Cerpen karebaindonesia.id edisi 20 September 2020

Aflaha Rizal

Tokoh antagonis itu memilih istirahat dari jadwal syutingnya, sebagai pemain sinetron yang selalu masuk TV setiap hari. Betapa susahnya ia mendapat izin cuti dari sang sutradara dan juga manajernya. Cuti adalah impian lelaki itu, yang selalu mendapat peran antagonis. Setelah pulang dari syuting dan telah dilakoni selama tujuh tahun lebih, ia selalu mengeluh di kamar seorang diri. “Dari awal berkarier, aku tidak pernah mendapat peran seseorang yang baik dan beruntung. Selalu jahat dan menindas siapapun yang lemah.” Jika kau menatap mata lelaki itu yang bernama Herman Congor (karena ia suka nyerocos bahkan saat menindas pemain karakternya), tergambar jelas keluhan itu seperti tiada semangat hidup.

Ini adalah hari terakhir syutingnya dan meminta diri untuk istirahat. Herman Congor meminta istirahat dalam dua bulan. “Gila kamu!” gertak Sutradara. “Peran kau ini berpengaruh di sinetron ini. Kau tahu tidak, banyak orang-orang kesal sama tokoh sepertimu. Dan ini bagus untuk menaikkan jumlah penonton dan keuntungan produksi. Kau malah minta istirahat.” Ucapan sang Sutradara dan balasan Herman Congor beralih menjadi berdebat kusir, persis seperti dalam karakter itu, ketika marah dan menindas lewat ucapannya saat sinetron tengah berlangsung tayang. Ia juga mendapat pesan banyak dari orang-orang yang menonton karakternya, yang penuh kebencian daripada pujian.

Maka ini saatnya bagi Herman Congor untuk istirahat, dan hidup dengan uang tabungan selama hasil dari syuting. Memang, selama bekerja sebagai seni peran yang memainkan tokoh karakter cerita sinetron, bayaran tinggi selalu ia dapatkan setiap hari. Bahkan ia tabung dan telah menumpuk seperti investasi yang bisa membangun bisnis. Namun Herman Congor belum mendapat rencana tentang bisnis, selain berternak sapi. Ia hanya ingin istirahat atau pergi liburan, dan tidak kembali ke lokasi syuting itu lagi. Biarkan ia lenyap di antara orang-orang yang kesal dengan perannya. Biarkan hanya namanya yang lenyap, dan dirindukan suatu saat nanti.


***

Permintaan istirahat ini membuat para sutradara dan penulis skenario pusing. Sebagai penulis cerita dan jalannya sebuah cerita sinetron, peran Herman Congor berpengaruh di tiap cerita. Bahkan ketika antagonis dan kejahatan itu tiba pada perannya. Namun, batin Herman Congor kerap kali terganggu. Orang-orang selalu datang dan menerornya dengan pesan, “Suatu saat akan kubunuh orang seperti kau. Tak pantas kau hidup di muka bumi ini anjing!”

Ia sudah menjelaskan berkali-kali bahwa peran itu hanyalah peran fiksi belaka. Di dunia nyata, ia amat baik dengan siapapun yang ia temui, bahkan orang asing sekalipun. Saat peran Herman Congor mati terbunuh sebagai balas dendam orang atas perbuatannya, ia menonton di kamarnya sendiri. Betapa kematiannya lumayan menderita, mati dilindas mobil dari peran orang baik yang mulai balas dendam sebagai perannya yang terakhir. Dan orang-orang, sudah pasti senang akan kematian peran antagonis itu. Mereka akan mengumpat bebas tentang tokoh antagonis itu yang mati, seperti mampus kau! Mampus!

Berharap suatu hari kelak dari pensiun-nya, ia berternak sapi dan memeliharanya di sebuah desa sepi yang jauh dari kota ramai.  Namun di halaman belakang itu, terdapat halaman luas di rumahnya. Tepat bila halaman belakang itu ia bangun kandang sapi untuk berternak di sana. “Betapa tampannya aku,” puji Herman Congor sendiri. Ya, meski mendapat peran jahat, ketampanan Herman Congor disukai banyak para wanita, bahkan wanita janda yang haus akan belaian lelaki sekalipun. Dengan kedua mata yang indah, rahang yang mengeras, tiada bentuk buruk menyertai rupanya. Tetap tampan dan dicintai para wanita.

Kedamaian telah menyelimuti tubuhnya, dengan tabungan cukup selama ia hidup. Betapa ia tak ingin kembali menjadi peran antagonis, dan hidup sebagaimana manusia biasa, dengan makanan alam yang tumbuh. Juga sapi-sapi yang ia bayangkan di kandang, seperti memanggilnya untuk berternak.


***

Pintu rumah diketuk di jam pagi hari. Segera Herman Congor menghampiri pintu ketika sedang menikmati sarapan paginya, lalu membuka pintu dan tampak seorang wanita di sana. Ia tersenyum, lalu melihat isi yang tertulis di kertas itu. “Apa benar ini rumah Mas Herman Congor? Maaf, bukannya aku tak sopan. Tapi biasanya memang itu, kan, Herman Congor di TV?” Ia tidak tahu wanita siapa ini, dan berasal darimana ia yang datang ke rumahnya? Ketika bekerja dan hidup sebagai peran bidang hiburan, tak pernah ia menjumpai seseorang yang berkunjung ke rumahnya. Selain manajer dan tim yang mau membuat film dan rapat di rumahnya.

Kali ini, wanita itu tersenyum. “Aku baru pertama kali tahu dan mencari rumah Mas Herman Congor.”

“Ya, ada apa ya?”

“Tidak, aku hanya ingin bertemu.”

“Kau mau bertemu denganku?”

Wanita itu mengangguk berkali-kali, sebagai sebuah ketegasan dan tiada anggukan kepalanya lagi. Maka Herman Congor menyilakannya masuk, duduk di ruang tamu, dan menunggu minuman hangat dari dapur. Saat perjamuan tiba, Herman Congor menatap wanita yang di depannya. Pakaian tanpa lengan, sehingga menampakkan kulit lengan itu yang putih, dan kecantikannya yang terpancar. Apakah wanita yang ada di depannya yang datang ke rumah ini adalah seorang model?

“Oh bukan, aku bukan model. Aku wanita biasa dan pekerja kantor,” ketika Herman Congor bertanya mengenai dirinya dan dugaannya, wanita itu segera menjawab cepat. “Kita belum mengenal, sungguh aku penggemarmu. Namaku Dias.” Jabatan tangan itu tergenggam dengan tangan Herman Congor. Wanita itu kembali tersenyum, sebab wajah tampan itu berada di hadapannya.

“Sungguh, aku terima kasih kepadamu bila kau sudi dan mau main ke rumahku,” berkata Herman Congor.

“Terima kasih kembali. Aku siap jika ada sesuatu yang mau kau minta, atau kau perlukan di rumah ini.”

Herman Congor berpikir, “Apa maksudmu?”

“Apapun.”

“Kau mau melamar menjadi pembantu rumah ini?”

“Bisa jadi, kalau memang itu, aku bisa keluar dari pekerjaan kantorku.”

Kehidupan menuntunnya begitu banyak, tetapi ia tahu, ia belum punya istri bahkan anak sekalipun. Betapa hidup membuatnya terhimpit ranting yang hanyut di sungai deras. Ia selalu memikirkan wajah siapa yang menjadi istrinya kelak. Namun semua tidak terwujud, ia belum menikah dan belum tahu bagaimana rasanya bercinta. Jika di rumah dan pulang dari syutingnya, ia selalu beronani sambil membayangkan lawan pemain wanita yang bertubuh molek itu. Juga menyebut namanya berkali-kali hingga orgasme.

“Jika mengizinkan, aku ingin menginap, sekaligus menatap idolaku lebih dekat.” Perkataan wanita itu membuat Herman Congor tak bisa menjawabnya, hanya terdiam di tempat dengan ruang tamu sunyinya.

***

Barangkali ia tidak akan onani dan membayangkan wajah lawan pemainnya itu lagi, yang bernama Audrey dengan rambut pirangnya dan bertubuh molek itu. Ia tahu, ketika wanita itu datang ke rumahnya tanpa suatu alasan dengan tiba-tiba, ia memanggil wanita itu untuk tidur satu ranjang. “Aku mau,” jawab Dias. Entah memang wajah itu polos, atau memang menginginkan lebih dekat dengan tokoh antagonisnya itu. Kamar yang telah dipadamkan lampunya mulai gelap. Dias tidur di sebelah Herman Congor dan saling berdiam diri.

“Aku kira di dunia nyata kau bisa jahat seperti yang aku lihat di sinetron,” kata Dias. Ia selalu mengingat adegan antagonis Herman Congor pada saat membuat dugaan fitnah hingga orang itu tertindas habis-habisan dan sulit mendapatkan bukti. Herman Congor yang mendengar itu, mendesis, “Persetan! Aku selalu diteror orang yang tidak suka dengan peranku itu.”

“Seperti?”

“Aku pernah mau makan di pinggir jalan. Tiba-tiba badanku dipukul dengan keras hingga jatuh. Aku mengerang kesakitan, tetapi aku melihat wajah orang itu. Seorang pemuda.”

“Aku tak menyangka, betapa bahayanya peranmu itu hingga mengundang teror. Persis seorang demonstran yang ingin bersuara dan dihilangkan oleh suruhan tangan penguasa.”

Tidak lama kemudian, Herman Congor menatap wajah Dias. Betapa cantiknya wanita ini. Seolah ia datang dari tangan Tuhan, sebagaimana yang dikatakan jodoh ada di tangan Tuhan. “Aku ingin bercinta. Aku belum pernah seumur hidup bercinta dan saling telanjang tanpa kain.”

Wanita itu setengah berpikir, ia tatap wajah Herman Congor yang menginginkan sesuatu darinya. “Apakah itu sebuah permintaan?”

“Ya, itu permintaan dariku. Bukankah kau memang mau di sini dan melakukan sesuatu di rumah ini yang kubutuhkan?” Herman Congor tidak lupa atas perkataan wanita ini yang datang ke rumahnya. Dias tampak berpikir, namun memilih diam, ketika perlahan Herman Congor merebut bibir tipisnya itu untuk dikecup. Kedua mata itu terpejam, di antara sunyi kamar yang menggelap.

Permainan lekas berganti, Herman Congor dan Dias saling melepas kain yang melekat di tubuhnya dan telanjang. Seperti manusia pertama yang hidup di bumi, belum memiliki kain dan masih telanjang. Pergumulan demi pergumulan saling berpaut, keduanya sama-sama mendesah, terpejam di tengah kegelapan kamar Herman Congor.

***

Herman Congor tersenyum puas. Selama pulas tertidur dan tubuh tanpa tertutup selimut, ia terus mengukir senyum bagai sebuah kepuasan hidup yang tak mau ada yang harus ia kejar lagi. Kepuasan sudah ia dapatkan, yaitu bercinta dengan wanita yang menjadi idolanya, yang pertama kali datang ke rumahnya. “Kau tahu, aku mendapatkan alamat rumahmu dari seorang pekerja film di kantor tempat kau bermain. Aku ingin tahu di mana aku bisa bertemu dengan tokoh antagonis favoritku.” Ucap Dias yang mengelus rambut Herman Congor dengan senyumnya itu. Pertanda kepuasan tergambar di sana. “Saat di kantor, orang-orang mengatakan bahwa kau cuti dan tidak bermain sinetron dulu. Lalu aku berusaha meminta alamat dan menyamar sebagai adik jauhmu.”

Saat mencapai puncak, Dias tenggelam pada tubuh lelaki itu yang menindihnya. Ketika senyum Herman Congor masih terukir, ia terus berkata. “Apa kau mendengar apa yang aku katakan tadi kepadamu?” tidak ada jawaban apa-apa selain senyum itu, dengan tangan halusnya yang mengelus wajah tampannya. “Kau begitu tampan, aku jatuh cinta. Bolehkah aku jatuh cinta kepada idolaku sendiri? Bolehkah aku menjadi bagian hidupmu lebih dari sekadar tokoh antagonis dalam sinetron?”

Sekali lagi, ia tatap wajah tampan Herman Congor itu. Tokoh antagonis yang tersenyum setelah bercinta. “Halo Mas Herman, halo!” panggil wanita itu pelan. Herman Congor tersenyum tanpa bernapas lagi.   

Bogor, 2019   

Afkaha Rizal atau lengkapnya Aflaha Rizal Bahtiar, lahir di Bogor, 26 Agustus 1997. Karya yang telah diterbitkan berupa kumpulan cerpen secara indie: Cuaca Sama (2016), Cuaca Sama II (2017) dan buku puisi terbarunya tahun ini, Kenangan Tidak Terbuka (Kuncup, 2019). Puisi yang lain masuk pada antologi dan media online. Dan pernah terbit di Radar Selatan (2019), Koran Tempo (2019), dan Majalah Mata Puisi (2020). Juga pernah diundang di Festival Sastra Bengkulu 2019 sebagai penulis puisi terbaik. Antologi terbarunya masuk dengan judul Seperti Belanda (2020), bunga rampai puisi mengenang Aceh. Instagram: @Aflaha.rizal; Twitter: @aflaha_meteora; Medium: Aflaharizal87

13 thoughts on “Tokoh Antagonis yang Mati Setelah Bercinta”
  1. Greetings I am so grateful I found your site, I really found you by accident,
    while I was researching on Yahoo for something else,
    Regardless I am here now and would just like to say thank you for
    a tremendous post and a all round thrilling blog (I also
    love the theme/design), I don’t have time to look
    over it all at the minute but I have book-marked it and also
    added in your RSS feeds, so when I have time I will be back to
    read much more, Please do keep up the excellent
    b. asmr 0mniartist

  2. It’s in fact very difficult in this busy
    life to listen news on Television, therefore I only use internet for that purpose,
    and obtain the most up-to-date news. asmr 0mniartist

  3. Woah! I’m really digging the template/theme of this website.
    It’s simple, yet effective. A lot of times it’s difficult to get that “perfect balance” between superb usability
    and appearance. I must say you’ve done a great job with this.
    Additionally, the blog loads extremely fast for me on Firefox.

    Excellent Blog!

  4. Excellent beat ! I wish to apprentice while you amend your
    site, how can i subscribe for a blog website? The account helped me a
    acceptable deal. I had been a little bit acquainted of this your broadcast offered bright
    clear idea

  5. Today, I went to the beach with my children. I found
    a sea shell and gave it to my 4 year old daughter
    and said “You can hear the ocean if you put this to your ear.” She placed the shell to her ear and screamed.
    There was a hermit crab inside and it pinched her
    ear. She never wants to go back! LoL I know this is entirely off topic but I had to tell someone!

  6. Someone necessarily lend a hand to make significantly posts I’d state.

    That is the very first time I frequented your website page and thus far?

    I amazed with the research you made to create this actual put up amazing.
    Excellent task!

  7. Wow, fantastic blog format! How lengthy have you ever
    been blogging for? you make running a blog glance easy.

    The whole glance of your site is great, let alone the content material!

  8. Spot on with this write-up, I seriously believe
    that this website needs a great deal more attention. I’ll
    probably be returning to read more, thanks for
    the info!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *