Daus mendatangi Siska yang duduk manis membaca buku di bawah pohon. Menggenggam setangkai mawar dan coklat ia tak lupa memberi sebuah janji. Senjata pamungkas bagi setiap lelaki yang berniat memiliki.

“Maukah kau menjadi kekasihku? Aku akan menjadi orang yang paling tabah menjaga dan mencintaimu.” Daus berlutut di hadapan Siska, tangan yang menggenggam setangkai mawar dihadapkan ke arahnya.

“Hah! Bagaimana mungkin aku menerima seorang lelaki yang bisanya cuma memberi janji. Kau tahu, ketabahan pohon ini jauh lebih terbukti dari segala macam ucapanmu tadi.”

Siska menutup buku yang baru sekitar lima halaman telah habis ia baca. Ia lalu pergi menaiki mobil angkutan yang melintas.

Daus tak tahu harus bagaimana agar dapat meyakinkannya. Segala macam cara telah ia coba untuk menyatakan cinta. Pernah sesekali ia berusaha dengan menjanjikan sebuah rumah, mobil, dan apapun yang Siska mau. Dipikirnya, semua perempuan di dunia ini bisa takluk jika diperhadapkan dengan materi. Tetapi segala usahanya, lagi-lagi mendapat penolakan mentah-mentah.

Saat malam sampai di rumah, ia memilih berbaring di atas kasur. Di sepertiga malam yang entah pukul berapa, Daus kemudian bangkit, segera memanjatkan doa kepada sang Khalik. Doa yang menurut sebagian orang adalah hal yang tak waras. Meskipun sebagian orang pun tak menyadari bahwa cinta memang membuat orang tak lagi mampu berpikir waras. Malam itu, entah dengan alasan apa, Daus mengepalkan tangan ke arah langit, lalu berdoa agar dikutuk menjadi pohon.

***

Matahari mulai membilas daun-daun pepohonan di perkotaan. Daus kini berubah menjadi pohon yang tumbuh di pinggiran jalan kota. Suatu hari yang begitu panas, tanpa sengaja, dilihatnya Siska berjalan dengan seorang lelaki yang menggandeng tangannya. Lelaki itu adalah Fikri, sahabatnya sendiri. Mereka kemudian duduk di bawah pohon lalu menyantap sebungkus somay berdua yang tak sengaja lewat.

“Sayang. Aku selalu yakin bahwa seseorang yang sering datang memberi mawar, akan kalah dengan yang datang memberi mahar. Siska, aku ingin melamarmu besok. Kuharap kau bersedia menjadi istriku.”

“Terima kasih, Sayang. Besok datanglah ke rumah. Aku menunggu.”

Karena tak disediakan tempat sampah di sekitaran pohon. Saat beranjak pergi, Siska dan Fikri membuang sampah plastik bekas pembungkus somaynya di belakang pohon.

Daus serasa ingin kembali menjadi manusia. Namun ia kembali berpikir lebih baik menjadi pohon daripada menjadi manusia. Menjadi manusia seperti dirinya tidak akan bisa sanggup melihat Siska dimiliki lelaki lain.

Namun sungguh malang nasib Daus yang kini berdiri menyambut orang-orang lewat. Satu persatu dilihatnya mereka ikut-ikutan membuang sampah. Sampah yang menumpuk pun beranekamacam seperti botol plastik, bungkusan nasi, dan puntung rokok.

Seorang lelaki yang tinggal tak jauh dari pohon datang. Di tangannya, ia menggenggam palu dan membawa beberapa papan, cat, serta paku berukuran lima centimeter. Ditusukkannya enam butir paku ke beberapa lembar papan di tubuh pohon. Lalu di atas permukaan papan itu, kemudian ditulis kalimat “Dilarang Membuang Sampah di Sekitaran Pohon”.

Beberapa hari berlalu, orang-orang yang lewat masih saja membuang sampah di sekitaran pohon. Tumpukan sampah memiliki tambahan jenis variasi, seperti makanan basi, sayur basi, tikus mati, bahkan ada juga sampah bekas kondom yang entah habis digunakan apa. Semua bercampur dalam satu tumpukan. Lelaki paruh baya yang memasang tanda larangan, kini mengganti papan dan dengan kalimat baru “Hanya Anjing yang Membuang Sampah di Pohon ini”.

Satu minggu berjalan, kuantitas tumpukan sampah terlihat sudah mulai berkurang jika dibandingkan di hari-hari sebelumnya. Namun itu hanya berlangsung beberapa hari. Seminggu selanjutnya, tumpukan sampah bertambah. Bau di sekitaran pohon semakin menyebar dan menyengat. Di tubuh batang pohon itu juga telah tertempel baliho bergambar seseorang yang memakai pakaian rapi dengan sebuah kalimat pelengkap bertuliskan “Pilih Pasangan yang Bersih”. Meskipun mereka sendiri tak sadar, balihonya telah membuat pohon itu semakin terlihat kotor.

Sayangnya, di negara itu, kata-kata memang jarang diperhatikan oleh setiap orang. Orang-orang yang semakin dilarang, justru hasratnya semakin tinggi untuk melakukan. Lelaki paruh baya itu bingung harus dengan kata-kata apa lagi yang ia tulis agar dapat mengurangi kuantitas sampah. Hingga tiba-tiba ia menemukan sebuah ide gila yang mungkin akan dapat mencegah orang membuang sampah. Solusi terakhir, dengan cara menebang pohon itu.

Terkejut bukan main Daus mengetahui niat lelaki itu. Dan itu berarti ia akan mati sebagai pohon. Lalu seketika ada sesuatu yang melintas di pikirannya. Tentu sebagai jelmaan pohon, Tuhan masih memberinya kemuliaan untuk berpikir.

“Bukankah mati sebagai pohon jauh lebih mulia daripada mati sebagai manusia? Mati sebagai pohon masih memberi manfaat. Tubuh pohon akan bermanfaat bagi makhluk hidup lain. Daripada tetap hidup menjadi pohon yang terus menerus dijadikan tempat pembuangan sampah. Ah, benar sekali, aku ingin mati saja sebagai pohon.”

Seperti mendengar sebuah bisikan dari pohon. Lelaki paruh baya itupun memanggil tukang penebang pohon yang berada di belakang rumah, lalu segera menebang dan mendaur ulang pohon itu menjadi beberapa papan dan balok. Esok hari ia lalu menjualnya ke Toko Kayu Makmur Perkasa dengan harga yang cukup untuk membeli satu unit meja kayu.

Sementara itu yang terjadi di kota pohon-pohon telah habis ditebang satu persatu. Pohon-pohon yang tadinya tertebang digantikan dengan bangunan-bangunan baru. Setiap hari orang-orang berjalan terpaksa harus memakai payung, agar tidak kenapasan akibat suhu yang mencapai 35 derajat celcius.

Seminggu kemudian, Siska dan Fikri yang baru beberapa minggu merayakan pernikahan mendatangi Toko Makmur Perkasa untuk mencari papan dan balok. Mereka membeli kayu itu untuk pengerjaan atap rumah. Dan tentunya, tak satupun dari mereka tahu, kayu yang dibelinya dengan harga dua kali lipat itu adalah jelmaan Daus.

Di alam sana, kini Daus benar-benar bisa bahagia. Andai ia masih hidup entah sebagai pohon atau manusia, kehidupannya tentu hanya akan membuatnya semakin terluka.

Sumber Gambar : www.pixabay.com

Penulis : TETTA SALLY.  Penulis buku “Perempuan Dilarang Bahagia”.

By Warman D. Sally

Pemimpin Redaksi Kareba Indonesia

1 thought on “Seorang Lelaki yang Ingin Tabah Seperti Pohon”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *