Cerpen karebaindonesia.id edisi 1 Nopember 2020

Husni Maftuhah

“Bagai remah rengginang di atas meja tamu”

Status yang baru saja ku-update di wall FB, mendapat beberapa respon dan komentar dari teman-temanku.

“Kamu kenapa? Kok, postingannya gitu?” Pesan dari Bang Firman masuk beberapa menit setelah aku menulis status di FB.

“Gak ada, Bang, iseng aja,” balasku dengan menambahkan emot tertawa.

Nah, kan, dia sebenarnya baca, mengikuti, update dengan apa pun yang aku posting. Akan tetapi, tak pernah sekali pun jempolnya mampir untuk sekadar menyukai, apalagi mengisi kolom komentar postinganku. Hal itu ibarat menanti pelangi saat musim kemarau.

Sebenarnya apa sih yang membuat Bang Firman pelit memberikan react pada status yang aku posting? Padahal, menyentuh ikon jempol tidak membutuhkan prosedur yang berbelit-belit. Tidak juga membutuhkan waktu yang lama seperti mengajari anak toilet trainning.

Bahkan, jika pun namanya tercantum berkali-kali pada status-status yang aku posting, tetap saja tidak akan membuat ia merespon. Entah karena ia bingung menuliskan komentar apa atau memang tidak berminat. Aku tidak tahu.

“Memelukmu adalah caraku meredam pendar-pendar rindu”

Quote dengan foto bergambar aku sedang memeluk Bang Firman dari belakang terkirim beberapa detik yang lalu.

Ini foto romantis pertama yang pernah kukirim. Sejujurnya ada debaran halus yang muncul saat kutekan tombol posting. Rasa malu juga tiba-tiba datang menderaku. Kenapa bisa aku se-lebay itu? Aku tersenyum membayangkan reaksi Bang Firman.

Debaran itu semakin mengencang saat kudengar beberapa notifikasi masuk. Bersamaan dengan sedikit rasa penyesalan yang mulai membuatku sedikit merasa bersalah.

Bagaimana kalau Bang Firman marah? Protes? Atau … malah tiba-tiba ikut komentar dan … membalas dengan kata-kata romantis. Ah, tidak-tidak, itu tidak mungkin terjadi. Kalau pun terjadi, itu pasti hanya mimpi yang kuharapkan menjadi nyata.

Aku menekan lagi tombol di samping kanan gawai. Memastikan adanya respon dari lelaki es itu, aku membuka aplikasi berwarna hijau dengan logo telepon. Ternyata kosong, padahal kulihat ia sedang online. kemungkinan besar ia sudah membaca postinganku.

Kembali aku membuka aplikasi berwarna biru. Kulihat ada beberapa komen dan respon muncul pada kolom pemberitahuan. Ada rasa senang, malu, deg-degan, saat aku membaca komentar beberapa orang. Sebagian besar adalah teman-temanku dan sebagiannya lagi teman Bang Firman.

***

Sore saat ia baru saja pulang dari kantor. Aku menyambut seperti biasa, mengambil tas dan jaket, tak lupa menyium punggung tangannya. Aku segera beranjak ke kamar untuk menyimpannya. Namun, langkahku terhenti karena panggilannya. Ia sedang membuka kaos kaki di depan teras. Setengah mati aku menahan debar di dada.

“Iya, Bang?” sahutku ragu.

Sepertinya Bang Firman akan membahas postinganku pagi tadi.

“Bikinin abang teh tawar hangat, ya!” pintanya tanpa melirikku. “Migrain abang kambuh,” ucapnya sambil memijit pelipis.

“Iya, Bang!” Aku menghembuskan napas lega. Hampir saja Jantungku copot dibuatnya. Nisa! Nisa! Kenapa harus mancing kalau akhirnya membuat galau? Aku menepuk jidat sambil berlalu ke dapur.

“Jangan lupa tambahin daun mint!” perintahnya kemudian.

“Iya, Abang, siap!” seruku sambil mengacungkan ibu jari. Tentu saja ia tak melihat itu, karena kini aku sedang berada di dapur. Bersiap memasukkan air ke dalam ketel.

***

Aku memastikan hidangan tersaji lengkap di atas meja makan. Sapi lada hitam, cap cay, kerupuk serta teh tawar hangat dengan daun mint permintaannya. Aku menunggu di kursi seperti biasa untuk menemaninya makan sambil berbincang.

Bang Firman keluar dari kamar setelah membersihkan diri dan salat magrib. Ia masih mengenakan baju koko warna abu muda dengan sarung motif kotak warna dasar hitam. Aku selalu suka melihat pemandangan ini. Rambut ikalnya, kulit hitamnya, mata tajamnya dan … senyum iritnya, walau kadang menyebalkan.

Ia menarik kursi di dekatku. Matanya berbinar melihat menu yang terhidang.

“Waah! Makan enak, nih!” serunya lalu mulai mengambil lauk dan kerupuk.

“Dek.” Suara Bang Firman terdengar tegas.

Aku mengangkat wajah, mendapati ia sedang melihatku sambil mengunyah makanannya dengan pelan.

“Iya, Bang?” tanyaku dengan debar yang mulai terasa.

“Kenapa bikin postingan kayak tadi?” tanyanya setelah selesai mengunyah suapan ketiga.

“Ehh … hmm … pengen aja, Bang,” jawabku kelabakan. “Abang nggak suka, ya?” tanyaku ragu.

“Bukan begitu, Sayang,” jawabnya cepat. “Abang risih aja kalau dibaca temen-temen abang.”

“Ya, udah, Bang, nanti aku hapus.”

Bang Firman, Bang Firman, kenapa hidupnya serius banget sih! Tidak bisakah ia berlaku seperti suaminya Mia, Rita, Tina atau Sahsa. Sekali waktu mereka upload foto bersama dengan caption yang sweet. Aku, kan, juga pengen pamer kemesraan di sosial media. Atau setidaknya ia mau memberikan respon walau sekedar like pada postingan terbaru. Hanya itu.

***

Malam saat ia baru saja tertidur, aku berusaha mengambil gawai yang masih dalam genggamannya. Seketika genggaman itu semakin erat tatkala aku memaksa jari-jarinya terurai.

Menunggu beberapa menit, aku akhirnya berhasil mengambil benda pintar itu. Gawainya jatuh tepat di sebelahku, karena genggamannya mulai melemas. Aku menekan beberapa angka yang merupakan password-nya. Beruntung dia tidak pernah merahasiakan, bahkan dia yang memintaku untuk memilih beberapa angka menjadi password-nya.

Aku langsung membuka aplikasi biru dengan simbol “F”. Masuk dengan akun-nya, kemudian aku segera mencari postingan terakhirku. Tanpa berfikir lama, kutekan ikon love untuk postingan tersebut.

Beralih ke gawaiku. Aku membubuhkan beberapa angka yang sama dengan password milik Bang Firman. Aku segera membuka FB, mencari kolom pemberitahuan.

“Firman Pramana menyukai postingan anda”

Aku tersenyum, tetapi seperti ada yang kurang. Belum afdhol rasanya jika bukan jempolnya langsung yang menyukai postinganku.

Heran, kenapa aku tidak pernah kapok melakukan hal-hal seperti ini. Padahal, aku tahu dia pasti akan mengabaikan atau bahkan protes. Akan tetapi, entah apa yang mendorongku terus melakukan ini. Apa karena sekedar ingin mendapat pengakuan dari penduduk sosmed bahwa kami bahagia? Entahlah.

“Ooo … begadang?” Suara Bang Firman terdengar lirih.

Menoleh ke kanan, aku memastikan bahwa dia tidak sedang mengigau.

Ia terpejam, tapi beberapa saat kemudian mengerjap dan kini matanya terbuka maksimal. Lelaki penyuka pimpong itu menatapku dengan dahi berlipat.

“Hobi, kok, nambah terus,” katanya seraya menarik selimut sampai perut.

“Apaan, Bang?”

“Ya itu, begadang,” jawabnya kemudian memunggungiku.

“Bang!”

“Hmm.”

“Abang!”

“Iya, apa?”

“Berhubung udah akhir tahun, boleh minta sesuatu nggak?”

“Hmm.”

“Bener, Bang?”

“Iya buruan!”

“Like dan komen status yang aku posting, bila perlu bagikan!” pintaku dengan suara lebih seperti memerintah. “Jangan kalah ama Bang Leo, dia selalu ngasi love ke postinganku,”kataku menyebutkan teman dunia maya yang aktif memberikan respon di tiap postinganku.

Seketika kepala Bang Firman terangkat kemudian menumpu pada telapak tangan dan lengan kanan.

“Jadi, kamu love-love-an sama laki-laki lain?” tanyanya dengan mata menyipit.

“Ya, habis abang gak pernah love-in postinganku.”

Dia langsung duduk merebut gawainya. Kemudian, menjelajahi aplikasi biru. Entah apa yang dilakukan selanjutnya. Aku yakin dia sedang menyukai postingan-postinganku. Menyenangkan jika benar itu terjadi.

Berusaha mengintip dari sudut ranjang ternyata sulit bagiku. Mengingat aku memiliki postur tubuh tidak terlalu tinggi. Bahkan, terbilang pendek walau untuk ukuran perempuan.

Aku berinisiatif membuka pemberitahuan lewat ponsel. Senyum tak henti terkembang dari wajahku. Kulihat Bang Firman meletakkan kembali ponselnya di atas nakas lalu menyandarkan punggung pada ranjang. Ia melirikku sekilas tanpa senyuman.

Aku kembali mengecek pemberitahuan, tetapi nihil. Lalu, apa yang ia kerjakan tadi? Mencoba mencari profilnya lewat kolom search, aku terbelalak melihat laporan.

Beberapa nama awalan Firman muncul, tetapi tak satu pun bertulisan “Firman Pramana”. Aku mencoba meneliti lagi satu persatu, tetapi memang nihil.

Dadaku terasa sesak memikirkan sesuatu. Segera meliriknya yang ternyata sedang melihatku dengan wajah datar.

“Abang blokir aku?” cecarku dengan dada mulai memanas.

Ia tak menjawab, hanya menatapku dengan tatapan seperti menyimpan kemarahan.

“Abang jahat!” teriakku disertai bulir bening yang mulai jatuh di sudut mata.

Aku menarik selimut lalu tidur membelakanginya. Menangis tersedu. Marah dengan perlakuannya.

Kurasakan sentuhan lembut pada bahu. Namun, aku segera menepisnya.

“Ya, udah, abang minta maaf,” pintanya lembut.

Aku segera menutup wajah dengan selimut. Tak menghiraukan permintaan maafnya. Biarkan saja! Biar dia tahu rasa. Walau sebenarnya aku mulai merasa kepanasan dan sesak berada dalam selimut tebal. Biar saja. Kali ini harus totalitas. Aku tidak mau dianggap bercanda lagi.

***

Aku membuka mata saat mendengar suara Azan berkumandang. Menoleh ke sebelah, ternyata bang Firman sudah tidak ada di pembaringan. Sepertinya, ia sudah berangkat ke masjid, menunaikan salat Subuh berjamaah.

Aku beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudu. Saat melewati cermin, aku berhenti sebentar melihat kedua mata masih sembab akibat menangis hingga larut. Aku bahkan tidak tahu, jam berapa aku mulai terlelap.

Masih enggan aku basa-basi dengannya hari ini. Akan tetapi, tugas sebagai istri harus tetap kujalani. Masih lekat dalam ingatan nasehat ibu sehari sebelum akad nikah dilaksanakan.

“Tugas istri adalah melayani kebutuhan suami. Jangan pernah lalai dengan tugas itu, karena ada dosa di sana jika kamu tinggalkan, tetapi ada pahala jika kamu ikhlas melaksakan.”

Dengan malas aku beranjak ke dapur. Mulai kuperiksa bahan mentah yang ada di kulkas. Aku mengambil sawi hijau, telur, cumi besar dan bumbu untuk membuat nasi goreng. Bang Firman sangat suka dengan nasi goreng seafood.

Selesai memotong bumbu dan bahan tambahan, aku meletakkan wajan di atas kompor. Saat akan menuangkan minyak goreng, aku menegang merasakan pinggang tiba-tiba dilingkari lengan yang kokoh.

“Masih marah, sayang?” Bang Firman berkata lirih di dekat telinga. Dagunya menempel pada bahu kananku.

Aku diam, melanjutkan menuang minyak goreng pada penggorengan, pura-pura tak menghiraukannya.

“Ya udah, abang minta ma–“

“Lagian Abang, sih, nyebelin,” potongku menjeda kalimatnya.

Ia mengeratkan pelukan lalu mendaratakan ciuman sekilas pada pipi kanan. Rasa panas tiba-tiba menjalar di pipiku. Ah, jika sudah begini aku bisa apa?

“Nisa sayang, dengerin abang!” ucapnya lirih.

“Abang nggak suka hubungan kita jadi konsumsi orang banyak. Terlebih jika fotomu terpajang. Bisa jadi ada salah satu mata jahat yang memandang bahkan memanfaatkan.” Lelaki berjanggut tipis di belakangku mulai menasihati.

“Abang cuma ingin menjaga perasaan para jomblowan, Sayang. Kasian mereka harus menahan rasa saat melihat pose ataupun caption romantis,” paparnya beruntun, “Abang dulu merasakan banget saat-saat itu. Jadi, abang nggak mau mereka mengalami hal yang abang alami.”

Aku berusaha mencerna kalimatnya. Memang semua alasan Bang Firman nggak salah. Sampai di sini, aku mulai memahami dan menerima apa yang memberatkannya.

“Lalu, kenapa aku diblokir?” Aku membalikkan tubuh menghadapnya. Meminta penjelasan atas apa yang membuatku menangis semalam.

“Ya, abang cemburu!” ungkapnya tegas dengan sorot mata yang tajam.

Apa? Dia cemburu? Lelaki es ini bisa cemburu? Aku menunduk mengulum senyum. Merasakan kembali denyar aneh seperti pertama kali bertemu. Lagi-lagi Bang Firman mendaratakan ciumannya di pipiku. Kali ini lebih lama dan … lebih lembut. Lalu, ia seketika merogoh saku baju koko yang dikenakan.

“Apaan nih? Hmm … Abang pasti modus, nih, ngasi aku cokelat.” Aku pura-pura manyun.

“Ya salam. Berusaha romantis dicurigai, nggak romantis dimarahi!” seru Bang Firman sambil menepok jidatnya.  

Aku tertawa lalu memeluknya erat. Ini kali pertama aku menerima cokelat bertepatan dengan usia pernikahan kami yang genap memasuki bulan kesebelas.

Lombok, 26 Oktober 2020

Husni Maftuhah, seorang ibu yang berasal dari Desa Kumbang, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, NTB.
28 thoughts on “Suamiku (Nggak) Romantis”
  1. I NEED A LOVE SPELL THAT WILL MANIFEST WITHIN 24 HOURS CONTACT (DR DAVID) HE HIS THE BEST LOVE SPELL CASTER WHO HELPED ME RESTORE HAPPINESS BACK TO MY RELATIONSHIP WHATSAPP +1(203)-533-9214

    Good day everybody, My name is (SUNIL SINHG) I am out here to spread this good news to the entire world on how I got my Ex Wife back. It all started when my Wife cheated on me with another Man, unknowing to her that the Man is a wizard, the man cast a spell on my Wife which made my Wife change her feelings towards me and the kids and broke our 6 years marriage. I was confused and stressed because of the pains of being a single Father, so I called a friend and explained my marital challenges to him, he instructed and directed me to contact this great powerful spell caster called DR. DAVID, The main reason why he instructed me to contact DR. DAVID was because in recent times she has read some testimonies on the internet which some people have written about the powerful spell caster DR. DAVID and I were so pleased and I decided to seek assistance from him which he did a perfect job by casting a spell on my Wife and utilizing the powers of the other Man which made her come back to me and beg for forgiveness. I will not stop publishing his name on the net because of the good work he is doing. To everyone with marital problems, divorce issues, lost lover or any relationship related issues, you can contact DR. DAVID the powerful Awesome spell caster via details below. Email: awesomespelltemple@gmail.com or you can also WhatsApp him on +1(203)-533-9214   Website: http://awesomespelltemplem.website2.me/   https://www.facebook.com/Awesomelovepelltemple   https://awesomespelltemple.blogspot.com/  https://sunilsinhgjames.blogspot.com/

  2. Please let me know if you’re looking for a writer for your weblog. You have some really good posts and I feel I would be a good asset. If you ever want to take some of the load off, I’d absolutely love to write some articles for your blog in exchange for a link back to mine. Please send me an email if interested. Cheers!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *