta yang berkata,
“jangan takut, kami bersamamu”.
Manusia itu,
bukan! Mereka bukan manusia lagi.
Mereka hanya ‘sia-sia’ saja.

***

MATA PALSU

Wahai, sinilah kau kemari.
Lihat baik-baik, tatap tajam, jangan berpaling.
Di sini,
suara-suara yang menggema penuh derita,
berbalut debu dan air mata,
tangannya menengadah dalam pinta.
Hari-hari mereka tak seperti kita yang
menyantap makanan dengan tenang,
bermain riang dan senang,
bersahabat segenap kasih dan sayang.
Itu dulu.
Sekarang ada yang merenggutnya.
Anak-anak bukanlah seperti anak-anak kita,
orang tua bukanlah seperti orang tua kita,
suami, istri, keluarga, tak seperti kita,
terusir, terhina, terjatuhkan oleh keabaian.
Wahai, mengapa?
Selama ini air matamu tak merasa risau.
Penglihatanmu kian buram, samar, lalu melupakan.
Ataukah, mata ini sudah membusuk bersama hati yang redup redam.
Ataukah, …
Ya, kau sibuk. Mencari matamu dan melupakan derita mereka.

***

SAUDARAKU YANG BERNAMA ROHINGYA

(1)
Saudaraku, getar hati ini menelusuk dalam, terbujur kaku aku menatap luka, menetap dalam duniamu yang kelam, tersia-siakan, terusir sejauh-jauhnya, dan menghilang dalam waktu, sakit, dan air mata.

(2)
Saudaraku, lemah piker ini merasakan tubuhmu, tabahmu yang terkikis dalam kisah yang pilu, memohon pertolongan, namun sayang, mereka malah berpaling wajah, nuraninya sibuk dengan kehidupannya sendiri-sendiri, sedangkan kau, sanak saudara, karib kerabat harus berjuang gigih atau mati mendidih.

(3)
Saudaraku, bisu, tuli, lumpuh seluruh raga ini, sedangkan mulutmu berucap doa dan harap, telingamu rindu akan damai, kaki dan tanganmu bergerak tak henti memperjuangkan apa yang selama ini kau pintakan.

(4)
Wahai Rohingya saudaraku, maafkan aku, aku ringkih aku abai, aku …
Mungkun doaku hanya mengobati kesendirianmu.

***

NEGERI TERBAKAR

Panas membara, dingin membiru.
Siang mencekam, malam mencekik.
Hidup hanya sedetak, mati hanya sedetik.
Darah menjadi derita, air mata mengubah cerita.
Tubuh anak-anak terluka, tabah orang tua terlunta.
Haus mendera, lapar mengancam.
Berlindung penuh takut, hati kian kalut.
Ramah tak disambut, marah membabi-buta.
Rumah hanya penjara, terbunuh oleh penjarah.
Rindu dalam ketenangan, pilu dalam keterasingan.
Negerimu tersayang, dirimu terbuang.
Mereka bersalah, kalah, lelah.
Telah terbakar, telah menghilang.
Segala kenangan, tergenang.
Sudah.[]

By Warman D. Sally

Pemimpin Redaksi Kareba Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *