MANUSIA DAN PERTANYAAN-PERTANYAANNYA

(1)
anak-anak kehilangan kanak-kanaknya yang berharga dan hanya berkutat oleh dua hal: cerita menggembirakan yang ia rindukan dan derita yang memaksanya untuk mati segera. bising bom dan desing peluru menjadi tontonan yang menuntunnya lari menuju pusara ibu bapaknya di rimbun rumah yang rubuh dan luruh. yang tersisa hanyalah air mata yang membatu, foto keluarganya yang telah abu oleh api, dan kenangan yang berdebu ditempa badai kecamuk peperangan. ia pun berteriak, melantang, memanggil siapa saja yang peduli: “kemanakah kemanusiaan itu?”

(2)
senjata, sengketa, dan seluruh ambisi menjadi makanan yang tak memuaskan hasrat dan nafsu. di kepala mereka hanyalah dua cita-cita: bebas atas nama perjuangan atau ditebas atas nama kehormatan. di mata yang nyalang, beringas, buas, menerkam kaum-kaum penindas. Mereka anjing-anjing yang tak tahu berterima kasih. Daging yang kita beri, mereka balas dengan mengoyak daging anak cucu kami. Suatu saat, akan kubakar daging-daging mereka dan kuhinakan di depan anjing-anjing kelaparan, serapah mereka begitu ganas. mereka pun berteriak, melantang, memanggil siapa saja yang abai: “apa gunanya kemanusiaan sekarang ini?”

(3)
di seberang bumi sana, ramai-ramai seruan perdamaian dan kecaman atas peperangan. suara itu menyerukan dua ingin: hentikan pertumpahan darah ini atau hempaskan mereka yang dinamai “penjajah”. Seluruh dunia tersentak, terhenyak akan suara ramai yang menggelegar itu; bantuan demi bantuan mengalir tiada surut, doa-doa merapal sampai langit tak mampu menampung, dukungan menghujam, kecaman menghujat mereka yang dengan kalapnya meluluhlantakkan alur separuh bumi dan kehidupannya. mereka pun berteriak, melantang, memanggil siapa saja yang iba: “masih adakah kemanusiaan di muka bumi ini?”

(4)
pemimpin-pemimpin dunia hanya duduk termangu, tertunduk, mematung atas krisis yang kian kritis: peperangan berkepanjangan hingga nyawa tak lebih dari seonggok daging yang dihinakan. namun tangannya kaku, kakinya beku, mulutnya dipaku oleh ketakutan. mereka –ingin—berteriak, melantang, memanggil siapa saja yang ingin mendengarkannya: “pantaskah aku menjadi manusia?”[]

***

DUA MEI DUA RIBU SEKIAN

dua mei dua ribu sekian
ingin kuceritakan tentang mereka yang mengungguli fajar
dengan seragam sekolah putih –kekuningan– merah
beserta pena, kertas, dan sepatu yang menganga –saking bersemangatnya
ke sekolah

dua mei dua ribu sekian
ingin kuceritakan tentang kaki-kaki mungil
bertaruh nyawa demi berburu masa depan
demi bisa mengeja “ini budi”
lalu mengajaknya pulang ke rumah
mengajarkannya mengeja, lagi

dua mei dua ribu sekian
ingin kuceritakan tentang anak-anak yang
bercita-cita di kertas lusuh sambil berkeliling
Indonesia dalam atlas yang termakan
rayap dan ratapan anak-anak pertiwi

dua mei dua ribu sekian
ingin kuceritakan tentang guru-guru
“pahlawan tanpa tanda jasa” gelar nasional katanya
walau tak berjas dan tak pernah terpampang nama dan wajahnya
di daftar pahlawan Indonesia

dua mei dua ribu sekian
ingin kuceritakan tentang sekolah yang melawan
zaman, dilahap ketidakpedulian
karena sekolah itu, akan runtuh juga
siswa dan gurunya akan terjebak
oleh keadaan yang sudah takdirnya, katanya.

dua mei dua ribu sekian
ingin kuceritakan tentang pelita dan gemintang yang
berkelap-kelip: menunggu bintang jatuh sebelum malam
patuh menemani mimpi kecil
anak-anak pertiwi: “aku ingin jadi dokter, aku ingin jadi insiyur,
aku ingin begini, aku ingin begitu, itu itu banyak sekali.” dua mei dua ribu sekian
ingin kuceritakan kepada Ki Hajar Dewantara
“wahai maha guru, dua mei di tahunmu apakah lebih baik?”
namun tak ada jawaban, kata ya pun tidak ada
wajahnya membeku, bersama rayap yang memakan habis wajahnya
bersama sekolah yang terancam tertutup
bersama guru yang merantau
bersama anak-anak pertiwi, bersama budi
mengeja cita-cita.[]

***

KITA ANAK-ANAK 28 OKTOBER 1928

(1)

ibu pertiwiku
ini waktu anakmu
menyanyikan kidung perjuangan
mengepalkan tangan yang nyaris patah dan putus
mengangkat harga diri
dan harga mati;
merdeka!

tanah ini
ialah yang memelukku
ialah yang kupijak
air mata ini
ialah yang menyejukkanku
ialah yang kurenangi
tanah air ini
ialah yang mempercayaiku
ialah yang kuperjuangkan
ini waktu anakmu
merdekalah tanah air
dengan darah merah.

(soempah pertama: kami poetra-poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia)

(2)

bumi khatulistiwa
menyajikan persatuan dan persaudaraan
dari tanah rencong, tari saman bertalu-talu, bertubi-tubi
menyenandung irama semesta dan mata pejuang
hingga di negeri cendrawasih, tari selamat datang
menyambut pahlawan dari alamnya yang tenang

ini bangsa
yang satu
ini rasa
yang padu

(soempah kedoea: kami poetra-poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia)

(3)

bahasa adalah ruh bangsa
bahasa adalah rahim lisan nenek moyang
bijak berkata, bajik berbuat
pada lontara, pada prasasti, pada syair, pada kitab

bahasa adalah ruh bangsa
maka inilah ruh yang memadukan kita, berbaur dalam segala beda
segala jarak
menjadi gerak

(soempah ketiga: kami poetra-poetra Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia)

(4)

wahai Indonesia
pada tanah air yang menjagaku
pada bangsa raja-raja penakluk
pada bahasa ibu
tanggal dua puluh delapan
bulan oktober
tahun seribu sembilan ratus dua puluh delapan
janjiku padamu;
sekali merdeka atau harus
merdeka![]

By Warman D. Sally

Pemimpin Redaksi Kareba Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *