Ilustrasi oleh : @adilakbarilyasibrahimhusain

Cerpen karebaindonesia.id edisi 4 Oktober 2020

Malihatun Nikmah

Sedari tadi Syailendra berdiri termangu di penyanga rumah. Menyandarkan kepala dan badannya. Memandangi turunnya hujan di depan matanya. Kini mulai masuk musim penghujan. Musim dimana dirindukan para pelamun. Air hujan yang dingin datang tanpa diduga, menyandra semua penghuni di desa kecil, merasuk hingga ketulang. Syailendra berpikir do’a akan mengabulkan kesedihan ini.

Harapannya selalu berkecamuk dengan keadaan yang tidak diinginkan. Kecuali orang-orang yang selalu hidup dengan kasih sayang. Orang-orang di sini tak memiliki kendaraan yang bagus. Ini bukan pilihan warga desa yang sebagian besar areanya bertanah merah. Di sini, orang-orang hanya perlu menjadi petani yang baik.

Musim hujan menjadi berkah luar biasa bagi masyarakat desa di sini. Namun, jika disertai dengan angin kencang telah mengacaukan harapan dan keinginan orang-orang di sini, mengubah keberkahan berupa kepungan ketakutan. Ini jelas membuat keadaan desa dan mental orang di dalamnya kian memburuk.

pagi yang masih dibaluti mendung. Seakan tak mau kalah. Udara dingin telah memporak-porandakan kehangatan. Telah terjadi hujan semalaman. Angin masuk menyelinap memasuki rongga-rongga tubuh Syailendra seakan mengerti kalau dirinya tak ada yang memeluknya.

Di ujung desa, tempat peristirahan terakhir warga desa di sini. Di sudut area terdapat nisan tegak di atas tanah wakaf. Tidak ada nama di nisan itu. Hanya berupa nisan dimakan umur dengan dibaluti lumut. Syailendra berdiri di depannya. Cukup ramai pengunjung hari ini. Namun, kondisinya tetap saja hening. Mereka tunduk membacakan wahyu dari malaikat Jibril melalui nabi Muhammad. Mereka membaca dalam hati dengan penuh harap. Tidak ada yang berani berteriak. Kecuali anak kecil yang disambut desisan satu jari dimulut ibu, itu membuatnya tenang.

Dalam keheningan di kepala Syailendra, doanya melayang bersama desisan dan gemernyit suara gesekan bambu-bambu yang hadir di sepanjang pinggirang kanan area.

Udara dingin telah meredam setiap aroma kayu bakar yang mengepul di sepanjang deretan rumah. Sesekali tangan mereka lurus ke arah kompor tanah untuk meraba kehangatan. Langit mendung sedikit demi sedikit membuka cakrawala surya untuk memancar.

Barisan ibu rumah tangga mulai melentikkan tangan-tangan hebat mereka untuk mengiris bawang. Mengambil seutas gelanggang kangkung di pinggiran sawah. Batang kangkung dibelah menjadi dua bagian lalu memotong batang kangkung secara menyilang dengan ukuran setengah jari manis mereka.

Masih dalam musim hujan yang berat, pagi kemarin, diruang tengah keluarga kecil yang tak jauh dari jalan setapak menuju persawahan, Syailendra duduk melingkar di ruang tamu bersama tiga anggota keluarganya. Sesekali mereka saling menatap untuk memulai topik perbincangan.

“kayu hampir habis, minyak untuk menerangi rumah juga tinggal sedikit. Nyamuk-nyamuk kian merapatkan kepungan. Mereka ingin kita memberikan darah manis,” ujar laki-laki di sudut kursi. Itu Erlangga, adik Syailendra. Ia berfikir nyamuk menjadi penyebab kemalangan semua ini. “mereka datang menggandeng keluarga besarnya”, sambungnya.

Mendengar perkataan Erlangga, Syailendra tiba-tiba berdiri. “Er ikutlah denganku”.

Erlangga tiba-tiba bangkit mengikuti Syailendra. Dari kejauhan mata Syailendra melihat punggung ibu di perapian. Dua lelaki itu pergi menuju ruang dapur. Dengan cekatan Srikandi mengikuti dari belakang. Ibu tengah mempersiapkan masakan sup sebelum berangkat sekolah. Srikandi sangat menyukai masakan ibu. Perempuan dua belas tahun itu menyukai setiap potongan daging ayam yang bertengger di dalam mangkuk supnya. Usianya lebih muda empat tahun dari Syailendra.

Mengikuti rendahnya dapur, Syailendra berjalan agak condong di bangku panjang sebelah ibunya. Mata Srikandi tiba-tiba terpaku melihat sup buatan ibunya. Terdengar ujaran putrinya itu , “ayamnya mana ?”.

“Ayamnya masih tidur nak” sahut ibu.

Syailendra mengambil centong kuah dan mencelupkan pada mangkok sup untuk memastikan potongan ayam. Benar saja tidak ada daging ayam di dalamnya. “Tidak ada ibu, ayamnya tidak sedang tidur.” Sambung Syailendra.

“Hanya irisan wartel dan kentang yang menyelam,” ujar Erlangga.

 “Ayamnya masih pergi, bersabarlah, Anakku.”

“Yaaahh!” Kesal Srikandi.

“Daging ayam itu merupakan sumber protein yang baik kau tau Er?!” ujar Syailendra dengan nada agak nyaring namun tetap tenang.

“Kaldu dari lemaknya juga baik.” Lanjut Syailendra pada adik-adiknya.

“Daging ayam tinggi akan kandungan protein sehingga bisa membangun ototmu supaya jadi lebih kuat. Jadi kita lebih banyak mengangkut kayu bakar di hutan.” Syailendra melanjutkan.

Kail harapan mereka tak terpaut. Tergesa-gesa mereka mengakhiri riwayat sup itu. Terburu-buru mengambil bagian masing-masing. Tergesa-gesa menyantap hidangan di depan wajahnya. Mereka tampak bergegas, mempersiapkan buku dan alat tulis.

Malam ini dan malam-malam berikutnya, tetap dengan yang sama. Tidak ada yang berbeda. Malam ini di rumah akan ada sup dengan irisan lobak dan mentimun. Tak ada harum daging meyeringai.

Pagi berikutnya,  di atas lantai papan rumahnya Erlangga mencium harum sup yang berbeda. Harumnya syarat kental dengan bau kaldu daging putih. Erlangga memutar tubuhnya, memandang ke arah dapur. Dingin yang berat ini akan segera membangkitkan kehangatan. Seperti kehangatan yang sudah pernah mereka rasakan sebelum ayah pergi meninggalkan nama di batu nisan.

Mereka saling berdekatan menerima kematian ayah dengan kehangatan. Menganggap ayah masih tetap bersemayam dalam kehangatan keluarga.

Namun Syailendra masih tegak dalam diam. Saat Srikandi dan Erlangga menyantap sup buatan ibunya. Erlangga memanggil dan mengajaknya. Ibu tersenyum tawar pada putra sulungnya itu. Ibu menyuguhkan tiga mangkok sup di atas meja.

Tanpa  membalas senyuman ibu Syailendra duduk dan memakan sup buatan ibunya. Memang tidak banyak daging, tapi sudah cukup membuat harum daging menyeringai di rongga hidung.

Syailendra masih berpikir heran, dari mana ibu mendapatkan daging ? dari mana ibu mendapatkan uang untuk membeli ? apa mungkin ibu menangkap ayam hutan ? tapi mengapa dagingnya tak begitu banyak ?.

Namun dari keheranannya Syailendra tak berani menanyakan pada ibu. Ia ingin tau sendiri dari mana ibu dapatkan daging itu. Ketika hendak ingin pamit berangkat sekolah wajah ibu sesekali terlihat menahan perih.

Syailendra pulang lebih awal dari sebelumnya. Terdengar suara merintih kesakitan. Suara yang ia kenal. Suara itu bersumber dari arah dapur. Keherannan Syailendra terjawab, ia terjatuh ke lantai sambil tergurai air mata mana kala ia melihat ibu memotong daging pahanya dan merebusnya. Tak kuasa berdiri ia berjalan melata menempelkan perut ke lantai papan dan memeluk ibunya.

Malihatun Nikmah lahir di Sumenep 29 Desember 1996. Telah menyelesaikan Pendidikan Sarjana di IAIN Madura. Jurusan Tarbiyah, Prodi Tadris Bahasa Indonesia. Penulis menulis puisi, cerpen, opini dan reportase. Memiliki alamat IG ;@malihatun_nikmah99.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *