Oleh: Hamdan Hamidin (Mahasiswa Unismuh Makassar)

Hamdan, Mahasiswa Unismuh Makassar.

karebaindonesia.id – Berangkat dari sebuah pilihan, saya sebagai seorang anak yang harus bisa berbakti terhadap orang tua sangat sulit ketika di hadapkan dengan dua hal, Memilih jalan yang sesuai dengan isi hati dan potensi serta pilihan orang tua yang memilih jalan untuk anaknya demi kebahagiaannya. Nah, jika kalian dalam posisi yang demikian kalian pastinya akan sangat sulit untuk memilih mana yang terbaik apalagi kita sering mendengarkan kata ridho Allah tergantung dari ridho kedua orang tua. Nah ini yang menjadikan dalih untuk memperkuat pandangan orang tua bahwa Semua yang menjadi ketetapan yang berpangkat dari pilihannya pasti akan berbuah manis.

Eitss tunggu dulu ! Bagi saya sih, memang pantas kita wajib patuh terhadap orang tua namun perlu juga kita ketahui bahwa semua hidup yang kita jalani itu akan senantiasa beriringan dengan segala potensi yang kita miliki. dan sebetulnya bisa kita ikuti pilihan orang tua sekalipun tak sesuai dengan basic atau potensi kita, yaa hanya saja butuh intensitas dan rasa cinta di dalamnya. Namun bagi saya cinta itu tak hadir dalam bentuk pilihan dan terjemahan orang lain namun cinta itu lahir dari kenyamanan. Yaa kalau kita nyaman dan merasa aman dengan sesuatu maka itulah cinta yang sesungguhnya bagi saya. Loh kok bahas cinta, entar salah paham hahahaha. Ya jadi bagi saya cinta itu tidak lahir dari
pilihan orang lain bahkan ketika orang lainnya itu adalah orang terdekat kita. Namun ketika diberikan pilihan seperti itu kita bisa berpotensi untuk mencintai namun bagi saya cinta itu hadir tanpa kita paksakan dengan intens. Tuhan pun yang tanpa kita minta untuk di cintai maka yakin dan percaya tuhan akan selalu berada dalam zona cinta itu dengan segala bentuk kenikmatan yang di anugrahkan kepada kita semua sebagai seorang hamba. Contohnya saja kalau kita melihat seorang bayi yang baru lahir di dunia. Jangankan memohon kepada Tuhannya untuk di cintai, Definisi dari kata Cinta pun ia tak tahu apa maksud dan tafsirannya.

Coba deh kalian bayangkan, Kalau kamu punya potensi jadi orang yang mungkin saja akan kaya raya lewat keahlianmu dalam bidang wirausaha tapi orang tuamu lebih bahagia ketika melihat anaknya menjadi seorang Aparat kepolisian dengan kegagahannya ketika mengenakan pakaian istimewanya, dengan keberaniannya lewat suara lantangnya. Ayo Coba bayangkan seorang otak pebisnis jadi seorang polisi??? Upss, yaa cuman suruh bayangin aja, gak ada kok di dunia nyata. Loh kok senyam senyum? Emang ada? Dahlahh….

Emang sulit yaa, di satu sisi kita harus bahagiakan orang tua tapi di sisi lain kita juga harus bahagiakan diri sendiri. Udah sob, itu hanya sebuah jebakan Kok. Kita pasti akan mampu bahagiakan orang tua kita dengan cara kita sendiri, Niatkan dan yakinkan saja dirimu pasti kalian akan mampu melihat orang tuamu bangga atas pencapaianmu. Coba kita liat sob, konsep bahagia enak itu di awal atau di akhir sih? Ya kalau Menurut saya bahagia yang sesungguhnya itu bahagia di akhir, Kalau kita bahagia di awal terus akhirnya suram kan sakit men, hahaha bakalan nyesel seumur hidup. Makanya kalau mau melihat orang tuamu bahagia selamanya Kuatkan tekadmu jalankan misimu, lewati palang egosentris mu, kemudian bangun perisai Optimismu. Yakin saja kamu akan mampu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *