Ilustrasi by : @shakir_bisa_tonjhie

Cerpen karebaindonesia.id edisi 09 Agustus 2020

Zainul Muttqin

Darkum berdiri di tepi jendela. Ia sengaja membiarkan angin malam dari utara menerpa tubuh ringkihnya yang dimakan usia. Hal ini memang kurang baik bagi dirinya yang akhir-akhir ini sering batuk. Tapi ia tak peduli. Lagi pula, Darkum memang ingin sekali segera dijemput Izrail mengingat kesepian mencekik hidupnya sepuluh tahun terakhir ini.

Bulan melengkung serupa celurit sedang bertengger di langit. Hati Darkum tergetar saat dilihatnya bulan itu lekat-lekat dari balik jendela. Bulan itu menjelma wajah perempuan yang selalu dirindukannya: seorang istri yang telah raib.

Darkum masih ingat saat pertama kali mendapati istrinya telah raib di rumah. Sepuluh tahun lalu, hujan deras turun dari langit petang yang temaram. Pintu rumah dibiarkan sedikit terbuka. Tubuh Darkum yang basah oleh guyuran hujan malam hari membuat laki-laki itu berdiri di bibir pintu. Istrinya dipanggil berkali-kali. Tak ada jawaban apapun. Darkum masuk saja ke dalam. Meradang wajah Darkum karena merasa diabaikan.

Ia menyendok air di bak mandi, mengguyur tubuhnya sambil lalu menyanyikan lagu dangdut kesukaannya. Keluar dari kamar mandi, Darkum merasakan sesuatu yang ganjil. Mata laki-laki itu tak mendengar suara istrinya, apalagi melihat perempuan itu sejak tadi. Cemas melingkar di wajah Darkum. Segera mungkin ia mencari istrinya di setiap ruang rumahnya. Lama pencarian dilakukan di dalam rumah, tapi nihil hasilnya.

Darkum menyandarkan tubuhnya pada sofa di ruang tamu. Sesekali ia melihat jam dinding. Sudah jam sepuluh lewat. Perasaan Darkum morat-marit. Selarut ini, kemana Maimunah, istrinya itu pergi? Tak biasa perempuan itu pergi tanpa pernah bilang hendak kemana. Darkum bangkit dari duduknya, sekali lagi ia mencari sesuatu di dalam kamarnya. Barangkali ada petunujuk yang ditinggalkan, pikir Darkum seraya berjalan ke dalam kamar.

Pandangan Darkum tertuju pada sepucuk surat yang tergeletak di atas meja. Gemetar tangan Darkum membuka surat terakhir dari istrinya. Tak sanggup Darkum membendung air dari ceruk matanya. Surat yang ditulis tangan oleh Maimunah mengatakan kepada Darkum bahwa perempuan itu tak akan pernah kembali lagi ke rumah itu.

Kepergian Maimunah bukan tak beralasan. Tentu saja, Darkum sendiri mengetahuinya mengapa perempuan itu harus angkat kaki dari rumah itu. Maimunah pergi membawa serta anak lelaki satu-satunya. Darkum terlentang di atas kasur, pejam matanya menerawang, mengingat-ingat pertengkaran yang kerap bermula dari mulutnya sendiri. Sesak dada Darkum harus mengingatnya. Lubuk hatinya diliputi penyesalan.

Darkum ingat betul, selalu setiap pulang kerja melihat istrinya tertidur di atas sofa. Laki-laki itu membangunkannya sambil memaki-maki, bahkan pernah suatu hari sampai hati Darkum mengumpat dan mengata-ngatai istrinya sendiri. Tertunduk wajah Maimumah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri mulut suaminya menyemburkan api. Maimunah seakan mau dilumat oleh api itu.

Kemarahan Darkum kepada istrinya lantaran tidak disambut hangat laki-laki itu sepulang kerja sebagaimana biasa. Sesungguhnya Maimunah sudah menunggu Darkum di sofa ruang tamu. Hanya saja, karena seharian mengurus rumah, juga anak yang masih butuh penjagaan membuat rasa lelah menggerogoti tubuh Maimunah. Tanpa sadar, Maimunah tertidur di atas sofa.

Entah bagaimana Maimunah harus bersikap pada suaminya. Tidak bisakah suaminya melihat bagaimana perempuan itu memasak, mengurus rumah seorang diri dan harus menjaga Hardi, anak satu-satunya itu tanpa dibantu siapapun. Maimunah membatin. Tangisnya pecah. Darkum tak ambil pusing dengan air mata yang menggenang di wajah istrinya itu. Laki-laki itu masuk ke dalam kamar, membanting daun pintu hingga membuat bahu istrinya terangkat.

Darkum keluar kamar, berkacak pinggang di depan istrinya. Maimunah menjatuhkan pandangannya ke lantai. Rupanya, laki-laki itu masih ingin memuntahkan kemarahannya pada Maimunah. Belum puas ia memaki istrinya hanya gara-gara sang istri tak memberikannya sambutan hangat sepulang kerja. Hal ini memang dilakukan berkali-kali oleh Maimunah. Itulah kenapa Darkum ingin sekali menceramahi sekaligus memaki istrinya. Setidaknya ini membuat Maimunah jera, tegas Darkum dalam hatinya.

“Kamu itu gak ada kerjaan. Cuma di rumah. Apa tidak bisa untuk sekadar menyambut suami? Saya capek cari uang. Saya kerja. Eh, kamu malah enak-enakan tidur. Istri macam apa kau ini. Hah!”

Maimunah tak berkata apa-apa. Ia membiarkan suaminya menumpahkan seluruh kekesalan yang berdiam di dadanya. Perempuan itu berusaha mengatur laju napasnya. Mulut Darkum dipenuhi sumpah serapah. Sekilas Maimunah melihat wajah suaminya itu berubah seperti seekor binatang. Tidak lagi tampak wajah teduh Darkum sebagaimana saat pertama kali Maimunah mengenalnya di penghujung Desember yang dingin beberapa tahun lalu.

Tak lama kemudian, Darkum duduk dengan napas tersengal-sengal. Ia menarik napas dalam-dalam seraya memandangi wajah istrinya yang tetap tak bergeming. Darkum diam. Hening. Hanya terdengar detik jam yang terus bergeser dan suara naluri mereka masing-masing. Maimunah mengusap air mata di wajahnya dengan ujung dasternya. Ia menunggu raut muka suaminya berubah jadi bening, karena pada saat itulah Maimunah akan bicara.

Semata-mata Maimunah akan bicara apa adanya tidak lain supaya suaminya mengerti bagaimana lelah yang ia terima sepanjang hari. Agak sedikit gugup Maimunah untuk membuka mulutnya. Darkum melirik wajah Maimunah. Perempuan itu berusaha mengumpulkan nyali untuk sekadar bicara perihal apa yang terjadi sepanjang hari di dalam rumah.

Dengan keberanian yang susah payah dikumpulkannya, Maimunah berujar, pelan suaranya, santun kedengarannya, “Tidak mudah menjadi ibu rumah tangga, apalagi harus mengurus anak seorang diri. Apa kamu pikir saya menganggur? Seharian di rumah, saya nyapu, ngepel, memasak. Bahkan saya terpaksa menunda makan ketika Hardi memanggil saya.” Darkum diam. Ia membiarkan istrinya mencurahkan seluruh isi hatinya.

Maimunah kembali melanjutkan perkataannya. Kali ini matanya sudah basah. “Maafkan saya Mas, jika tidak bisa menjadi istri seperti yang kau idam-idamkan. Tapi jika kamu bisa berpikir dengan baik pasti kamu tahu bagaimana rumit dan susahnya menjadi ibu rumah tangga. Harus kamu ketahui pula bahwa istri itu bukan pembantu.”

Sesaat kemudian, Maimunah berkata lagi, “Istrimu diciptakan dari tulang rusuk kirimu, artinya ia sebagai pendamping hidupmu yang mestinya selalu kamu rangkul, kamu sayang, kamu cintai. Istrimu tidak tercipta dari sehelai rambut, artinya tak perlu kau begitu agung-agungkan. Dan yang terpenting, istrimu tidak tercipta dari tulang kakimu, artinya jangan kau injak-injak dia, hargai usahanya sebagai seorang istri.”

Darkum tidak memberikan respon apapun. Tergesa ia bangkit dari duduknya menuju kamar. Maimunah menggelengkan kepalanya melihat tingkah pola suaminya itu. Melalui lubang kunci Maimunah mengintip suaminya di dalam kamar. Berbaring di atas kasur Darkum memejamkan matanya. Maimunah mengharap semua perkataannya barusan berhasil menyiram bara di dada suaminya.

Akan tetapi tiga hari kemudian, Darkum tetap bersikap tak lembut pada istrinya. Ia memaki istrinya lantaran perempuan itu tidak menyiapkan sarapan pagi. Maimunah menjelaskan jika ia harus mengurus Hardi terlebih dulu dikarenakan bocah tiga tahun itu merengek minta ditemani di tempat tidur. Darkum melempar semua piring di dapur. Ia berangkat kerja jam tujuh lewat tanpa mengucap salam pada istrinya. Pintu dibanting oleh Darkum sampai engselnya yang karatan terlepas.

Maimunah tak lagi sanggup menghadapi tingkah suaminya itu. Perlakuan Darkum kepadanya dianggap terlalu melampaui batas. Sungguh Maimunah merasa disepelekan sebagai seorang istri. Hari itu juga Maimunah mengemas semua barangnya. Ia angkat kaki dari rumah itu dengan membawa serta anak lelaki satu-satunya.  Perempuan itu hanya meninggalkan surat kepada Darkum di atas meja. Tak dikatakan oleh Maimunah kemana ia akan pergi. Cukup Darkum tahu, bahwa Maimunah tak akan pernah kembali.

***

Satu minggu setelah istrinya raib, Darkum dipecat dari kantor tempatnya bekerja. Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan Darkum selain mencari pekerjaan lagi demi menghidupi dirinya sendiri. Berhari-hari Darkum menyusuri jalanan kota, tidak satu pun yang bersedia menerimanya bekerja. Lelah Darkum berusaha. Ia memutuskan bekerja serabutan, apapun dikerjakannya hanya untuk bisa bertahan hidup, termasuk menjadi kuli bangunan.

Tubuh Darkum kian rapuh dimakan waktu. Tak lagi sanggup ia mengerjakan apapun. Laki-laki itu menunggu uluran tangan tetangganya setiap hari. Pada saat seperti itu terbayang wajah istrinya dalam pejam matanya yang berair. Betapa pun Darkum mengakui kesalahan yang diperbuat pada istrinya, laki-laki itu sadar bahwa hal itu tak akan mengembalikan istrinya yang telah raib.

Para tetangga pun menaruh iba pada Darkum. Pembicaraan mereka bermuara pada ihwal kesialan yang ditimpakan Tuhan kepada Darkum setelah istrinya raib. Sambil lalu lewat di depan rumah yang tampak mulai kusam dan berlumut, mereka melihat Darkum penuh selidik. Laki-laki itu selalu berdiri di pinggir jendela.

“Setelah istrinya raib, raib pula rejeki Darkum.” 

“Apa mungkin istri Darkum akan kembali padanya?”

“Mungkin saja, kalau watak Darkum berubah.”

Sepuluh tahun berlalu, Darkum tetap gemar berada di pinggir jendela. Ia selalu membiarkan angin malam dari utara menerpa tubuhnya yang tinggal tulang belulang. Para tetangga pun khawatir Darkum akan bunuh diri lantaran laki-laki itu kerap mengatakan betapa ditinggal istri lebih mengerikan dari kematian.

Menjelang sore hari, para tetangga itu dikejutkan dengan berita kematian Darkum. Tubuh laki-laki kesepian itu ditemukan tak bernyawa di dekat jendela. Darkum mati secara wajar. Suara-suara tetangga yang semula gaduh hilang dalam sekejap setelah seorang perempuan tiba di rumah Darkum. Kening mereka berkerut hingga membentuk garis terombang-ambing melihat perempuan itu membelah kerumunan.

Wajah perempuan itu seperti selembar kain kafan. Puluhan tahun perempuan itu tak menginjakkan kaki di rumah Darkum membuat orang-orang susah mengenali siapa sesungguhnya perempuan yang tiba-tiba memeluk jasad Darkum. Tangis perempuan itu menyayat.

“Maimunah?” Seseorang memanggil nama perempuan itu. Dengan cepat perempuan itu menoleh dan menganggukkan kepalanya.

Pulau Garam, 2018/2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *