(copyright : https://design.tutsplus.com/id/tutorials/how-to-draw-ears–cms-31011)

Cerpen kerbaindonesia.id edisi 8 Nopember 2020

Mahan Jamil Hudani

Lelaki itu tersentak, serasa tak percaya. Ia kucek sepasang matanya berkali-kali. Di dalam kamarnya ia melihat telinga-telinga beterbangan. Jumlahnya ada beberapa pasang. Ia perhatikan dengan baik. Ia seperti kenal dengan telinga-telinga itu meski ada sebagian pasang telinga itu tertutup rapi dalam balutan kain. 

Sering lelaki itu merasa hidupnya telah sempurna. Bukan berarti ia telah mendapatkan segalanya atau kesuksesan yang besar dalam hidupnya, justru sebaliknya. Ia mengalami banyak kegagalan baik dalam pendidikan, rumah tangga, pekerjaan dan karir. Itulah yang membuatnya merasa hidupnya telah sempurna. Itu sekadar cara untuk membuat dirinya sendiri berbahagia. Dan ia memang menjalani hidupnya dengan bahagia.

Ia gagal dalam pendidikan sebagaimana yang diharapkan orangtua dan keluarganya, juga oleh sebagian sahabatnya. Sampai usianya menapaki lebih kepala empat, ia belum mampu menyelesaikan pendidikan sarjananya. Bukan berarti ia tak berusaha untuk pergi ke kampus dan menyelesaikannya. Ia bahkan telah beberapa kali masuk dan menjadi mahasiswa di perguruan tinggi, tiga atau empat kali, namun ia selalu gagal dan gagal. Bukan berarti orangtua dan keluarga tak mendukungnya secara finansial, bahkan mereka begitu peduli dan selalu membantunya.

Ia gagal dalam pekerjaan dan karirnya. Ketika teman-temannya telah mencapai kesuksesan dan menduduki posisi dan jabatan yang bagus di kantor atau perusahaan, lelaki itu masih seperti dulu, bekerja serabutan dan apa adanya. Ia pernah menjadi tenaga administrasi, bagian pemasaran di sebuah perusahaan, penulis lepas di media baik cetak atau daring, atau menjadi seorang penerjemah lepas karena ia memiliki kecakapan yang baik dalam bahasa asing. Tapi karena ia tak memiliki ijazah sarjana, ia tak pernah diangkat sebagai karyawan tetap dan memiliki posisi yang bagus. Kalau toh mungkin bisa naik pangkat, pastilah gaji yang ia terima juga tak besar karena perusahaan dan lembaga tempat ia bekerja bukan perusahaan besar. Ia juga pernah mengajar ekstrakulikuler bahasa dan jurnalistik di beberapa sekolah meski bukan sekolah ternama hingga honor yang ia terima tak begitu besar dan hidupnya sering mengalami kekurangan dan ia sering menahan rasa lapar yang ia sembunyikan dari orang-orang.

Adiknya yang bekerja sebagai tenaga kerja di luar negeri sebagai pengasuh bagi usia lanjut sering membantunya. Lelaki itu sering merasa malu dan terharu pada kebaikan dan pertolongan adiknya yang sering merasa iba pada perjalanan nasibnya. Terkadang orang tuanya juga mengiriminya sejumlah uang meski sesungguhnya lelaki itu ingin benar-benar bisa hidup mandiri dan tidak ingin merepotkan siapapun. Ia akan berkata pada keluarganya bahwa semua baik-baik saja.

Lelaki itu juga pernah menikah dua kali. Dan semua berakhir dengan kegagalan. Faktor utama tentu adalah persoalan ekonomi. Kedua istrinya pergi meninggalkannya dan kembali kepada orangtua mereka karena tak sanggup hidup kekurangan bersamanya. Dua kali rumah tangganya gagal hanya dalam hitungan minggu, masa singkat yang sesungguhnya serasa tak masuk akal padahal keluarga lelaki itu telah bersusah payah membiayai pernikahannya yang tentu saja menghabiskan biaya sangat besar.

Sering lelaki itu tak habis pikir jika merenungkan segala kegagalannya. Ia merasa telah berusaha sekuat mungkin untuk bisa menjadi lebih baik seperti saudara dan teman-temannya yang lain. Semakin keras ia berpikir, ia semakin bingung. Ia tak mendapatkan jawabannya. Ia memang jarang bercerita pada saudara dan keluarganya secara langsung karena ia sejak kecil hidup dalam perantauan. Komunikasi yang ia lakukan sering hanya melalui telepon, itupun jarang terjadi. Ia sering berusaha keras untuk tak menceritakan segala kegagalannya pada saudara dan keluarganya. Ia menutupinya sebisa mungkin walau pada akhirnya mereka akan tahu juga.

***

Sebagai seorang perantau, tentu ia juga memiliki banyak teman. Meski ia tipikal seorang pendiam dan jarang berkomunikasi dengan teman-temannya namun ia juga tak bisa disebut kurang berinteraksi. Pergaulannya cukup luas. Namun ia hanya tak suka saja berbicara hal atau urusan-urusan yang bersifat pribadi. Ia punya beberapa sahabat dekat yang cukup perhatian padanya. Sering bertanya tentang kabar dan keadaannya, beberapa sahabat yang juga senang mendengarkan kisah-kisahnya yang beragam tentang banyak persoalan – namun sekali lagi, bukan hal pribadi – padahal betapa ingin ia bisa mencurahkan segala beban batinnya yang terkadang terasa menghimpit dan menyesakkan dadanya. Bahkan ia kadang merasa ada batu sebesar gunung yang menindih dadanya.

“Apa kabar Mas Pri? Ada cerita apa nih hari ini? Bagaimana nih pendapat Mas Pri tentang perkembangan politik dan ekonomi negeri kita?” Ada begitu banyak pertanyaan dan perhatian dari sahabat-sahabatnya yang kemudian dengan khusu’ akan menyimak segala tuturannya. Lelaki itu sering menganggap mereka adalah orang-orang baik. Ia sering mengingat mereka, Pak Yusri yang tenang, sabar, dan bijaksana, Bu Ilhamna yang sering bertanya keadaannya, Bu Fifi yang kadang berbicara pedas namun cerdas, Pak Heri Amzori yang selalu ceria dan tangguh, Pilo Syaifullah yang tegas, kritis, serta sering mengritiknya tapi sering membantunya soal keuangan – bukan sebagai pinjaman – Iman, Tata, dan masih banyak nama lagi yang ia ingat dengan baik dan rasa hormat.

***

Dalam kesendiriannya, di ruang kontrakannya, lelaki itu sering termenung memikirkan semua masalah hidupnya. Ia ingin mencurahkan segala beban batinnya, namun semua seperti berhenti di tenggorokannya. Selalu seperti itu, dadanya begitu sesak. Ruang kontrakannya memang tak begitu luas, namun tak juga bisa dibilang sempit, namun lelaki itu merasa pengap. Ia ingin bisa menumpahkan semuanya namun entah pada siapa. Dulu ia berpikir, ketika ia memiliki istri, ia bisa menghadapi hidup ini bersama-sama. Berbagi suka duka dan meraih cita bersama. Namun kenyataannya, justru ia mengalami hal sebaliknya. Tapi ia berusaha tak menyalahkan siapa-siapa kecuali dirinya sendiri saja.

Saat lelaki itu hampir merasa putus asa dan tak kuat lagi menanggung beban hidupnya, suatu hal luar biasa terjadi. Ia sering melihat telinga-telinga beterbangan di kamarnya. Telinga-telinga itu lalu diam tak bergerak, berkeliling di sekitarnya. Pada mulanya lelaki itu hanya diam menatapi telinga-telinga itu. Ia tak berbicara sepatah katapun, dan telinga-telinga itu tetap tenang tak bergerak, tak melayang-layang lagi, kecuali sedikit saja daun telinga-telinga itu bergerak-gerak namun tetap pada posisinya. Hingga beberapa jenak akhirnya telinga-telinga itu menghilang.

Di lain waktu berikutnya, ketika lelaki itu merasakan dadanya begitu sesak dan ingin bisa menumpahkannya, ia melihat lagi telinga-telinga beterbangan sebelum akhirnya diam tak bergerak berkeliling di sekitarnya seperti tempo lalu. Ia menyapanya, daun telinga-telinga itu bergerak seperti menanggapi sapaannya. Lelaki itu mulai sedikit berkata-kata pada telinga-telinga itu, dan mereka seakan memberi respon karena terlihat bergerak.

Beberapa kali hal itu terjadi, telinga-telinga itu beterbangan di dalam kamarnya. Lelaki itu memerhatikan jika telinga-telinga itu datang ketika lelaki itu merasakan dadanya sesak luar biasa. Telinga-telinga itu berkumpul seakan bersiap mendengar ceritanya. Ia mulai menandai telinga-telinga itu, ia seperti merasa tak asing dengan mereka. Benar, ia kenal sekali dengan telinga-telinga itu walau sebagian telinga-telinga itu tertutup dalam balutan kain dan sebagiannya tidak.

“Hai Pak Yusri, Pak Heri, Pilo, Tata!” Lelaki itu mulai menyebut dan memanggil nama-nama telinga itu, jumlah pasang telinga itu cukup banyak. Setiap kali ia menyebut nama, telinga-telinga itu menggerak-gerakkan daunnya seakan membalas sapaan lelaki itu hingga akhirnya lelaki itu hapal satu persatu pemilik telinga-telinga itu.

Lelaki itu mulai bisa bercerita dengan telinga-telinga itu. Mereka selalu mendengar dan meresponnya dengan cara bergerak-gerak sedikit, tetap dalam posisinya meski tetap mengawang-awang. Setiap kali dadanya terasa sesak akibat beban yang ditanggungnya, dan telinga-telinga itu beterbangan dan melayang-layang di kamarnya, lelaki itu kini menjadi akrab dengan mereka.

Ia menumpahkan semua beban dan masalah pribadinya pada telinga-telinga itu. Ia bercerita lepas meluapkan semua yang tak pernah bisa ia ceritakan pada orang-orang yang perhatian dan menyayanginya. Semua yang dipendamnya dan ia tutupi ia tumpahkan habis di dalam kamarnya. Telinga-telinga itu telah menjelma menjadi sahabat-sahabatnya yang tak pernah bosan mendengar segala kesuh kesahnya sebelum akhirnya terbang menghilang saat lelaki itu telah habis menceritakan semuanya.

Beberapa waktu belakangan ini, lelaki itu tak pernah lagi melihat telinga-telinga itu beterbangan dan melayang-layang di kamarnya. Bibir lelaki itu menyebut nama-nama, namun tak pernah muncul lagi telinga-telinga itu. Ia merasa kehilangan dan rindu yang luar biasa pada telinga-telinga itu. Ia sering menunggu dengan penuh penantian tapi yang dinantinya tak kunjung tiba jua. Meski begitu, lelaki itu kini merasa ada yang aneh yang ia rasakan. Dadanya kini tak pernah lagi merasa sesak. Meski ia merasakan rindu pada telinga-telinga yang kini telah menghilang tersebut, namun ia merasakan ketenangan yang luar biasa di kamarnya, di kontrakannya, di tempat kerjanya, dan dalam hidupnya. Bahkan ia seperti telah tahu kenapa ia gagal.

Kini lelaki itu ingin membiarkan sepasang telinganya terbang, mendengarkan cerita orang-orang, sahabat, dan keluarganya.***  

Mahan Jamil Hudani adalah nama pena dari Mahrus Prihany, lahir di Peninjauan, Lampung Utara, pada 17 April 1977. Saat ini bergiat di Komunitas Sastra Indonesia Tangerang (KSI). Kini juga sebagai kepala sekretariat Lembaga Literasi Indonesia (LLI), serta sebagai Redpel di portal sastra Litera.co.id. Karyanya termuat di sejumlah media massa seperti Fajar Makassar, Batam Pos, Riau Pos, Lampung Pos, Sumut Pos, Bangka Pos, Solopos, Tanjungpinang Pos, Pontianak Pos, Medan Pos, Analisa Medan, SKH Amanah, Bhirawa Surabaya, Haluan Padang, Rakyat Sumbar, Magelang Ekspress, Palembang Ekspress, Padang Ekspress, Radar Bromo, Radar Mojokerto, Lampung News, Cakra Bangsa, Majalah Semesta, Majalah Mutiara Banten, maarifnujateng.or.id, Kabar Priangan, dan Rakyat Sultra. Kumpulan cerpen tunggalnya yang telah terbit adalah Raliatri (2016) dan Seseorang yang Menunggu di Simpang Bunglai (2019).
23 thoughts on “Telinga-Telinga yang Beterbangan”
  1. Hiya! I just want to give an enormous thumbs up for the nice information you might have right here on this post. I shall be coming again to your weblog for extra soon.

  2. Hey very cool blog!! Man .. Excellent .. Amazing .. I’ll bookmark your site and take the feeds also…I’m happy to find a lot of useful info here in the post, we need develop more strategies in this regard, thanks for sharing. . . . . .

  3. Great ?V I should definitely pronounce, impressed with your website. I had no trouble navigating through all the tabs as well as related information ended up being truly simple to do to access. I recently found what I hoped for before you know it at all. Quite unusual. Is likely to appreciate it for those who add forums or anything, site theme . a tones way for your customer to communicate. Excellent task..

  4. Thanks for the sensible critique. Me & my neighbor were just preparing to do some research about this. We got a grab a book from our area library but I think I learned more clear from this post. I am very glad to see such fantastic info being shared freely out there.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *