karebaindonesia.id – Perubahan status Hagia Shofia atau Ayasofya dari museum menjadi masjid pada Jumat, 10 Juli 2020 lalu adalah langkah besar Presiden Turki, Recep Tayyib Erdogan mengembalikan semangat Islam yang menjadi identitas Turki dalam sejarah peradaban kekhalifahan Utsmani di negara tersebut. Berbagai pihak menyetujui keputusan tersebut, termasuk umat Islam di Indonesia, yang bahkan ingin merasakan suasana saat salat berjamaah di tempat tersebut. Tapi ada pula yang menolak keputusan tersebut, karena tempat tersebut dulunya adalah gereja yang dibuat oleh Kaisar Bizantium Constantius pada tahun 360 Masehi yang akan menghilangkan jejak sejarah yang telah ada di tempat itu.

Walau sempat mengundang pro dan kontra dalam perubahan status Hagia Shofia menjadi masjid, Presiden Turki merasa bangga dan optimis. Pasalnya, Erdogan bersumpah akan membebaskan Baitul Maqdis atau Masjid Al-Aqsha. Menurutnya, Hagia Shofia adalah “kunci” pembebasan dan tekad baik untuk seluruh umat Islam di seluruh dunia. “Kembalinya Hagia Shofia (sebagai masjid) adalah awal mula dari pembebasan Masjid Al-Aqsha dan juga upaya umat Islam untuk meninggalkan hari-hari yang memberatkan mereka,” ujar Recep Tayyib Erdogan dalam pidatonya di akun Facebook Turkish Serial Islam beberapa waktu yang lalu.

Langkah-langkah yang dikeluarkan oleh Presiden Turki selalu menuai pertentangan dari masyarakat sekuler Turki dan beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat. Meski demikian, Hagia Shofia yang terkenal dalam sejarahnya sebagai saksi bisu penaklukan Konstantinopel (Istambul kini) di tangan Sultan Muhammad Al-Fatih pada tahun 1453 akan mengulang sejarah kejayaannya di abad modern ini dengan semangat yang akan dikobarkan kembali.[]

By Warman D. Sally

Pemimpin Redaksi Kareba Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×

Powered by WhatsApp Chat

× Tanya Redaksi