Aku berjalan dan tak ingin berbalik ke belakang. Aku berjalan terus, tanpa jeda, tanpa putus. Aku berjalan seolah di depanku adalah tujuan yang sejati, tujuan yang satu; satu-satunya. Aku berjalan, satu-dua-tiga langkah pelan, tapi pasti memindahkanku menuju tujuan satu itu.

Aku berjalan, empat-lima-enam langkah yakin dan tanpa ketakutan: sebuah keberanian yang masih tersisa di rangka raga dan di ringkih kalbuku. Aku berjalan, tujuh-delapan-sembilan langkah yang bersungguh-sungguh, seperti anak kecil yang mengharap nilai sepuluh, sempurna. Aku berjalan, menuju kesempurnaan, amat sangat sempurna.

Aku berjalan dengan kaki yang beralaskan sandal jepit. Aku berjalan tak membawa apa-apa semenjak memulai perjalanan panjang. Tidak pakaian, tidak kendaraan, tidak harta, tidak tahta, tidak keluarga, tidak ada, kecuali sandal jepit di kakiku. Aku berjalan saja, karena itu semua fana, fantasi sesaat, dan membuatku pusing, mual, muntah, dan hilang sadar, hingga pada suatu waktu, semuanya luluh lantak diterkam waktu yang aku sendiri pun tak mampu menerkanya. Aku berjalan sendiri dan sendirian, tanpa siapapun, tanpa apapun, kecuali sandal jepit di kakiku. Aku berjalan saja, karena kuyakin di sana, tujuan yang sejati itu, aku tidak sendiri dan sendirian lagi, segalanya ada siapa dan apa yang menemaniku.

Aku berjalan, tapi kurasa kakiku berat untuk melangkah lagi, seakan ada batu yang menjalari kakiku. Aku sedikit demi sedikit berjalan, tapi kuasa kakiku hilang seketika, seakan kakiku dingin, lalu beku, lalu kaku. Aku berusaha berjalan, tapi kakiku bukan kakiku lagi, seakan kakiku menolak perintahku untuk terus berjalan, berjalan terus. Tidak! Aku tak bisa berjalan lagi.

Mau kemana kau? Jangan pergi! Kembalilah! Kembalilah!

Suara itu? Oh tidak! Suara itu! Suara yang menggema sejak permulaanku melakukan perjalanan ini. Suara yang meluluhlantakkan siapapun dan apapun yang mendengar gelegarnya. Suara yang menggetarkan, oh tidak, mengancam tepatnya. Suara itu! Suara itu?

Oh tidak! Jangan! Jangan menangkapku! Jangan mengiringku lagi ke sana. Aku hanya ingin ke tempat yang sejati itu. Ini! Ambil ini! Ambil sandal jepit ini! Kau puas? Aku akan pergi, sejauh-jauhnya, selama-lamanya. Aku berjalan, tetap aku berjalan. Berjalan tanpa sandal jepit. Biarlah aku telanjang kaki, telanjang badan, telanjang hati. Aku hanyalah manusia yang berjalan menuju yang sejati itu.

By Warman D. Sally

Pemimpin Redaksi Kareba Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *