Oleh: Ika Rini Puspita (Ketua FLP Cabang Gowa)

Ika Rini Puspita (Ketua FLP Cabang Gowa)

karebaindonesia.id – Hampir genap dua periode pandemi mengintai negeri, sampai hari ini tidak ditemukan solusi tepat untuk mengatasi permasalahan ini, justru semakin bertambah luas zona merah diberbagai daerah atau kota.

Sikap optimis dan pesimis pun dirasakan masyarakat. Naik turunnya rasa ini, menjadi kekawatiran berbagai kalangan. Bahkan ada yang sudah bosan dengan pandemi dan bergumam ‘sampai kapan begini terus’?. Kami ingin hidup normal seperti biasa tanpa pandemi!

Namun, fakta berkata lain seperti yang dilansir dari CNN Indonesia (13/07/2021) Indonesia mencatat kasus harian positif dan kematian baru akibat virus corona tertinggi di dunia pada Senin (12/7). Berdasarkan data Worldometer, penambahan kasus positif Covid-19 di Indonesia menempati urutan tertinggi dengan 40.427 orang, disusul Inggris sebanyak 34.471, dan India 27.404. Sementara kasus kematian harian Covid-19 Indonesia bertambah 891, kemudian disusul Brasil di urutan kedua dengan 765 jiwa, dan Rusia 710 korban meninggal. Sedangkan untuk kasus sembuh, Indonesia menempati urutan ketiga dengan 34.754 pasien. Urutan pertama pasien sembuh ditempati Brasil dengan 78.342 orang dan India sebanyak 45.261 Kini total kumulatif terpapar virus corona di Indonesia sudah mencapai 2.567.630 kasus.

Kasus yang cukup mencengangkan, justru berbanding terbalik dengan tindakan masyarakat yang abai terhadap ‘Prokes’ dan bahkan tidak percaya dengan vaksin. Padahal itu salah satu dari ikhtiar pencegahan. Fakta ini, bukan sepenuhnya salah masyarakat karena sejak awal berita vaksin-covid tidak karuan. Mulai dari dana Covid-19 yang dikorupsi, kebijakan yang plin-plan dan banyaknya kejaganggalan yang dihadapi masyarakat di lapangan.

Kurangnya Literasi-Edukasi

Di era teknologi yang semakin canggih, tidak dapat kita pungkiri bahwa kita sudah terbiasa dengan segala macam kemudahan untuk mengerjakan segala hal. Kita jadi terbiasa mendapatkan segala sesuatu dengan cepat. Luarbiasanya, dengan hanya membaca judulnya saja, kita sudah tahu isi dari sebuah artikel/berita. Ini menandakan bahwa, minat literasi kita sangat minim, sehingga dengan mudah termakan informasi negatif (yang belum tentu kebenarannya). Informasi terkait Covid-19 misal, sehingga negeri ini semakin amburadul.

Fakta lain, karena minimnya edukasi pemerintah ke masyarakat. Dalam artian, pemerintah kurang sigap menangani pandemi. Edukasi yang ada saat ini layaknya hanya basa-basi. Disisi lain melarang mudik, melarang aktivitas di Masjid. Tapi justru mall-mall dibuka, dan leluasanya (kecolongan) WNA datang ke Indonesia. Seperti ’20 TKA China Masuk ke Makassar’ (DetikNews, 04/07/2021).

Bukankah Covid-19 berasal dari luar Indonesia? Tapi kenapa kita tidak memikirkan hal itu. Apakah gara-gara hutang, mampu menyumbat mulut penguasa atau yang biasa nyinyir?

Seperti pemberlakuan PSBB yang kini berubah nama menjadi PPKM. Beberapa mengatakan, ganti nama karena duitnya tidak ada. Seharusnya, dengan diberlakukannya PPKM darurat, maka seluruh mobilitas domestik dibatasi lebih ketat, baik darat, udara dan laut. Faktanya tidak! Sehingga kebijakan ini, menjadi anomali, karena orang asing (WNA) masih diberikan kelonggaran masuk Indonesia, baik turis dan TKA, tanpa ada rintangan.

Kerancuan Kebijakan Antara Penyelamatan Nyawa dan Ekonomi

Sejak awal, rezim bingung menentukan standar prioritas antara ekonomi dan nyawa rakyat. Dampaknya, bisa kita rasakan sekarang. Karena mementingkan ekonomi, nyawa rakyat pun jadi taruhan.
Sebab, pembatasan mobilitas PPKM hanya dilakukan dilingkup itu saja. Maka, penyebaran Covid-19 dengan berbagai varian tidak bisa terputus datang dari luar Indonesia. Wajar, karena sumbernya tidak di putus.

Maka dari itu, kami meminta pada otoritas agar pengetatan mobilitas darat, udara, dan laut, juga diperluas hingga pembatasan WNA masuk ke Indonesia. Terutama WNA yang berasal dari sarang berbagai varian Covid-19. Karena percuma PPKM Darurat diberlakukan sementara WNA diberikan keleluasan masuk Indonesia. Walaupun individunya taat prokes dan vaksin, bukan jaminan terhindar dari serangan Covid-19. Sebab, masalah ini sistematik maka menyelesaikannya pun harus sistematik semua kalangan (individu, masyarakat, penguasa-sistem). Intinya, kami hanya menginginkan yang terbaik untuk negeri, semoga pandemi segera berakhir, dan bumi dapat kembali normal.

Indonesia yang menganut sistem Kapitalisme, kejadian di atas sangat wajar. Sebab, kebijakan cenderung ke arah kapital-pemilik modal. Sangat berbeda dengan Islam, hukum Syara’ (Tuhan) yang menjadi standar dan prioritas semata-mata demi kepentingan rakyat. Pincangnya sistem Kapitalisme yang berlarut-larut, artinya kita butuh sistem alternatif sebagai jalan keluar dari krisis kapitalisme ini. Sistem alternatif inilah yang akan dikembangkan dan menjadi platform bersama dalam perjuangan. Hemat penulis, apa salahnya kita menggunakan aturan Islam dalam menjalani kehidupan. Toh, sejarah pernah membuktikan bagaimana teraturnya dunia diatur dengan Islam!

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *