rekahan pertama: pada kelahiranmu yang purba, rahim semesta mengutusmu ke sebuah tahta agung dalam sajian tarian kekejian.

kausematkan takdirku pada badik para leluhur
bersaksi sekalian raja, tetua dan orang yang memelukku
menegaskan jawaban masa silam ihwal kemenangan
“telah lahir seorang anak dari darah pemberani” lantangmu
nampaklah sebuah pertarungan dan pertaruhan
pada mata kepala dan mata pedang
bertahan hidup untuk mematikan.

rekahan kedua: kecupanmu menari di sela bibir maharaja, menjelma ucapan selamat tinggal yang kian memerah, kian marah.

angin kematian menggugurkan ingin dan anganmu menguasai bumi Mengkasar
kuraba jemarimu yang keruh, peluh sebab pedang dan perang
menyisahkan amanat maha berat; kekuatan dan kekuasaan
“merahku adalah merahmu” bisikmu
|meringis, bersama dendam bengis
segores darah menyala
membara di kepala.

rekahan ketiga: marahmu berdarah di tanah tetua, kaki menapaki singgasana pemberani yang sempat singgah pada kejayaan yang lampau.

upacara, seserahan, dan ambisi
menjadi awal mula pembuktian harga diri
di seberang tanah sana, Belanda, bala tentaranya
adalah balada paling berdarah
bising senapan dan busung dada tegak beradu
siapa yang menang, siapa yang tenang dalam kekalahan
dan kematiannya.

rekahan keempat: darah beranimu tergenang, menenggelamkan upayamu, jerih payahmu yang berakhir patah.

tinta Perjanjian Bongaya
hitam namun suram
mampu meredam kacau, namun tak memadam khianat
“pena adalah pedang” licikmu
“badik ini pantang kusarungkan kembali”
ya, marah ini harus basah, oleh marah dari darah haram jadah
“badik ini pantang kukeringkan”
ya, percik luka tebasan ini menetes dalam samudera lautan amarah
di tanah para pemberani.

rekahan terakhir: usiamu telah usai mengabdi, namun rangka ragamu tak akan ragu, beserta namamu tak akan terbenam di Timur.

benteng Somba Opu berdiri gigih
gagah I Mallombasi Daeng Mattawang mengabadi
dalam wujud Tumenanga Ri Balla Pangkana
dalam sahut kokok ayam dan kukuh perjuangan
tentang keberanian.[]

By Warman D. Sally

Pemimpin Redaksi Kareba Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *