Apakah layuku ini sudah menjadi jalan takdirku untuk melarikan diri dari dunia yang hina-dina ini?

Tanya itu seakan menjadi isyarat kematianku. Sebuah kematian yang suci. Sebuah kematian dimana cahaya-cahaya surga menebarkan putih bersihnya, tanpa cacat, tanpa noda, tanpa salah dan penyesalan. Kematian yang akan membahagiakan diriku yang hanya tinggal ranting yang kerontang dan tubuh yang tidak tabah lagi pada zaman yang kian gila ini.

Aku hanyalah sebuah pohon yang berkali-kali harus terluka dan dirundung duka. Merunduk lesu, menyusut di terik mentari, meluap di genangan air hujan, menggila di hingar-bingar makhluk yang bernama manusia yang beringas, serakah, dan tak kenal belas-kasih itu. Aku hanyalah sebuah pohon yang berkali-kali harus terluka dan dirundung duka.

Aku hanyalah sebuah pohon yang yatim di tahun 2050.

*

Beberapa tahun lampau, aku hanyalah tunas kecil yang gemulai. Tubuh kecilku hanyalah segenggam tanah, ranting kurus, dan selembar daun muda yang bila tertiup angin akan melambai-lambai penuh kemanjaan.

Aku ditanam oleh seseorang yang katanya bagian dari aktivis lingkungan yang peduli akan pelestarian pohon dan penghijauan bumi. Aku tak sendiri saat itu. Ada puluhan, atau ratusan, atau ribuan yang seperti diriku, entahlah berapa pastinya. dan mereka ditanam dengan orang yang juga aktivis lingkungan. Sungguh mulia budi mereka, walau kami hanyalah tunas pohon tapi mereka mencintai kami begitu sempurna, pikirku.

Seiring dan sejalannya masa, aku mulai bertumbuh, bertumbuh, bertambah besar. Rantingku yang kurus kini menebal dan menjalar. Daunku yang hanya satu kini beranak-pinak dan menyebar ke segala penjuru ranting. Aku pun tambah kuat dan kukuh dengan akar yang memaku tanah dulu dimana aku tumbuh bersama teman-temanku. Ya, mereka kini seperti aku, menjadi pohon yang rindang, membuat siapapun yang memandangnya akan sejuk dan tenang bernaung di bawahnya.

Aku dan teman-temanku menjadi pohon yang lebat dan hebat.

*

Tebaran sinar jingga mentari di penghujung hari memantul di sela-sela daunku. Burung-burung tanggap pemakan serangga hinggap di ranting-rantingku untuk bersantai dan menikmati kesejukan senja yang memukau setiap saat. Angin bermain-main penuh kejahilan, membuat diriku sedikit geli dan tertawa.

Satu-dua-tiga temanku juga berbahagia dengan hari yang damai ini. Karena kebahagiaannyalah, dari diri mereka ada yang menumbuhkan buah-buahan ranum, segar, dan manis. Buah mereka jatuh ke tanah dan dinikmati hewan-hewan di bawah mereka. Sungguh tidak ada yang tidak merasakan keceriaan yang dipersembahkan alam untuk kami para pohon.

Aku sangat bahagia menjadi pohon. Seterusnya dan selamanya.

*

Mentari menggigit bumi dengan panasnya yang tajam. Tubuhku terasa ikut membara, seakan ada selimut yang memelukku dan melingkupiku, hingga ranting dan daun gugur satu-satu, menyerah akan serangan panas ini.

Tak-tuk-tak-tuk.

Suara apa itu? Terkaku.

Suara itu terdengar samar namun terasa sangat dekat. Suara itu terasa asing bagiku. Angin bersiul? Bukan. Burung bersahutan? Bukan. Hewan yang sedang bermain? Bukan juga. Aku bingung dengan suara misterius itu.

Tak-tuk-tak-tuk.

Suara itu mendekat, mendekat, mendekap pendengaranku.

Apa itu? Tanyaku. Kulihat ada sesosok manusia. Ya. Manusia yang pernah menanamku sewaktu aku masih tunas kecil yang gemulai. Tapi, aku tak yakin persis dialah orang yang menanamku dulu. Tampangnya lain, pun tampannya juga berbeda. Kenangan masa lampauku masih samar-samar dan sukar untuk mengingatnya kembali.

Orang itu kemudian duduk di akar-akarku yang menjalar dan tebal. Ia sepertinya capek dan butuh istirahat, pikirku. Aku pun melambai-lambaikan daun-daunku dan menggesek-gesek ranting-rantingku hingga tercipta kesejukan yang menentramkan. Orang itu pun merasa nyaman berada di bawahku. Ah, leganya. Begitulah kira-kira di pikirannya.

Orang itu pun bangkit dan tersenyum padaku. Kulihat wajahnya semringah dan raganya bersemangat.

Terima kasih, pohon. Kelak kau akan bermanfaat untuk orang lain sepertiku.

Aku bahagia mendengar ujarannya. Sebuah pujian yang menambah kepercayaan diriku sebagai pohon.

Aku adalah pohon dan aku adalah kebaikan di sekelilingku.

*

Waktu berjalan begitu gesit dan kadang tergesa-gesa. Aku kian lebat dan semakin menjulang. Daun dan ranting semakin tebal hingga matahari tak mampu menerobos sela-selanya untuk menyentuh tanah. Akar-akarku tak sekadar tebal lagi, tapi lebih besar dan hampir menyentuh pohon-pohon lain. Seluruh tubuhku jauh lebih kukuh dan teguh bersama teman-temanku sesama pohon, bahkan lebih besar dari teman-temanku sendiri.

Waktu berjalan begitu gesit dan kadang tergesa-gesa dan di sekelilingku kian ramai setiap waktu.

Manusia itu kian waktu kian banyak.

Satu-dua-tiga, bahkan tak terhitung mereka berbondong-bondong ke tempat ini. Bernaung, berkumpul, bercengkerama dengan sesama mereka. Tempat ini dari waktu ke waktu kian ramai, bahkan kesan damai pun perlahan-lahan buyar.

Namun demikian, aku merasa ini justru membuatku tidak kesepian lagi. Temanku bertambah banyak lagi, tak hanya angin, burung, hewan-hewan, pohon-pohon, dan alam. Mereka adalah temanku, yang membuatku semangat menjadi pohon dan membahagiakan mereka, walau mereka terlalu ribut dan ricuh, tapi tak apa-apalah, begitulah cara mereka menebarkan keramaian ke sekita. Begitulah menurutku.

Mereka semakin banyak dan berhimpun di rimbun tubuhku. Mereka membicarakan banyak hal dari orang-orang yang berbeda: sepasang kekasih yang merencanakan hari bahagia, sekumpulan pemuda yang berdiskusi untuk turun aksi melawan kebijakan pemerintah, sehimpun ibu-ibu yang berceloteh lepas, dan banyak lagi manusia dengan segala berita, cerita, dan deritanya masing-masing.

Keramaian itu tidak saja membawa manusia lain untuk datang ke sini, tetapi banyak lagi barang yang sangat asing dan malah membuatku risih terhadap mereka. Barang-barang itu entah jelmaan dari alam mana. Apakah semua itu berasal dari alam lain di luar tempatku kini? Ataukah itu dimuntahkan dari manusia-manusia yang datang ke sini?

Aku, sebuah dan lingkunganku kini dilingkupi manusia, dan barang-barang yang mereka bawa meramaikan dan menghantui tempat ini.

*

Hahahaha… Hahahaha… Hahahaha…

Barang-barang itu seakan mengejekku penuh penghinaan. Dari dulu aku sangat risih dan benci terhadap barang-barang itu. Mereka sok penguasa tempat ini. Menganggu keasrian dan kelestarian tempat yang kedamaiannya telah tertanam kuat bertahun-tahun lampau. Teman-temanku pun merasa risih akan kebisikan yang ditimbulkan dari barang-barang itu. Sayang, mereka bisu dan tak mampu berbuat banyak atas apa yang terjadi.

Barang-barang itu bertindak tak selayaknya kepada kami, para pohon. Rumput-rumput yang menjadi taman bermain para hewan tak menampakkan hijaunya yang cantik. Sungai-sungai yang menjadi kolam mandi para burung melepas lelah berburu kini berbuah warna menjadi keruh dan berbau tak sedap. Angin yang meniupkan udara segar kini tak segar lagi untuk dihirup atau lewat dari sela-sela tubuhku.

Tidak. Barang-barang itu malah membuat kami sengsara dan merana.

Hahahaha… Hahahaha… Hahahaha…

Tawa mereka kian meruntuhkan semangat hidupku. Teman-temanku sesama pohon bersedih, burung-burung malas untuk bertengger di tubuhku, hewan-hewan tak betah dan memutuskan melarikan diri, angin bertiup amat kencangnya yang menegaskan kemarahannya yang tak terbendung atas yang terjadi di tempat ini.

Barang-barang itu tak punya belas-kasih. Plastik makanan, kaleng minuman, sedotan, besi tua, cairan kimia, kertas sobek, mereka semua menertawakan kedukaan kami.

Aku adalah pohon dan barang-barang itu adalah sampah.

*

Tahun 2050. Tahun di ujung tanduk. Tahun dimana tempatku yang dulunya adalah belantara hutan yang hijau kini menjadi belantara besi yang penuh kaca dan keributan. Tahun dimana burung-burung berhenti bernyanyi karena nyanyian mereka dipandang sebagai suara yang memekakkan telinga manusia. Tahun dimana hewan-hewan hanya meninggalkan sejarah yang tertulis di museum dan tulang-belulang. Tahun dimana angin semakin murka hingga membawa bencana yang meluluhlantakkan apa yang disentuhnya. Tahun dimana teman-temanku harus mati di mata kapak dan tempat mereka tumbuh ditanamkan paku, besi, semen, dan barang-barang khas manusia yang kelak mereka pakai untuk menghidupi diri mereka yang egois. Tahun dimana aku, adalah pohon yatim yang dibiarkan tumbuh sepi dan menunggu ajalnya.

Tahun 2050. Sampah telah berhasil membunuh harapanku dan harapan teman-temanku: menjaga bumi ini tetap hijau dan layak dihuni segala makhluk. Sampah telah berhasil berkuasa di bumi ini. Di tanah, di udara, di laut, sampah menaklukkan semuanya dengan keangkuhan mereka. Sampah telah berhasil menggagalkan cita-cita mulia kami.

Terima kasih, pohon. Kelak kau akan bermanfaat untuk orang lain sepertiku.

Hahahaha… Hahahaha… Hahahaha…

Terima kasih, pohon. Kelak kau akan bermanfaat untuk orang lain sepertiku.

Hahahaha… Hahahaha… Hahahaha…

Pikiranku kacau. Ingatan itu menghantuiku lagi. Tawa ejekan dan ujaran pujian. Tawa ejekan dan ujaran pujian?

Kemana yang memberiku ujaran pujian itu? Kemana mereka? Kemana manusia-manusia yang menanamku yang hanya berawal dari tunas kecil? Kemana manusia-manusia yang melingkupi tubuhku dan berteduh di bawahnya? Kemana manusia-manusia yang bersuara banyak hal? Kemana mereka yang membawa barang-barang yang mengejekku sampai sekarang ini?

Kemana mereka semua? Oh tidak. Apa mereka juga ikut tertawa bersama para sampah-sampah itu?[]

By Warman D. Sally

Pemimpin Redaksi Kareba Indonesia

56 thoughts on “Riwayat Terakhir Sebuah Pohon di Tahun 2050”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Redaksi